Ahli menyanggah klaim bahwa hantavirus berarti 'omong-kosong' dalam bahasa Ibrani
- Diterbitkan pada hari 12/06/2026 pukul 10:36
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Ramadani SAPUTRA, AFP Indonesia
Misinformasi era pandemi Covid-19 kembali muncul seiring ditemukannya kasus baru hantavirus di sebuah kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik. Baru-baru ini, seorang pendukung teori konspirasi era Covid-19 membuat pernyataan tak berdasar bahwa hantavirus berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "omong kosong." Namun, sejumlah ahli mengatakan kepada AFP bahwa tidak ada kata seperti nama virus tersebut dalam bahasa Ibrani. Kata hantavirus sendiri diambil dari nama Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat terjadinya wabah besar pertama akibat virus ini pada tahun 1950-an.
"Gak usah takut, karena 'hanta' sendiri dalam Bahasa Ibrani artinya omong kosong," kata Dharma Pongrekun, seorang purnawirawan Polri yang sempat mengikuti Pilgub DKI Jakarta 2024, dalam sebuah wawancara yang diunggah di YouTube pada 15 Mei 2026.
Dalam video yang telah dilihat lebih dari 200.000 kali itu, Dharma juga menjelaskan bahwa hantavirus merupakan "agenda global" untuk menjual vaksin. Klaim serupa sempat ia utarakan dalam debat calon gubernur pemilu Jakarta 2024, di mana ia menyebut bahwa pandemi Covid-19 merupakan pandemi buatan.
AFP sebelumnya melaporkan bahwa teori konspirasi era Covid kembali menyeruak di sejumlah platform media sosial menyusul ditemukannya kasus hantavirus yang mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde (tautan arsip di sini dan sini).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus hantavirus yang terkonfirmasi mencapai 13, mencakup tiga korban yang meninggal dunia, hingga 27 Mei (tautan arsip).
Sebanyak delapan kasus terkonfirmasi merupakan virus Andes, satu-satunya varian hantavirus yang menular antarmanusia melalui kontak dekat dalam waktu yang lama (tautan arsip). Varian ini biasanya ditemukan di sejumlah wilayah di Amerika Selatan.
Semua kasus yang terkonfirmasi kali ini menyerang orang-orang yang berada dalam kapal pesiar berbendera Belanda tersebut, sedangkan WHO mengatakan risiko virus itu merebak ke populasi umum "sangat kecil" (tautan arsip di sini dan sini).
Klaim serupa yang menyebutkan asal-usul nama hantavirus berasal dari bahasa Ibrani -- yang dijadikan bukti bahwa penyakit tersebut merupakan tipuan -- juga beredar di Australia, Filipina dan Amerika Serikat, dan muncul dalam berbagai bahasa termasuk Inggris, Jepang dan Spanyol.
Di Indonesia, klaim yang disampaikan oleh Dharma juga dibagikan di Instagram dan TikTok.
AFP menghubungi Dharma pada tanggal 4 Juni untuk mengonfirmasi pernyataan tersebut. Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya, ia membagikan tangkapan layar hasil dari Google AI yang menyebutkan: "Dalam Bahasa Ibrani Modern, kata 'hanta' berarti omong kosong, kebohongan, atau penipuan."
AFP telah melakukan sejumlah pencarian kata kunci pada Google, namun tidak mendapatkan hasil serupa.
Asal-usul nama
Sejumlah ahli mengatakan bahwa "hanta" sendiri bukanlah kata dalam Bahasa Ibrani seperti yang disebutkan dalam klaim yang beredar daring.
Yaron Peleg, profesor Studi Bahasa Ibrani Modern di University of Cambridge, mengatakan kepada AFP dalam sebuah surel pada 2 Juni bahwa kata tersebut tidak ada dalam Ibrani (tautan arsip).
Sapri Sale, pendiri Jakarta Hebrew Learning Center, mengatakan pada 29 Mei bahwa kata terdekat dalam Bahasa Ibrani yang serupa dengan "hanta" adalah "khantah" -- yang berarti proses pematangan buah (tautan arsip).
Seorang jurnalis AFP yang merupakan penutur asli bahasa Ibrani mengatakan bahwa kata untuk "omong kosong" sendiri adalah "shtuyot", "qishqush" dan "kharta" yang seringkali dipakai dalam bahasa gaul. "Kharta" terdengar menyerupai "hanta" namun tetap merupakan kata yang berbeda.
Sejumlah artikel yang terbit dalam jurnal akademik secara konsisten menyebutkan bahwa nama hantavirus sendiri berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat di mana wabah penyakit tersebut pertama kali ditemukan (tautan arsip di sini dan sini).
Lebih dari 3.000 tentara jatuh sakit setelah terinfeksi hantavirus dalam Perang Korea yang berlangsung pada 1950-1953.
Masalah kesehatan publik
Walaupun "jarang terjadi," sejumlah kasus hantavirus dapat berakhir dengan tingkat kematian yang tinggi, menjadikan penyakait tersebut menjadi "masalah kesehatan publik utama", menurut WHO (tautan arsip).
Umumnya, hantavirus dikenal dapat menyebabkan dua jenis penyakit berbeda.
"Di wilayah Amerika, infeksi yang muncul mengarah pada sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang sangat cepat yang memengaruhi paru-paru dan jantung," ungkap WHO.
"Di Eropa dan Asia, hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang utamanya menyerang ginjal dan pembuluh darah."
Penyebaran hantavirus terhadap manusia biasanya terjadi akibat kontak dengan urin, kotoran, atau air liur dari tikus yang telah terjangkit virus itu.
Saat ini, belum ada vaksin yang disetujui secara global atau penanganan khusus untuk mengobati hantavirus. Pengobatan yang dilakukan saat ini berfokus untuk meghilangkan gejala-gejala yang muncul.
WHO memperkirakan bahwa terdapat 10.000 hingga 100.000 kasus baru setiap tahunnya.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengatakan terdapat 256 kasus yang diduga infeksi hantavirus di sejumlah provinsi dari 2024 hingga 2026, dengan 23 kasus di antaranya terkonfirmasi mengalami HFRS (tautan arsip).
Kompas melaporkan terdapat tiga kasus berujung kematian akibat HFRS dalam periode yang sama (tautan arsip).
Sejumlah laporan terkait yang menyanggah misinformasi terkait dengan hantavirus dapat ditemukan di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami