Video lebih panjang memperlihatkan Erdogan duduk di samping Macron saat jumpa pers KTT Suriah tahun 2018

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah rekaman video telah ditonton puluhan ribu kali di Facebook dan Twitter dengan klaim video itu menunjukkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menolak duduk dan berjabat tangan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di tahun 2020. Klaim itu salah: video dengan durasi yang lebih panjang memperlihatkan Erdogan duduk di samping Macron, serta Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kanselir Jerman Angela Merkel saat konferensi pers KTT Suriah di bulan Oktober 2018. 

Rekaman video berdurasi tujuh detik itu diunggah pada tanggal 28 November 2020 di Facebook di sini dan telah ditonton lebih dari 56.000 kali. 

Video tersebut menunjukkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meninggalkan kursinya dan berjalan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron mengikuti di belakang.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 30 November 2020

Sebagian status unggahan yang panjang itu berbunyi: “Keren Sultan Erdogan, Dia tidak mau duduk dan salaman dengan orang yang telah menghina Islam dan Nabi Muhammad. Sama sekali tidak di perdulikannya pemimpin Prancis.

“‘Erdogan memberi tau Ini dia (Macron) yang najis, Izinkan saya pergi dengan izin Anda, Merkel, Saya tidak bisa duduk bersamanya.’” 

Bersama negara-negara mayoritas muslim lainnya, Erdogan ikut menyerukan pemboikotan produk Prancis di akhir bulan Oktober 2020 setelah Macron membela hak untuk menerbitkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad, AFP melaporkan di sini. Macron mengeluarkan pernyataan tersebut menyusul pembunuhan seorang guru Prancis yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya.

Rekaman video itu telah ditonton lebih dari 88.000 kali setelah dibagikan dengan klaim serupa di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini; serta di Twitter di sini dan di sini.

Video yang sama dengan klaim serupa dalam bahasa Malaysia bisa dilihat di sini dan di sini

Akan tetapi, klaim itu salah. 

Pencarian gambar terbalik di Yandex diikuti dengan pencarian kata kunci di Google menemukan video berdurasi dua jam dan 17 menit ini yang memperlihatkan adegan-adegan yang sama dengan rekaman video di unggahan menyesatkan. 

Video tersebut diunggah pada tanggal 27 Oktober 2018 di saluran YouTube kantor berita video dari Rusia, Ruptly, dengan judul berbahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai: “LIVE: Erdogan, Putin, Macron, Merkel memberikan pernyataan setelah KTT Suriah”. 

Paragraf pertama keterangan video itu berbunyi: ”Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan pernyataan pers bersama setelah KTT untuk membahas situasi yang sedang berlangsung di Suriah, di Istanbul pada hari Sabtu, 27 Oktober.”

 

Adegan di video menyesatkan bisa dilihat di video Ruptly di jam ke-2:15. Rekaman video di unggahan menyesatkan diperlambat dari video aslinya. 

Di awal video, Macron terlihat duduk di sebelah Erdogan selama konferensi pers. 

Berikut perbandingan tangkapan layar antara video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video Ruptly (kanan):

Perbandingan tangkapan layar antara video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video Ruptly (kanan)

Foto AFP dari acara yang sama pada tanggal 27 Oktober 2018 itu memperlihatkan keempat pemimpin negara tersebut berpegangan tangan.

Tangkapan layar foto AFP 

Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, keterangan foto itu berbunyi: “(Dari kiri) Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, berpegangan tangan setelah konferensi saat KTT untuk mencoba menemukan solusi politik atas perang saudara di Suriah yang telah merenggut lebih dari 350.000 nyawa, di Vahdettin Mansion di Istanbul, pada tanggal 27 Oktober 2018. Para pemimpin Turki, Rusia, Prancis, dan Jerman tersebut akan bertemu di Istanbul untuk mencoba menemukan solusi politik jangka panjang untuk perang saudara Suriah dan menyelamatkan gencatan senjata yang rapuh di provinsi di bagian utara yang dikuasai pemberontak.”