Postingan bagikan klaim salah bahwa foto NASA 'buktikan bulan pernah terbelah dua'

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 10/05/2022 pukul 10:49
  • Diperbarui pada hari 10/05/2022 pukul 11:36
  • Waktu baca 5 menit
  • Oleh: AFP Indonesia
Sebuah foto dari NASA yang memperlihatkan satu sisi permukaan bulan telah dibagikan di berbagai unggahan media sosial dengan klaim foto itu membuktikan bahwa bulan pernah terbelah menjadi dua bagian. Namun, klaim tersebut salah. Foto itu menunjukkan Rima Ariadaeus, yang menurut para ahli merupakan sistem sesar di bulan seperti yang biasa ditemukan di bumi. NASA telah membantah klaim tersebut dan mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa bulan pernah terbelah menjadi dua bagian atau lebih.

Foto tersebut salah satunya diunggah di sini di grup Facebook yang memiliki lebih dari 143.000 anggota pada tanggal 23 November 2018.

Foto itu memperlihatkan garis panjang yang mirip sebuah jalan sempit di atas permukaan bulan.

Keterangan foto pada unggahan itu tertulis: "itu foto dari NASA bahwa bulan pernah terbelah....
ini kehebatan Nabi Muhammad bisa membelah bulan.

"Jika kau cinta Nabi Muhammad kalian harus percaya NASA donk, jika kau tidak percaya NASA berarti tidak percaya adanya Nabi Muhammad."

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 9 Mei 2022

Foto yang sama juga telah diunggah di tempat lain dengan klaim yang mirip di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini; dan di YouTube di sini, di mana tayangannya telah ditonton lebih dari 5,4 juta kali.

Foto tersebut muncul dalam gambar kolase yang menyebarkan klaim serupa dalam postingan bahasa Inggris yang diunggah di sini pada tanggal 5 Agustus 2019. 

Postingan itu telah dibagikan lebih dari 260 kali. 

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan dalam Bahasa Inggris, diambil pada tanggal 3 Mei 2022

Judul foto kolase pada unggahan itu artinya: "KEAJAIBAN NABI MUHAMMAD SAW 'Terbelahnya Bulan'".

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, status Facebook tersebut berbunyi: "Alquran mengatakan...waktunya telah dekat, dan bulan pun terbelah [dua]....
Keajaiban itu juga dibuktikan oleh NASA..".

"Surah 54" pada status Facebook itu merujuk pada Surah Al-Qamar dalam Alquran. 

Foto kedua gambar kolase itu menunjukkan tiga antariksawan Amerika, yakni Neil Armstrong, Michael Collins dan Edwin "Buzz" Aldrin Jr., kru Apollo 11, misi pertama yang mendaratkan manusia di bulan pada bulan Juli tahun 1969.

Foto ketiga memperlihatkan dua gambar bulan setengah lingkaran; dan foto terakhir menunjukkan bulan penuh atau purnama.

Gambar kolase itu menyebar di berbagai laman Facebook bertema Islami di sini, di sini, di sini, di sini, di mana foto itu telah dibagikan lebih dari 15.700 kali.

Namun, klaim di semua unggahan itu salah.

Pencarian gambar terbalik di Google menemukan sumber asli foto tersebut di website Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), yang mengunggah gambar itu di situs webnya pada tahun 2002.

Berikut tangkapan layar foto asli yang diunggah NASA:

Image
Tangkapan layar foto asli di website NASA, diambil pada tanggal 28 April 2022

Menurut keterangan di situs web NASA, foto bulan yang diabadikan oleh kru Apollo 10 pada bulan Mei 1969 itu menunjukkan Rima Ariadaeus -- salah satu rille atau parit pada permukaan bulan.

Seperti dijelaskan NASA di sini, "rille seperti Rima Ariadaeus dipercaya merupakan patahan atau sesar yang terbentuk akibat aktivitas tektonik. Beberapa ilmuwan percaya rille yang berbentuk linear kemungkinan terjadi setelah benturan hebat, sementara ilmuwan lainnya percaya bahwa rille terbentuk akibat sistem tanggul dalam yang terjadi saat bulan masih aktif secara vulkanik.

"Para ilmuwan sepakat bahwa Rima Ariadaeus, yang panjang lintasannya sekitar 300 km (186,4 mil), adalah sistem sesar seperti yang biasa ditemukan di bumi."

Halaman situs NASA yang sama juga mengunggah foto lain Rima Ariadaeus.

Berikut tangkapan layar foto Rima Riadaeus dari sudut pandang lain yang diabadikan oleh NASA:

Image
Tangkapan layar foto Rima Ariadaeus lain di situs web NASA, diambil pada tanggal 28 April 2022

'Tidak ada bukti ilmiah'

NASA pernah menjawab klaim tersebut di sini saat seorang pengguna internet menanyakannya di tahun 2010.

"Saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa bulan pernah terbelah menjadi dua (atau lebih) bagian kemudian tersambung kembali pada suatu waktu di masa lampau," tulis Brad Bailey, ilmuwan di Institut Ilmu Bulan NASA, pada saat itu.

Professor Paul Groot, astronomer di Universitas Radboud di Belanda, mengatakan: "'Garis 'belahan' yang terlihat di gambar bawah [di unggahan menyesatkan] memang ada di bulan, namun garis itu pastinya tidak membentang sepanjang lingkaran bulan."

"Garis tersebut kemungkinan berhubungan dengan benturan yang menyebabkan terbentuknya kawah Tycho, yang terletak di sisi kanan bawah garis itu jika dilihat pada orientasi gambar," Groot mengatakan kepada AFP melalui email.

Gambar lain bulan lainnya

Gambar yang menunjukkan dua bulan berbentuk setengah lingkaran di unggahan berbahasa Inggris itu adalah hasil penggabungan dua foto bulan. Foto aslinya bisa ditemukan di situs web agensi foto Getty Images.

Foto pertama, foto bulan di sisi kiri, diberi keterangan: "Bulan Seperempat Terakhir" dan menunjukkan bulan pada fase kuartal akhir.

Foto kedua diberi judul: "Tampilan Sudut Rendah Bulan Terhadap Langit Cerah Di Malam Hari File Foto".

Berikut perbandingan tangkapan layar foto di unggahan menyesatkan (tengah) dan foto asli (kiri dan kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar foto di unggahan menyesatkan (tengah) dan foto asli (kiri dan kanan)

   

Foto terakhir yang menunjukkan bulan penuh di unggahan menyesatkan berbahasa Inggris itu bisa dilihat di situs web Tufts University, di Massachusetts.

Hak cipta foto tersebut dimiliki Lick Observatory, bagian dari University of California.

Berikut perbandingan tangkapan layar foto di unggahan menyesatkan (kiri) dan foto aslinya (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar foto di unggahan menyesatkan (kiri) dan foto aslinya (kanan)

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami