Termometer tembak aman untuk digunakan, kata para ahli kesehatan

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 23/07/2020 pukul 06:05
  • Waktu baca 3 menit
  • Oleh: AFP Indonesia
Sebuah rekaman video telah ditonton ribuan kali di Facebook dan YouTube dengan klaim bahwa termometer tembak menyebabkan "kerusakan" pada otak karena menggunakan radiasi inframerah. Klaim itu salah; para ahli mengatakan radiasi inframerah termometer tembak tidak membahayakan otak; badan kesehatan di seluruh dunia mendorong penggunaan termometer tembak untuk mengendalikan penyebaran COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru.

Rekaman video itu diunggah di sini di Facebook pada tanggal 20 Juli 2020 dan telah ditonton hampir 550 kali. 

Video berdurasi satu menit itu memperlihatkan dua pria mendiskusikan penggunaan termometer tembak dan bahayanya pada otak.

Status unggahan itu berbunyi: “Lagi Viral “RADIASI LASER THERMO GUN BERBAHAYA BUAT OTAK”. 

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan di Facebook, diambil pada tanggal 21 Juli 2020

Video tersebut telah ditonton lebih dari 7.000 kali setelah dibagikan di sini, di sini, di sini dan di sini di Facebook, dan juga di sini dan di sini di YouTube, dengan klaim serupa.

Akan tetapi, klaim itu salah. 

Sumber video

Gabungan pencarian gambar terbalik dan kata kunci menemukan versi video yang lebih panjang diunggah di sini di YouTube pada tanggal 13 Juli 2020.

Image

Judul video itu berbunyi: “Obrolan Dengan Ichsanuddin Noorsy ini Paling Bergizi Selain Obrolan dengan Bossman Sontoloyo.” 

Ichsanuddin Noorsy, duduk di sebelah kanan dalam video, adalah seorang ekonom dan analis politik. 

"Kalau Anda mau periksa kepala saya, periksa sini," kata Ichsanuddin sembari menunjuk punggung tangannya. 

"Kenapa? Karena hand gun termometer itu untuk meriksa kabel panas. Lasernya dipakai untuk memeriksa kabel panas bukan meriksa untuk temperatur manusia dan kita mau terima dan mereka jual alat dengan mahal. Coba, kebayang kan bagaimana mereka jual alat kemudian kita dibodohi, kepala kita ditembak laser, kita tidak tahu dampak kerusakan pada struktur otak kayak gimana gitu ya."

Video di unggahan menyesatkan cocok dengan video di YouTube dari menit ke-8:33.

Berikut perbandingan tangkapan layar antara video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video di YouTube (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar antara video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video di YouTube (kanan)

'Pernyataan yang salah'

Dalam konferensi pers pada tanggal 20 Juli 2020, juru bicara pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto membantah klaim termometer tembak bisa membahayakan otak.  

“Secara ilmiah, berbagai ahli sudah mengatakan bahwa statement ini tidak benar karena thermal gun hanya mengukur dengan pancaran radiasi sinar inframerah yang setiap saat pasti dipantulkan oleh semua benda yg ada di sekitar kita. Tidak menggunakan sinar laser, tidak menggunakan sinar radioaktif semacam x-ray, hanya infra merah.”

“Berbagai referensi mengatakan referensi yang merusak otak ini adalah statement yang salah dan ini akan membahayakan semua orang dan kemudian kontraproduktif untuk mencegah agar penularan tidak terjadi.” 

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan di sini bahwa termometer tembak "dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit di antara orang yang sedang dievaluasi". Selain itu, tidak dibahas apakah termometer tembak dapat menyebabkan kerusakan pada otak.

Departemen Kesehatan Hong Kong mencatat bahwa termometer dahi inframerah "hanya boleh digunakan untuk pemeriksaan daripada tujuan diagnostik karena kesalahan pengukuran yang lebih besar."

AFP Factual dalam bahasa Spanyol telah menerbitkan dua artikel periksa fakta yang membantah klaim bahwa termometer tembak menyebabkan kanker dan kerusakan otak di sini, dan membunuh neuron di sini

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami