Seorang pengunjung membeli petai di sebuah kios tepi jalan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 9 Juni 2020 ( AFP / Mohd Rasfan)

'Tak ada bukti klinis' bahwa petai dapat menyembuhkan kanker dan gangguan otot, kata pakar

Hak cipta AFP 2017-2021. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sejumlah unggahan Facebook membagikan klaim yang menyatakan bahwa petai adalah "obat yang terbukti melawan semua jenis kanker" dan gangguan otot. Klaim tersebut salah. Manfaat kesehatan yang disebutkan oleh klaim tersebut belum terbukti secara klinis, kata para ahli medis kepada AFP.

Klaim tersebut diunggah di sini pada tanggal 12 September 2021.

Teks panjang di unggahan tersebut menyatakan bahwa petai adalah "obat yang terbukti melawan semua jenis kanker" dan dapat menyembuhkan gangguan otot dan persendian, seperti sakit punggung dan nyeri lutut.  

Tangkapan layar unggahan yang menyesatkan, diambil pada tanggal 23 September 2021

Klaim tersebut, yang telah muncul di Facebook setidaknya sejak tahun 2018, telah dibagikan lebih dari 17,000 kali di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini

Akan tetapi, klaim tersebut salah. 

Tidak ada bukti ilmiah bahwa makan petai memiliki manfaat kesehatan seperti tertulis di klaim di Facebook, kata Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., pakar farmakologi di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. 

"Yang jelas bukti di manusia belum ada untuk efek itu. Kalaupun ada testimoni, belum jelas berapa banyak [petai yang] harus dimakan untuk menghasilkan efek-efek tersebut," ujar Zullies kepada AFP pada tanggal 22 September 2021. 

Ada beberapa "kemungkinan manfaat klinis" dari petai, namun hal-hal tersebut belum teruji untuk kemudian digolongkan sebagai bukti ilmiah, dr. Johanes Casay Chandrawinata MND, SpGK, spesialis gizi klinik di Rumah Sakit Ibu dan Anak Melinda, di Bandung, berkata kepada AFP pada tanggal 22 September 2021.

"Semua kemungkinan manfaat klinis tersebut baru dalam tahap hipotesa, penelitian di laboratorium pada hewan percobaan, dan penelitian retrospektif, yang melihat hubungan antara insidensi penyakit tertentu dengan konsumsi makanan tertentu, sehingga belum dapat dikategorikan sebagai bukti ilmiah bahwa konsumsi petai bermanfaat secara klinis," tambah beliau.