
Pakar kesehatan membantah klaim yang menyatakan COVID-19 cocok dengan pola penyebaran wabah virus setiap 100 tahun sekali
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 23/03/2020 pukul 08:05
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: AFP Filipina, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Klaim itu dibagikan di Facebook di sini pada tanggal 27 Januari 2020 dan telah dibagikan lebih dari 340 kali.
Sebagian status unggahan itu berbunyi: “Wabah 100 Tahun
“Tampaknya sekali dalam 100 tahun dunia hancur oleh wabah. Wabah yang paling terakhir menyerang yang bisa kita sebut adalah Wabah Besar Marseille (1720), Wabah Kolera (1820), dan Flu Spanyol (1920).
“Para peneliti mengatakan bahwa semua wabah yang disebutkan di atas memiliki pola yang persis sama dengan wabah virus Korona di Cina.
“Namun, ketepatan dimana wabah ini terjadi selisih tepat 100 tahun inilah yang membuat saya heran. Mungkin sebagian dari kalian juga merasa ya, kenapa sih bisa pas banget 100 tahun?
“sepertinya sejarah benar-benar terulang, apakah virus-virus ini sengaja disebarkan oleh suatu organisasi? (waduh nyium bau-bau konspirasi nih ?)”.
Terdapat kolase foto di unggahan tersebut yang memperlihatkan pasien dan tenaga medis. Teks yang ditimpa di kolase foto tersebut berbunyi: “1720 Wabah Marseille, 1820 Kolera, 1920 Flu Spanyol, 2020 Virus Corona.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan.
Virus corona jenis baru, atau COVID-19, pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Tiongkok, di bulan Desember 2019. Virus tersebut telah membunuh hampir 13.000 orang dan menginfeksi lebih dari 305.000 di seluruh dunia, menurut laporan Pusat Eropa untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (ECDC) tertanggal 22 Maret 2020 di sini.
Klaim serupa juga dibagikan hampir 1.000 kali setelah muncul di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini.
Klaim serupa dalam bahasa Tagalog yang dibagikan di Facebook bisa dilihat di sini dan sini, dalam bahasa Malaysia di sini dan di sini. Klaim mirip dalam bahasa Inggris muncul di Twitter di sini dan di YouTube di sini.
Klaim itu salah: wabah yang disebutkan tersebut tidak mencantumkan tahun yang akurat dan deskripsinya juga tidak tepat.
–Krisis kesehatan secara historis–
Wabah Besar Marseille, misalnya, yang terjadi antara tahun 1720 dan 1722, disebabkan bukan oleh virus, melainkan oleh bakteri Yersinia pestis, menurut jurnal yang diterbitkan di situs web Pusat Informasi Bioteknologi Nasional (NCBI) Amerika Serikat di sini. Penyakit yang dikenal dengan nama pes itu pernah menjangkiti Marseille 22 kali sejak kota itu berdiri – pertama kali direkam dalam sejarah saat Perang Galia pada tahun 58-50 Sebelum Masehi. Setelah penanganan kesehatan, wabah pes tak lagi muncul setelah tahun 1649 – sampai Wabah Besar. Terakhir penyakit pes melanda Marseille antara tahun 1919 dan 1920.
Pandemi kolera, yang pernah terjadi enam kali antara tahun 1817 dan 1923, juga disebabkan oleh bakteri – bukan virus, menurut artikel ini yang dipublikasikan oleh jurnal medis The Lancet. Pandemi kolera ketujuh yang masih berlangsung dimulai tahun 1961.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan di sini bahwa pandemi “flu Spanyol” terjadi pada tahun 1918, dua tahun lebih awal dari tahun yang diklaim di unggahan menyesatkan.
Laporan-laporan penjelasan AFP ini mengulas tujuh epidemi besar lainnya yang terjadi di masa lalu – termasuk Ebola, SARS dan AIDS – yang tidak cocok dengan pola yang digambarkan di unggahan menyesatkan.
–Tidak ada pola–
Pakar kesehatan juga membantah klaim tersebut.
“Tidak, tidak ada pola di sana,” dr. Susan Mercado, utusan khusus kepada presiden Filipina untuk inisiatif kesehatan global, berkata kepada AFP melalui telepon pada tanggal 13 Maret 2020. “Tetapi jika Anda bertanya apakah beberapa virus bersifat musiman, itu memang benar.”
Juru bicara WHO mengatakan kepada AFP via surel pada tanggal 12 Maret 2020 bahwa “epidemi untuk penyakit tertentu bersifat siklus,” dan pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung “tidak dapat diprediksi, dikarenakan itu adalah penyakit baru”.
Klaim di sejumlah unggahan dalam bahasa Tagalog dan Inggris bahwa wabah Maut Hitam terjadi di Eropa pada tahun 1720 telah dibantah oleh laporan periksa fakta AFP ini.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami