Foto simulasi penanganan Ebola dipakai untuk menyebarkan misinformasi terkait hantavirus
- Diterbitkan pada hari 18/05/2026 pukul 12:08
- Waktu baca 2 menit
- Oleh: AFP Timur Tengah & Afrika Utara
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Seiring ditemukannya kasus baru hantavirus di sebuah kapal pesiar pada Mei 2026, postingan media sosial membagikan foto yang memperlihatkan seorang kamerawan tanpa pelindung kesehatan merekam sekelompok orang berpakaian hazmat dan menyebutkan bahwa hal tersebut adalah bukti "drama hantavirus". Faktanya, foto itu menunjukkan latihan penanganan pasien Ebola yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut Spanyol pada Mei 2025.
"Drama plan-demic baru telah dimulai. Persis spt C19 dulu, semuanya dimulai dengan tayangan video-video rekayasa," tulis keterangan foto yang dibagikan di Facebook pada 16 Mei 2026.
Foto tersebut memperlihatkan seorang kamerawan sedang merekam aktivitas yang dilakukan sekelompok orang berpakaian hazmat di dekat sebuah kapal. Sang kamerawan dalam foto tersebut tampak tidak mengenakan alat pelindung diri.
"Dulu, publik --terlebih Gereja di Indonesia-- benar-benar tertipu dengan permainan itu. Jika di drama "hantavirus' ini juga tertipu, betapa memang bodoh dan bebalnya manusia di akhir zaman ini, betapa mudahnya dipermainkan iblis, penguasa asli di balik layar elite global," lanjut keterangan postingan tersebut.
Foto dengan klaim serupa juga beredar di postingan Facebook lainnya.
Visual tersebut juga dibagikan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab, Inggris dan Prancis, dengan klaim yang kurang lebih sama bahwa hantavirus adalah rekayasa.
Postingan-postingan tersebut beredar di saat otoritas di berbagai negara tengah mengawasi penumpang dari kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius, dan orang-orang yang kemungkinan telah terpapar oleh hantavirus menyusul laporan penularan virus di atas kapal (tautan arsip di sini dan sini).
Pihak berwenang di bidang kesehatan berulang kali menegaskan bahwa risiko penularan virus langka asal tikus ini secara luas terhadap kesehatan masyarakat masih tergolong rendah (tautan arsip). Bahkan untuk varian Andes yang merupakan satu-satunya varian virus yang diketahui dapat menular antarmanusia.
Hingga 15 Mei, jumlah kematian yang tercatat akibat hantavirus secara global mencapai tiga orang.
Meskipun begitu, kasus hantavirus ini membangkitkan kembali teori konspirasi "plandemic" dan narasi-narasi serupa yang sempat beredar saat pandemi COVID-19. Analisis AFP menemukan banyak klaim tak berdasar terkait hantavirus menyebar di platform media sosial (tautan arsip). Klaim-klaim tersebut antara lain menuduh adanya rencana jahat untuk memaksakan vaksinasi massal, membatasi aktivitas sosial, hingga memengaruhi hasil pemilu sela di Amerika Serikat (AS) pada November mendatang.
Namun, foto yang beredar di media sosial tersebut menunjukkan latihan penanganan kasus Ebola di Spanyol.
Pencarian gambar terbalik menemukan foto yang sama telah diunggah di website Pelabuhan Almeria pada 7 Mei 2025 (tautan arsip). Foto tersebut diunggah bersaman dengan sebuah artikel tentang latihan maritim internasional yang melibatkan Angkatan Laut dan Kementerian Kesehatan Spanyol.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa foto itu menunjukkan simulasi kedatangan kapal yang mengangkut pasien terduga Ebola, penyakit langka mematikan yang menyebabkan demam, pendarahan dan gagalnya fungsi organ (tautan arsip).
Sejumlah situs berita lokal mengabadikan foto lain dari latihan tersebut serta video simulasi yang diambil dari sudut pandang yang berbeda (tautan arsip di sini, sini dan sini). Laporan tersebut menyebutkan kembali bahwa latihan itu digelar untuk menyimulasikan proses evakuasi pasien dengan risiko paparan Ebola.
AFP telah menyanggah misinformasi lainnya terkait hantavirus di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami