Fenomena aphelion tidak pengaruhi suhu bumi maupun kesehatan manusia, kata para pakar

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sejumlah unggahan Facebook mengeklaim peristiwa "aphelion", di mana bumi mengorbit dalam posisi terjauh dari matahari dalam setahun, telah membuat suhu bumi makin dingin. Dikatakan pula, kondisi tersebut membuat manusia jadi rentan sakit. Namun klaim tersebut salah. Para pakar mengatakan peristiwa aphelion terjadi setiap tahun, tidak berdampak pada naik-turunnya suhu bumi dan juga tidak membuat manusia mudah sakit. 

Klaim itu muncul di postingan Facebook ini, yang diunggah pada tanggal 3 Juni 2022.

Status postingan itu berbunyi: "*Mulai besok* jam 05.27 kita akan mengalami FENOMENA APHELION, 
dimana letak Bumi akan sangat jauh dari Matahari. 

"Kita tidak bisa melihat fenomena tsb, tp kita bisa merasakan dampaknya. 
Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. 

"Kita akan mengalami cuaca yg dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya, 
yang akan berdampak meriang flu, batuk sesak nafas dll. 

"Oleh karena itu mari kita semua tingkatkan imun dengan banyak2 meminum Vitamin atau Suplemen agar imun kita kuat. 

"Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan_NYA. 
Aamiin ... 

"Jarak Bumi ke Matahari perjalanan 5 menit cahaya atau 90.000.000 km. Fenomena aphelion menjadi 152.000.000 km."

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 9 Agustus 2022

Aphelion terjadi saat bumi berada di titik terjauhnya dari matahari. Dalam kondisi tersebut, kedua benda langit terpisah jarak sekitar 152 juta kilometer. 

Klaim itu juga tersebar di berbagai unggahan Facebook lainnya, seperti ini, ini, ini dan ini.

Klaim serupa juga tersebar dalam bahasa Inggrisbahasa Spanyol dan bahasa Portugis.

Namun klaim tersebut salah.

Peristiwa aphelion tidak berdampak pada suhu bumi

Jarak antara matahari dan bumi biasanya sekitar 150 juta kilometer -- bukan 90 juta kilometer, seperti diklaim dalam postingan menyesatkan.

Dua astronom mengatakan kepada AFP bahwa aphelion -- peristiwa tahunan yang tahun ini terjadi pada tanggal 4 Juli 2022 -- tidak berdampak pada suhu bumi dan kesehatan manusia.

Tangkapan layar penampakan aphelion 2021. Foto: NASA

Menurut Andrea Sanchez, astronom dari Institut Fisika, Fakultas Ilmu Pengetahuan, di Uruguay, benar bahwa jarak antara bumi dan matahari berubah selama aphelion. Namun "perubahan jaraknya sangat kecil" dan tidak terlalu signifikan untuk bisa memengaruhi naik-turunnya suhu bumi.

"Kita mengalami aphelion setiap tahunnya," kata Sanchez. “Kebingungan selalu ada, orang-orang percaya bahwa perubahan musim dipengaruhi oleh jarak antara bumi dan matahari. Namun bukan itu yang sebenarnya terjadi."

Genevieve Soucail, astronom dari Institut Riset Astrofisika dan Planetologi (IRAP), di Toulouse, Prancis, berpendapat senada dengan Sanchez. 

Transisi ke aphelion ataupun ke perihelion (titik terdekat suatu benda langit dalam jalur orbitnya terhadap matahari) "menciptakan sedikit perbedaan dalam arus cahaya yang diterima bumi. Namun perbedaan tersebut sangat kecil dan sama sekali tidak berhubungan dengan perubahan cuaca," ujar Soucail.

Menurut kedua pakar, perubahan suhu musiman terjadi karena adanya variasi dalam insolasi matahari -- yaitu energi matahari yang mencapai bumi -- yang dihasilkan dari kemiringan poros rotasi bumi.

Hal tersebut "menyebabkan semasa satu musim tertentu [planet bumi] menerima radiasi matahari lebih banyak di belahan selatan, dan semasa musim lainnya, [fenomena yang sama] terjadi di belahan utara ," ujar Sanchez. 

Soucail menambahkan: "Suhu rata-rata selama musim panas di belahan utara lebih tinggi dari yang di selatan", meskipun "bumi berada dalam posisi lebih jauh dari matahari selama musim panas di belahan utara dan ... perihelion terjadi saat musim panas di belahan selatan."

Pada tanggal 1 Juli 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya tidak pernah menerbitkan kajian apapun soal aphelion dan dampak kesehatan yang mungkin terjadi .

Klaim soal aphelion dan pengaruhnya pada suhu bumi sudah bertahun-tahun beredar di media sosial. AFP Indonesia menerbitkan pemeriksaan fakta soal klaim serupa di tahun 2018. 

11 Agustus 2022 Laporan ini diperbarui untuk menambahkan komentar dari kedua astronom.
Terjemahan dan adaptasi