
Rusia tak 'kerahkan 9.000 tentara ke Indonesia untuk bantu lawan Australia dan AS'
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 16/11/2022 pukul 04:26
- Waktu baca 6 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
“Rusia kerahkan 9.000 pasukan ke perbatasan indonesia-australia-pulau pasir," bunyi status unggahan Facebook tanggal 2 November 2022 ini.
Postingan itu mengunggah video berdurasi tujuh menit, yang telah ditonton lebih dari 162.000 kali.

Narator video berbicara soal pengiriman ribuan pasukan Rusia ke Indonesia. Di detik ke-11, misalnya, narator berkata, "Lindungi Indonesia dari serangan AS dan Australia, Rusia kirim 9.000 pasukan gabungan ke perbatasan Indonesia-Australia."
Video ini beredar setelah laporan media, seperti ini dari Antara pada tanggal 21 Oktober 2022, soal Ferdi Tanoni, nelayan Timor di NTT, yang berencana menggugat Australia atas "kepemilikan Pulau Pasir" -- yang juga disebut Karang Ashmore di Negeri Kanguru.
Pulau Pasir adalah bagian dari MoU Box, sebuah wilayah di perairan Australia di Laut Timor yang bisa dimasuki nelayan tradisional Indonesia. Dasarnya adalah sebuah perjanjian tahun 1974 antara Indonesia dan Australia.
Di detik ke-28 video, ada adegan Presiden Joko Widodo berkata, "Saya berbicara, bertelepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pembicaraan, dalam perbincangan telepon ... dalam pembicaraan itu, dibahas juga mengenai berbagai permintaan bantuan persenjataan dari Indonesia."
Adegan-adegan lain menunjukkan Jokowi bersalaman dengan Putin dan sebuah parade militer besar di Moskow.
Sejumlah komentar warganet kelihatannya percaya klaim tersebut.
"Salut......... Buat pak Putin (ni baru sahabat)," tulis seseorang, sementara yang lain berkomentar, "Terima kasih pas presiden Rusia, atas bantuannya."

Klaim serupa juga menyebar di sejumlah video lain di Facebook di sini dan di sini, di YouTube di sini, serta di TikTok di sini dan di sini.
Video-video tersebut telah ditonton lebih dari 872.000 kali.
Kenyataannya, hingga tanggal 16 November 2022, tidak ada berita resmi soal pengiriman 9.000 pasukan Rusia ke Indonesia.
Seperti dilansir Antara dan Kompas.com, pejabat Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa Pulau Pasir adalah bagian dari wilayah Australia dan tidak pernah menjadi milik Indonesia.
Laporan berita yang diganti
Dari hasil mengkaji keseluruhan video, AFP menemukan sejumlah inkonsistensi dalam narasi yang dibacakan.
Pada menit 1:48, misalnya, narator berkata, "Rusia telah membentuk tentara gabungan bersama tentara Belarusia, dengan meluncurkan 9.000 pasukan serta empat ratusan tank ke kawasan perbatasan.
"Pembentukan pasukan gabungan digelar setelah Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko meminta bantuan kepada sekutunya Rusia, lantaran Australia berulang kali meyorongkan ancaman pada Indonesia."
Dengan pencarian kata kunci dari bagian ini, AFP menemukan sumber asli narasi tersebut di artikel berita Tribunnews tanggal 26 Oktober 2022 ini, yang berjudul "Lindungi Belarusia dari Serangan Ukraina, Rusia Kirim 9.000 Pasukan Gabungan ke Perbatasan"
Penempatan tentara Rusia di perbatasan dengan Belarus itu juga diliput The Guardian, Reuters dan The Daily Mail.
Narasi pelintiran di video tersebut mengganti kata-kata "Ukraina" dan "Belarus" di artikel Tribunnews jadi "Australia" and "Indonesia".
Versi asli berita Tribunnews berbunyi, "Rusia telah membentuk tentara gabungan bersama tentara Belarusia, dengan meluncurkan 9.000 pasukan serta ratusan tank ke kawasan perbatasan Belarus."
Artikel itu melanjutkan, "Pembentukan pasukan gabungan digelar setelah Presiden Belarus Alexander Lukashenko meminta bantuan pada sekutunya, Rusia, lantaran Ukraina berulang kali menyerukan ancaman pada Belarusia."
Bagian menyesatkan juga dapat disimak di menit 3:19 video, saat narator berkata, "Indonesia tak akan mungkin menyerang Australia. Terlebih wilayah perbatasan Australia dan Indonesia Timur, hampir empat puluh persen ditutupi oleh hutan dan rawa yang tidak bisa ditembus musuh."
Kenyataannya Indonesia hanya memiliki perbatasan maritim dengan Australia.
Bagian di atas dipelintir dari beberapa paragraf terakhir di berita Tribunnews yang berbunyi, "Belarusia tak akan mungkin menyerang Ukraina ... Terlebih wilayah perbatasan Ukraina dengan Belarus hampir empat puluh persen ditutupi oleh hutan dan rawa yang tidak bisa ditembus musuh."
Adegan-adegan tak berhubungan
Dengan menggunakan sejumlah potongan gambar video, AFP menemukan bahwa adegan-adegan dalam video sesat dicomot dari sejumlah reportase video yang tidak berkaitan satu sama lain.
Di detik ketiga, adegan video sesat menampilkan Jokowi sedang memberikan pernyataan pers bersama Putin.
Adegan serupa muncul di detik kedelapan, di mana Jokowi dan Putin duduk bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Sementara di menit 2:53, adegannya memperlihatkan Jokowi bersalaman dengan Putin, dengan latar belakang dinding biru.
Adegan-adegan tersebut diambil dari video yang diunggah pada tanggal 7 Juni 2016 di kanal YouTube resmi Presiden Jokowi. Video berjudul "Presiden Jokowi di Rusia" itu mendokumentasikan perjalanan kenegaraan Jokowi di Rusia pada Mei 2016.
Adegan-adegan yang dipakai video sesat pada kenyataannya menunjukkan sebuah konferensi pers setelah pertemuan bilateral Indonesia-Rusia dan sebuah momen saat Putin menyambut Jokowi di KTT ASEAN-Rusia pada tanggal 19 Mei 2016.
Berikut perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video asli di kanal YouTube Presiden Jokowi (kanan):

Parade militer Moskow
Di detik ke-15 di video sesat, terlihat sebuah parade militer besar-besaran di Moskwa, ibukota Rusia.
Adegan tersebut aslinya diambil dari video bertanggal 9 Mei 2016 di situs web resmi Kremlin.
Diterjemahkan dari bahasa Inggris, video itu berjudul: "Parade militer di Lapangan Merah".
Menurut situs web Kremlin, acara tersebut adalah parade militer memperingati 71 tahun kemenangan Rusia atas Jerman Nazi pada 1945, dikenal dengan Hari Kemenangan.
Berikut perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video Kremlin (kanan):

Konpers bulan April 2022
Video sesat juga mencomot sejumlah adegan dalam video pernyataan Jokowi yang diunggah pada tanggal 29 April 2022 di kanal YouTube Kompas TV.
Adapun video tersebut berjudul: "Pernyataan Lengkap Jokowi Telepon Presiden Ukraina-Rusia Zelensky dan Putin Terkait G20".
Di detik ke-40 video sesat, Jokowi berkata: "Dalam pembicaraan itu, dibahas juga mengenai berbagai permintaan bantuan persenjataan dari Indonesia." Ini sebenarnya merujuk ke percakapan Jokowi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, bukan Putin.
Berikut adalah pernyataan yang lebih lengkap, seperti terdengar di menit 2:32 video Kompas TV: "Dalam perbincangan telepon dengan Presiden Ukraina, saya memperoleh update mengenai perkembangan situasi saat ini di Ukraina.
"Dalam pembicaraan itu, juga dibahas berbagai permintaan bantuan persenjataan dari Indonesia.
"Saya menegaskan bahwa, sesuai dengan amanat konstitusi Indonesia dan prinsip politik luar negeri Indonesia, melarang pemberian bantuan persenjataan kepada negara lain.
"Namun saya menyampaikan kesiapan Indonesia dalam memberikan bantuan kemanusiaan."
Berikut ini perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video Kompas TV (kanan):

Penarikan pasukan dari Kazakhstan
Beberapa adegan video sesat dicomot dari reportase video soal penarikan pasukan Rusia dari Kazakhstan pada Januari 2022.
Adegan-adegan tersebut -- dapat disimak di detik ke-24, ke-29, dan menit ke-1:08 video sesat -- memperlihatkan sebuah upacara militer.
Sumber asli adegan-adegan tersebut adalah reportase video Al Jazeera ini, yang diunggah ke YouTube pada tanggal 14 Januari 2022.
Euronews juga mewartakan penarikan pasukan tersebut di sini.
Berikut perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video Al Jazeera (kanan):

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami