Peta ini memperlihatkan prediksi berdasarkan data yang diperoleh di masa lalu, bukan pembacaan satelit waktu nyata

Sebuah peta telah dibagikan di berbagai unggahan di Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube dengan klaim yang menyatakan peta itu menunjukkan peningkatan kadar sulfur dioksida di Wuhan, kota di Tiongkok yang merupakan pusat wabah virus corona baru. Unggahan-unggahan yang diterbitkan dalam berbagai bahasa tersebut mengklaim tingginya kadar sulfur dioksida bisa menjadi bukti adanya kremasi massal di dalam dan sekitar kota. Klaim itu salah: NASA, yang datanya digunakan untuk membuat peta itu, mengatakan kepada AFP bahwa peta itu dibuat berdasarkan angka perkiraan emisi sulfur dioksida buatan manusia dan gas gunung berapi, bukan rekaman satelit waktu nyata. 

Peta itu diunggah pada tanggal 14 Februari 2020 di Twitter di sini dan telah dicuitkan ulang lebih dari 120 kali. 

Status unggahan itu berbunyi: “Tingkat sulfur dioksida yang tinggi di pusat wabah virus corona bisa menjadi tanda kremasi massal. Selain Wuham kota Chongqing yang juga berada di bawah karantina juga menunjukkan adanya tingkat sulfur dioksida. Dilansir dari laman Daily Mail.”

Terdapat teks yang ditambahkan di bawah gambar peta itu yang bunyinya adalah: “Peta satelit menangkap penampakan merah menyala yang menunjukkan tingkat SO2 (sulfur dioksida) di sekitar Wuhan, China yang tengah dilanda virus corona. Sulfur dioksida itu muncul ketika tubuh dikremasi dan limbah medis dibakar.”

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu: 

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Peta tersebut juga diunggah di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini; serta di Instagram di sini dengan klaim serupa. 

Peta yang sama dengan klaim serupa dalam bahasa Inggris dibagikan ribuan kali setelah muncul di Facebook di sini dan di sini; di Twitter di sini, sini dan di sini; serta di YouTube di sini. Klaim mirip dalam bahasa Cina bisa dilihat di sini dan dalam bahasa Korea di sini

Peta tersebut mengindikasikan bahwa 1.351,65 μg/m3 sulfur dioksida (SO2), gas berbahaya yang paling sering dihasilkan selama pembakaran bahan bakar fosil, terdeteksi antara 10 dan 17 Februari 2020, di daerah sekitar Wuhan. 

Laporan media yang menampilkan peta di unggahan menyesatkan juga diterbitkan di sini oleh MailOnline, situs web untuk surat kabar Inggris The Daily Mail; di sini oleh surat kabar Malaysia, China Press; oleh surat kabar AS The Epoch Times di sini; dan oleh penyiar AS New Tang Dynasty Television di sini

Lebih dari 2.700 orang tewas dan lebih dari 78.000 orang positif terpapar virus corona jenis baru, atau COVID-19, di Tiongkok, menurut Komisi Kesehatan Nasional negara tersebut, seperti dilaporkan di sini pada tanggal 26 Februari 2020. 

Walaupun sebagian besar korban meninggal terdapat di Wuhan, klaim bahwa peta di unggahan menyesatkan menunjukkan peningkatan kadar sulfur dioksida di kota tersebut salah.

Windy.com, situs web ramalan cuaca animasi tempat peta itu dibuat, mengatakan peta tersebut merupakan ramalan berdasarkan data NASA.

Di email yang diterima oleh AFP pada tanggal 20 Februari 2020, Windy.com mengatakan: “Harap dicatat bahwa Windy.com hanya memvisualisasikan perkiraan SO2, data untuk prediksi ini diperoleh dari NASA dan model NASA GEOS-5 mereka, itu berarti Windy.com tidak menghitung data apa pun dan selanjutnya mengenai detail model tentang pengukuran sebaiknya ditanyakan ke NASA. Kami juga tidak menyimpan arsip data cuaca.” 

Windy.com juga memberikan jawaban serupa pada tanggal 9 dan 10 Februari 2020 sebagai tanggapan atas pertanyaan berjudul “Tingkat Sulfur Dioksida Wuhan Tinggi atau Hanya Industri?” yang merujuk pada unggahan menyesatkan di media sosial. 

Arlindo da Silva, ahli riset meteorologi NASA, juga mengatakan bahwa pembacaan SO2 NASA tidak mengukur fluktuasi dari hari ke hari.

“Prakiraan kami didasarkan pada inventarisasi emisi tetap dan begitu SO2 dihasilkan, dia dibawa oleh prakiraan angin,” kata da Silva kepada AFP melalui email pada tanggal 20 Februari 2020. “Meskipun data satelit telah digunakan dalam pembentukan inventarisasi emisi, emisi ini tidak memperhitungkan variasi harian emisi SO2 dan karenanya tidak bisa menjelaskan perubahan mendadak dalam aktivitas manusia.” 

Pusat Pemantauan Lingkungan Nasional Tiongkok pada tanggal 13 Februari 2020 mengeluarkan siaran pers berbahasa Inggris yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul: “Laporan tentang kepadatan gas dibantah,” yang menyangkal klaim mengenai kenaikan kadar SO2 di Wuhan.

Sebagian siaran pers itu berbunyi: “Pusat Pemantauan Lingkungan Nasional Tiongkok menyangkal laporan yang diunggah di berbagai situs web asing bahwa ibu kota provinsi Hubei, Wuhan, pusat wabah virus corona baru, telah mengalami peningkatan kepadatan sulfur dioksida, dengan mengatakan, ‘itu distorsi realita yang parah.’ 

“Analisis yang dilakukan oleh para ahli satelit juga menunjukkan bahwa kepadatan sulfur dioksida telah dijaga pada tingkat rendah di Wuhan dan sekitarnya dari tanggal 3 Februari hingga hari Minggu ... Kepadatan tertinggi yang ditemukan oleh analisis ini selama periode tersebut adalah 11,5 μg/m3 pada tanggal 4 Februari – jauh di bawah konsentrasi 1.300 μg/m3 yang dilaporkan di berbagai situs web pada saat itu.”