A 100,000 Indonesian rupiah banknote is pictured next to a US$100 banknote at a currency exchange office in Jakarta on June 4, 2026, after the rupiah weakened beyond 18,000 per US dollar for the first time. (AFP / Yasuyoshi Chiba)

Klaim tak berdasar sebut IMF aktor dibalik anjloknya nilai tukar rupiah

Sejumlah postingan media sosial membagikan klaim tak berdasar bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah karena Indonesia menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada April 2026. Faktanya, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah telah mengalami penurunan sejak Prabowo Subianto dilantik menjadi presiden pada akhir 2024 lalu. Beberapa ahli juga membantah klaim konspiratif yang beredar ini, dengan mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi penurunan nilai rupiah; mulai dari ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah hingga sentimen investor terhadap Indonesia.

"Gegara Tolak Pinjaman IMF Amerika, Rupiah Jadi Melemah," tulis keterangan video yang diunggah di TikTok pada 21 Mei 2026. 

Video yang telah dilihat lebih dari 700.000 kali itu memperlihatkan seorang influencer finansial bernama Gema Goeyardi, yang dikenal dengan metodenya bernama astronacci, sebuah metode yang menggabungkan astrologi dan fibonacci dalam menganalisis pasar saham.

Video TikTok tersebut berisi potongan klip yang berasal dari akun Youtube Gema, di mana ia menjelaskan rupiah melemah karena Indonesia tengah "diserang akibat mempertahankan kedaulatannya". 

Ia kemudian menyebutkan bahwa pelemahan nilai rupiah saat ini terjadi karena pemerintahan Presiden Prabowo "tengah dirundung" setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadhewa dikabarkan menolak tawaran pinjaman IMF pada April 2026 (tautan arsip).

Gema membandingkan langkah Purbaya tersebut dengan keputusan yang diambil oleh mantan Presiden Suharto saat menerima pinjaman dari IMF saat krisis moneter Asia pada 1998. Keputusan Suharto tersebut dianggap oleh sejumlah pihak sebagai hilangnya kedaulatan serta momen penghinaan terhadap negara (tautan arsip di sini dan sini).

Image
Tangkapan layar postingan salah yang diambil pada 3 Juni 2026, dengan tanda silang merah yang ditambahkan oleh AFP

Postingan lainnya dengan klaim serupa juga beredar di Instagram dan Facebook dan telah dilihat puluhan ribu kali. Unggahan-unggahan tersebut terus beredar di saat rupiah terus anjlok ke nilai terendahnya di bawah Rp18.000 untuk satu dolar AS pada 4 Juni (tautan arsip).

Bantuan IMF

Dalam pernyataannya pada sejumlah media lokal, Menteri Keuangan Purbaya mengatakan ia telah menolak tawaran pinjaman dari IMF dan Bank Dunia saat menghadiri IMF-World Bank Spring Meetings di Washington, yang berlangsung  dari 13 hingga 18 April.

Menurut Purbaya, kedua lembaga tersebut telah menyiapkan dana sekitar $20 miliar hingga $30 miliar untuk membantu sejumlah negara yang membutuhkan bantuan di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.

“Saya bilang sama dia (IMF dan Bank Dunia), sekarang saya belum butuh (pinjaman), karena saya sendiri punya persediaan hampir $25 miliar,” kata Purbaya, seraya menambahkan kondisi keuangan Indonesia masih aman. 

AFP telah menghubungi pihak kementerian keuangan untuk mengklarifikasi terkait kejelasan dari tawaran pinjaman yang diklaim, namun tidak mendapatkan respons.

Juru bicara IMF mengatakan kepada AFP bahwa saat Spring Meetings berlangsung, Direktur Pelaksana Kristalina Georgieva berbicara terkait kemungkinan naiknya permintaan dari negara-negara yang rentan serta negara berpenghasilan rendah terhadap pendanaan dari IMF akibat perang di Timur Tengah (tautan arsip).

"Total pendanaan tersebut diperkirakan berkisar $20-50 miliar tergantung durasi dan tingkat keparahan dari perang," ujarnya pada 13 Juni.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa IMF juga mengakui "fundamental kuat yang dimiliki Indonesia dan membahas dengan otoritas terkait pentingnya menjaga rekam jejak kebijakan Indonesia yang sudah lama kuat dan kredibel, serta alasan mengapa perlindungan terhadap penyangga tetap menjadi kunci".

Rupiah anjlok

Namun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah anjlok jauh sebelum pengumuman yang disampaikan Purbaya terkait penolakan terhadap pinjaman IMF pada bulan April.

Data Bank Indonesia menunjukkan tren penurunan telah terjadi sejak Prabowo dilantik pada Oktober 2024 (tautan arsip).

Image
Data Bank Indonesia yang memperlihatkan tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak Presiden Prabowo dilantik pada akhir 2024 (AFP / John SAEKI)

Selain itu, sejumlah laporan berita lokal dan internasional juga mendokumentasikan serangkaian rekor terendah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.

Surat kabar The Business Times melaporkan pada Februari 2025 bahwa rupiah anjlok ke nilai terendahnya dalam lima tahun terakhir (tautan arsip).

Satu bulan setelah itu, the Financial Times merilis artikel yang menyebutkan bahwa nilai mata uang Indonesia telah jatuh ke level terendahnya sejak krisis moneter Asia (tautan arsip).

Lalu pada April 2025, media lokal Jakarta Globe melaporkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh level di atas Rp17,000 (tautan arsip).

Menurut laporan-laporan tersebut, penyebab rupiah jatuh mencakup kekhawatiran investor akan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan juga kegelisahan terkait rencana pengeluaran yang ambisisus dari pemerintahan Prabowo.

Rencana pemerintahan Prabowo yang dimaksud di antaranya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bernilai triliunan rupiah. MBG, yang dibentuk untuk menyasar anak sekolah dan ibu hamil, dinilai telah membebani keuangan negara.

Berbagai macam faktor

Tidak ada kaitannya antara pelemahan rupiah dan keputususan pemerintah menolak tawaran pinjaman IMF, kata Latif Adam, seorang ekonom senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (tautan arsip).

"Sebenarnya dari perspektif ekonomi, tidak ada direct impact antara penolakan pinjaman IMF dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Secara ilmu ekonomi, pergerakan nilai tukar rupiah (apresiasi atau depreasiasi) ditentukan oleh permintaan dan penawaran valuta asing," ujarnya kepada AFP melalui surel yang dikirim pada 2 Juni.

"Jadi [hal] ini ditentukan oleh [faktor-faktor] seperti arus modal asing (capital in atau out), persepsi investor mengenai stabilitas dan prospek ekonomi, serta dinamika ekonomi dan geopolitik global."

Latif kemudian mengatakan IMF dan Bank Dunia memang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang. Hanya saja, menurutnya, bukan "karena kedua lembaga tersebut memberikan atau tidak memberikan pinjaman, tetapi bagaimana mereka menilai kondisi ekonomi Indonesia."  

Deni Friawan, peneliti lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS), secara terpisah mengatakan bahwa pelemahan nilai rupiah saat ini terjadi akibat kombinasi dari berbagai macam faktor, termasuk konflik di Timur Tengah dan juga tingkat suku bunga bank sentral AS, The Fed, yang tinggi (tautan arsip).

"Karena inflasi di US yang tinggi, hal itu membuat capital keluar dari emerging market (termasuk indonesia)," ujarnya kepada AFP melalui email yang dikirim pada 29 Mei.

"(Ada juga) kekhawatiran akan pengelolaan fiskal atau sustainability fiskal Indonesia, subsidi bahan bakar yang meningkat, dan berbagai kebijakan pemerintah yang menambah ketidakpastian."

Deni menambahkan bahwa menyalahkan IMF sebagai aktor yang bertanggung jawab atas anjloknya rupiah terasa sebagai "pengalihan" semata.

"Melampiaskan kesalahan itu kepada pihak lain, dalam hal ini pihak luar negeri yang biasanya memang paling mudah untuk disalahkan, karena lebih mudah diterima oleh orang Indonesia yang memang punya pengalaman buruk dengan asing ketika penjajahan dulu atau "nasionalisme" sempit, dan pihak asing yang dituduh juga tidak akan atau malas merespons hal itu," pungkasnya.

AFP sebelumnya telah menyanggah sejumlah misinformasi lain seputar pinjaman IMF.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami