PT Indonesia Morowali Industrial Park mempekerjakan 43.000 orang, tapi hanya 5.000 karyawan yang dari Tiongkok

Sebuah foto yang menampilkan dua tangkapan layar laporan media mengenai TKA asal Tiongkok di kawasan industri di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, telah dibagikan hampir 2.000 kali di Twitter dan Facebook dengan klaim yang menyatakan kawasan industri itu mempekerjakan 40.000 TKA asal Tiongkok. Klaim itu menyesatkan. Ada 43.000 karyawan yang bekerja di kompleks industri di Morowali tersebut, tetapi hanya sekitar 5.000 karyawan yang berasal dari Tiongkok sedangkan 38.000 lainnya adalah WNI. 

Foto tersebut muncul di Twitter di sini pada tanggal 4 Februari 2020 dan telah dibagikan lebih dari 840 kali. 

Foto itu terdiri dari dua tangkapan layar laporan media Indonesia: satu laporan media oleh Tempo dan yang kedua oleh Warta Ekonomi

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Status unggahan itu berbunyi: “Sebelum wabah virus Corona, Januari 2019, TKA Tiongkok ada 3.000an.

“Setelah wabah, Januari 2020, sudah mencapai 40.000an.

“Peningkatan jumlah TKA dalam satu tahun 37.000an. Tiap bulan rata-rata TKA masuk 3.100an.

“ITU BARU DI MOROWALI DOANG..!!!

“Lu pada sadar gak sih..??”

Judul laporan Tempo berbunyi: “Menaker: TKA Cina di Morowali Hanya Sekitar 3000 Orang”, sedangkan judul laporan Warta Ekonomi berbunyi: “Cegah Virus Corona, Lebih dari 40 Ribu Pekerja China Dikarantina di Morowali”. 

“Morowali” mengacu kepada PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), lokasi industri yang terletak di Kabupaten Morowali, di Provinsi Sulawesi Tengah. Kawasan ini menjadi tempat peleburan bijih nikel dan produksi baja nirkarat dan mayoritas dimiliki oleh Shanghai Decent Investment Group, dari Tiongkok. 

Wabah virus corona baru, yang dipercayai berasal dari kota Wuhan di Tiongkok dan teridentifikasi pada akhir Desember 2019, telah menewaskan lebih dari 630 orang di negara tersebut dan menginfeksi lebih dari 31.000 lainnya, menurut laporan AFP ini tertanggal 7 Februari 2019. 

Foto yang sama dengan klaim yang mirip juga muncul di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini, dan telah dibagikan lebih dari 1.000 kali. 

Akan tetapi, klaim itu menyesatkan. Kawasan industri di Morowali mempekerjakan 43.000 orang, tetapi hanya sekitar 5.000 karyawan yang merupakan warga negara Tiongkok sedangkan 38.000 lainnya adalah WNI. 

-- Laporan Warta Ekonomi --

Pencarian kata kunci di Google menemukan laporan Warta Ekonomi ini dipublikasikan pada tanggal 31 Januari 2020. Judul laporan ini sama dengan foto di unggahan menyesatkan. 

Berikut tangkapan layar laporan Warta Ekonomi: 

Tangkapan layar laporan Warta Ekonomi

Dua paragraf pertama laporan Warta Ekonomi itu berbunyi: “Media asing menyoroti ribuan pekerja asal China yang dikarantina di sebuah pabrik di Morowali untuk mencegah penyebaran virus Corona Wuhan. 

“Seperti dipantau, Jumat (31/1/2020), media Prancis France24 menurunkan judul Thousands on Virus lockdown at China-backed Plant in Indonesia yang jika diartikan Ribuan Orang Dikarantina dalam Pabrik China di Indonesia untuk Mencegah Penyebaran Virus.”

Laporan yang dikutip oleh Warta Ekonomi adalah berita AFP yang diterbitkan ulang oleh media Prancis France24. 

Paragraf kedua dan ketiga laporan AFP menyatakan jumlah keseluruhan pekerja dan jumlah TKA asal Tiongkok di kawasan industri tersebut: “PT Indonesia Morowali Industrial Park telah menutup pusat penambangan nikelnya di Sulawesi dan melarang 43.000 stafnya masuk atau keluar kawasan tanpa izin tertulis.

“Ada sekitar 5.000 pekerja tamu dari Tiongkok di kawasan industri yang luas yang menampung smelter bijih nikel dan produksi baja nirkarat itu.”

Narasumber angka-angka tersebut adalah juru bicara IMIP, Denny Kurniawan. Di dalam pesan WhatsApp kepada AFP tanggal 31 Januari 2020, dia menulis bahwa di IMIP, ada “kurang lebih 5000-an untuk TKA asal tiongkok dan 38 ribu untuk tenaga kerja indonesia”.  

Meskipun judul tulisan Warta Ekonomi mengatakan “Lebih dari 40 Ribu Pekerja China Dikarantina di Morowali”, paragraf kelima dari tulisan tersebut mengutip paragraf ketiga dari berita AFP bahwa “ada sekitar 5.000 pekerja tamu dari Cina daratan” di Morowali.

Berikut perbandingan tangkapan layar antara laporan Warta Ekonomi di unggahan menyesatkan (kiri) dan laporan di situs web (kanan): 

Perbandingan tangkapan layar antara laporan Warta Ekonomi di unggahan menyesatkan (kiri) dan laporan di situs web (kanan)

--Laporan Tempo--

Pencarian kata kunci di Google juga menemukan laporan Tempo ini diterbitkan pada tanggal 26 Januari 2019.

Laporan itu memiliki judul yang sama dengan foto di unggahan menyesatkan. 

Berikut tangkapan layar laporan Tempo:

Tangkapan layar laporan Tempo

Dua paragraf pertama laporan itu berbunyi: “Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menyatakan pekerja asal Cina hanya sekitar 10,7 persen dari total 28.000 lapangan kerja yang ada di Morowali. Atau sekitar 3000 orang. 

“Contoh di Kawasan Industri Morowali. Investasi Cina di sana hingga saat ini membuka 28 ribu lapangan kerja. Dari 28 ribu lapangan kerja yang tersedia, tiga ribu orang diisi tenaga kerja Cina dan 25 ribu orang atau sebagian besar diisi oleh tenaga kerja Indonesia,” kata Hanif melalui siaran pers di Jakarta, Jumat, 26 Januari 2019.”

Berikut perbandingan tangkapan layar antara laporan Tempo di unggahan menyesatkan (kiri) dan laporan di situs web (kanan):

Perbandingan tangkapan layar antara laporan Tempo di unggahan menyesatkan (kiri) dan laporan di situs web (kanan)

Hanif Dhakiri adalah menteri ketenagakerjaan Indonesia dari tahun 2009 sampai tahun 2014. 

Dia mengeluarkan pernyataan di bulan Januari 2019 tentang jumlah pekerja Tiongkok di kawasan industri tersebut setelah sebuah video beredar dengan klaim salah bahwa ada “puluhan ribu pekerja Cina demo di Morowali”. Klaim itu dibantah oleh pemeriksa fakta Tempo di sini.