Ini foto wanita suku Ainu dari Jepang, bukan 'Ching Shih, ratu bajak laut Tiongkok'

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 05/09/2022 pukul 09:27
  • Diperbarui pada hari 05/09/2022 pukul 14:33
  • Waktu baca 4 menit
  • Oleh: Medha VERNEKAR, AFP Australia, AFP Indonesia
Foto hitam putih seorang wanita diklaim sebagai gambar ratu bajak laut Ching Shih dari Tiongkok, yang aktif di awal abad ke-19. Klaim itu beredar dalam unggahan media sosial dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Namun, klaim itu salah. Foto tersebut aslinya menunjukkan seorang wanita dari masyarakat adat Ainu, yang tinggal di Pulau Hokkaido, Jepang. Foto wanita Ainu tersebut kemungkinan besar diambil di awal abad ke-20, menurut para pakar.

Foto hitam putih seorang wanita diunggah di Facebook di sini pada tanggal 24 Maret 2020.

Tulisan yang ditempel di atas foto berbunyi: "Bajak laut wanita tersadis yang pernah ada di dunia." 

Status postingan itu sebagian menyatakan: "Ching Shih, atau juga dikenal sebagai Zheng Shi, merupakan seorang pelacur China yang menjadi bajak laut wanita yang kuat, kaya dan kejam. Dia mengendalikan Armada Bendera Merah yang terkenal."

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 5 September 2022

Bajak laut Tiongkok Ching Shih -- namanya bermakna "istri Ching" dalam bahasa Kanton -- menguasai pesisir Provinsi Guangdong di Tiongkok bagian selatan pada dekade awal abad ke-19. 

Ching Shih adalah seorang pelacur bernama Shih Yang ketika ia bertemu dengan bajak laut Ching I, atau Cheng I.

Setelah mereka menikah di tahun 1801, Ching Shih bersama suaminya memimpin armada perompak bernama Bendera Merah. Setelah suaminya meninggal di tahun 1807, Ching Shih mengamankan posisinya sebagai pemimpin.

Di puncak kekuasaannya, Ching Shih -- yang juga dipanggil Cheng I Sao, atau "istri Cheng I" -- memimpin sekitar 70,000 perompak dan 1,200 kapal, lebih besar daripada armada kekaisaran Tiongkok dan armada Spanyol.

Dia juga terkenal dalam menerapkan aturan hukum yang ketat untuk para bajak lautnya: mencuri dari penduduk desa atau dari uang komunal dan melakukan serangan seksual terhadap tawanan mereka dapat dihukum mati.

Sang ratu bajak laut pensiun pada tahun 1810 setelah menerima tawaran amnesti dari pemerintah Dinasti Qing, dan wafat karena sebab alami di tahun 1844 dalam usia 69 tahun.

Foto itu juge beredar dengan klaim serupa di Instagram di sini dan di situs web di sini

Foto itu juga muncul dengan narasi dalam bahasa Inggerisbahasa Malaysiabahasa Prancisbahasa Italiabahasa Spanyolbahasa Portugis dan bahasa Swedia

Namun, klaim ini salah.

Penelusuran gambar terbalik menemukan foto ini di situs web stok foto Alamy, yang mengidentifikasi wanita tersebut sebagai seorang anggota suku Ainu, masyarakat adat yang kebanyakan menetap di Pulau Hokkaido, di bagian utara Jepang.

Kredit foto tersebut diberikan kepada CPA Media, sebuah perusahaan kepunyaan orang Inggris di Thailand yang memiliki perpustakaan stok gambar sejarah dan kontemporer dari Asia.

CPA Media juga telah mendigitalisasi koleksi mereka dalam perpustakaan foto daring yang bernama "Pictures in History", atau "Gambar dalam Sejarah".

Dengan mengetik kata kunci “wanita Ainu” di situs web mereka di sini, AFP menemukan foto tersebut dengan judul: "Jepang: Wanita Ainu, Hokkaido, sekitar tahun 1900".

Berikut tangkapan layar foto tersebut di situs web Pictures in History:

Image
Tangkapan layar foto di situs web Pictures in History

Ketika dikontak AFP, David Henley, direktur utama CPA Media, mengatakan: "Wanita di dalam gambar tersebut memakai kostum suku Ainu, saya tidak bisa melihat alasan apapun bahwa Ching Shih menggunakan kostum ini."

Suku Ainu 

Kazuyoshi Otsuka, profesor emeritus dari Museum Etnologi Nasional, yang terletak di kota Osaka, Jepang, dan penulis buku "Ainu, Kaihin to Mizube no Tami" (Ainu: Orang-orang dari Tepi Laut dan Tepi Air), membenarkan bahwa gambar tersebut menunjukkan seorang wanita Ainu.

Wanita itu "mengenakan pakaian dengan motif Ainu, yang umum di daerah Iburi di Pulau Hokkaido, termasuk Shiraoi," kata Otsuka kepada AFP. "Pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh wanita di foto ini menunjukkan bahwa dia mengenakan pakaian resmi Ainu."

Kota Shiraoi, yang sekarang menjadi lokasi Museum Nasional Ainu, telah lama menjadi pusat pariwisata budaya Ainu, bahkan sebelum Perang Dunia II.

Otsuka menjelaskan lebih lanjut bahwa foto tersebut kemungkinan besar diambil sekitar tahun 1900-an dan 1930-an -- "dari akhir era Meiji hingga awal era Showa" -- untuk kartu pos bagi turis. 

"Sebuah kartu pos turis yang masih ada, yang diterbitkan di kota Shiraoi, menunjukkan sosok wanita yang sama dengan keterangan dalam bahasa Jepang '宮本アサ子' (Asako Miyamoto)," kata Otsuka, sambil menunjukkan nama yang tertulis dalam warna putih di bagian kiri atas gambar, terlihat di sini di situs web Yahoo! Auctions Japan, laman lelang Yahoo! di Jepang.

Berikut tangkapan layar kartu pos di Yahoo! Auctions Japan:

Image
Tangkapan layar kartu pos di situs web Yahoo! Auctions Japan

Wanita tersebut dipercaya masih ada hubungan dengan Ekashimatoku Miyamoto (1876-1958), seorang tetua Ainu yang terkemuka, kata sang profesor, “tapi pada saat ini sulit untuk memastikan apakah dia anak perempuan dari tetua tersebut, atau kerabat atau yang lainnya."

Otsuka menyimpulkan klaim bahwa wanita di dalam foto tersebut adalah Ching Shih, sang bajak laut dari Tiongkok, "tidak cocok secara kronologis" dan "kaitan antara keduanya patut dikesampingkan".

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami