Foto ini memperlihatkan bayi kambing dengan anomali janin -- tidak ditemukan DNA manusia di tubuhnya

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Foto yang menunjukkan makhluk berbulu coklat muda telah dibagikan ribuan kali di Facebook dengan klaim yang menyatakan itu adalah foto seorang anak yang dikutuk menjadi “domba berkepala anjing”. Klaim itu salah: foto tersebut dibagikan dalam konteks yang menyesatkan karena sebenarnya menunjukkan bayi kambing dengan anomali janin dan tidak ditemukan DNA manusia di tubuhnya. 

Foto tersebut muncul di Facebook di sini pada tanggal 28 Oktober 2019 dan telah dibagikan lebih dari 2.100 kali.

Status unggahan itu berbunyi: “JANGAN LUPA KLIK JEMPOL DIATAS YAAAA..

“Anak ini dikutuk menjadi domba berkepala anjing karena durhaka kepada orang tuanya. Sempatkan ketik amin dan share agar kita dijauhkan dari azab seperti ini.”

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Foto tersebut telah beredar di Facebook sejak tahun 2017 dengan klaim serupa yang bisa dilihat di sini, di sini dan di sini, di mana foto itu telah dibagikan lebih dari 2.200 kali. 

Klaim itu salah. Foto tersebut dibagikan dalam konteks yang menyesatkan karena sebenarnya menunjukkan bayi kambing dengan anomali janin dan tidak ditemukan DNA manusia di tubuhnya. 

Pencarian gambar terbalik di Google diikuti dengan pencarian kata kunci menemukan foto di unggahan menyesatkan itu diunggah di sini di grup Facebook Malaysia bernama Orang Kota Tinggi pada tanggal 23 April 2016. 

 

Diterjemahkan dari bahasa Malaysia ke bahasa Indonesia, keterangan foto itu berbunyi: “Anak kambing yang dilahirkan oleh ibunya tidak mirip seekor kambing dia terlihat seperti kucing dengan rupa manusia. Kejadian ini terjadi di Kampung Felda Sungai Mas Blok 8 Kota Tinggi Johor.. Milik Pak Berahim.. Anak kambing ini dilahirkan pada hari Jumat jam 12 siang.
Kredit foto: Saudari Nurul”.  

Kota Tinggi adalah ibu kota Distrik Kota Tinggi, di negara bagian Johor, Malaysia.  

The Strait Times, surat kabar yang berbasis di Singapura, menerbitkan ulang laporan harian Malaysia The Star tentang bayi kambing tersebut pada tanggal 25 April 2016 di sini.

Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, laporan yang diterbitkan The Straits Times itu berjudul: “Bangkai bayi kambing yang terlihat seperti bayi manusia diserahkan ke pihak berwenang Malaysia.” 

Tiga paragraf pertama laporan itu berbunyi: “Bangkai bayi kambing, yang dilaporkan menyerupai bayi manusia, telah diserahkan ke Departemen Layanan Veteriner Malaysia.

“Bayi kambing itu milik Ibrahim Basir, penduduk Felda Sungai Mas, yang menolak tawaran uang dari orang-orang yang tertarik untuk membeli bangkai bayi tersebut.”

“Sebaliknya, pria berusia 63 tahun itu memutuskan untuk menyerahkannya ke Departemen Layanan Veteriner untuk memungkinkan penyelidikan terhadap anak kambing yang memiliki rupa aneh tersebut.” 

Berikut tangkapan layar laporan di laman The Straits Times: 

Tangkapan layar laporan The Strait Times

Surat kabar Malaysia Harian Metro juga melaporkan tentang bayi kambing itu pada tanggal 24 April 2016 di sini.

Lebih dari dua minggu kemudian, Departemen Layanan Veteriner Malaysia mengadakan konferensi pers untuk mengonfirmasi bahwa tidak ada DNA manusia yang ditemukan pada bayi kambing tersebut. 

Surat kabar Malaysia, New Straits Times menerbitkan laporan ini pada tanggal 13 Mei 2016. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, judul laporan itu adalah: “Tidak ada DNA manusia yang ditemukan pada anak kambing dengan wajah mirip manusia, kata Departemen Veteriner.”

Empat paragraf pertama laporan itu berbunyi: “Tidak ada DNA manusia yang ditemukan pada bayi kambing yang lahir dengan wajah mirip manusia, kata Departemen Layanan Veteriner hari ini.

“Direktur jenderal departemen tersebut, Datuk Dr Kamarudin Md Isa, mengatakan departemen telah mengklasifikasikan kasus ini sebagai kelainan bawaan dan kelainan bentuk seperti itu pernah terjadi sebelumnya, bahkan di antara manusia.

Ini adalah kejadian yang jarang, kurang dari satu persen, tetapi masih bisa terjadi. Anak kambing itu mati saat dilahirkan berdasarkan tes yang kami lakukan pada paru-parunya, katanya kepada wartawan saat sesi dialog hari ini. 

“Dia mengatakan ada berbagai alasan mengapa anomali seperti itu terjadi selama tahap perkembangan janin, termasuk kurangnya nutrisi tertentu atau karena menderita infeksi.”

Laporan kantor berita negara Malaysia Bernama tentang konferensi pers tersebut bisa dibaca di sini.