
Postingan sesat mengklaim 'pisang berbintik hitam mengandung zat antikanker'
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 13/06/2022 pukul 05:49
- Diperbarui pada hari 13/06/2022 pukul 06:18
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Montira RUNGJIRAJITTRANON, AFP Thailand, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Klaim itu muncul dalam postingan Facebook ini, yang diunggah pada tanggal 10 April 2022.
"Jangan terburu-buru membuang pisang yang kulitnya sudah berbintik-bintik hitam ... pisang matang dengan kulit berbintik cokelat memberikan banyak manfaat bagi tubuh," demikian bunyi sebagian status panjang unggahan tersebut.
"Semakin matang pisang yang akan Anda konsumsi, maka semakin banyak TNF yang dikandungnya. TNF atau TUmor Necrosis Factor merupakan zat yang mampu merusak sel abnormal seperti sel kanker di dalam tubuh. Secara khusus, TNF membantu komunikasi antar sel dalam sistem kekebalan tubuh dan memandu pergerakan sel di area-area tubuh yang terkena infeksi atau mengalami radang."

"Tumor Necrosis Factor", atau TNF, adalah zat yang dibentuk oleh sel-sel darah putih mamalia. Menurut Institut Kanker Nasional di Amerika Serikat, zat tersebut menyebabkan inflamasi saat sistem imun tubuh dipicu oleh infeksi.
Klaim serupa telah beredar setidaknya sejak tahun 2013 di sini dan telah dibagikan lebih dari 80 kali setelah muncul di postingan ini dan ini.
Narasi itu juga muncul dalam berbagai bahasa lain, seperti bahasa Thailand, bahasa Inggris dan bahasa Malaysia.
Akan tetapi, klaim tersebut menyesatkan.
Studi ilmuwan Jepang
Pencarian kata terkait di Google menemukan studi yang diterbitkan jurnal Food Science and Technology Research (Ilmu dan Riset Teknologi Pangan) pada tanggak 4 Februari 2009.
Studi tersebut menyebutkan potensi pisang untuk "mencegah penyakit dari gaya hidup dan karsinogenesis".
Dalam studi yang telah melalui peninjauan sejawat (peer review), peneliti Jepang menguji efek cairan pisang pada produksi respons imun -- termasuk produksi TNF -- dengan menyuntikannya pada tikus.
Mereka menemukan bahwa ada satu jenis pisang yang memicu respons lebih tinggi ketika buahnya semakin matang.
Namun studi tersebut tidak menganjurkan manusia untuk meningkatkan konsumsi pisang terlalu matang, maupun menyebutkan buah tersebut dapat mencegah penyakit seperti flu atau kanker.
Kajian tersebut juga tidak menyebutkan bahwa pisang mengandung TNF.
TNF tidak terdapat pada tumbuhan, ujar Dr Jessada Denduangboripant, dosen biologi di Universitas Chulalongkorn, di Bangkok, dalam sebuah wawancara dengan AFP pada tanggal 11 Mei 2022.
"TNF adalah zat yang menjadi bagian sistem imun mamalia. Zat tersebut tidak ada pada pisang dan tumbuhan lainnya," ujar Dr Jessada, yang aktif menggunakan metode saintifik untuk menangkis rumor-rumor berkedok sains di Thailand.
"Ini adalah hoaks lama yang sama sekali tidak benar," pungkasnya.
Mengandung banyak gula
Pakar kesehatan telah mewanti-wanti bahwa kebanyakan mengonsumsi pisang yang terlalu matang juga dapat berpengaruh buruk pada kesehatan.
"Pisang yang terlalu matang mengandung banyak zat tepung dan gula, yang dapat berujung pada obesitas," Bang-earn Thongmon, ahli gizi pada Biro Gizi Thailand, instansi dari kementerian kesehatan negara tersebut, berkata kepada dengan AFP pada tanggal 10 Mei 2022.
Bang-earn menuturkan, tidak ada bukti bahwa makan pisang dapat mencegah penyakit-penyakit.
Bang-earn menganjurkan konsumsi "tidak lebih dari dua pisang dalam sehari" -- idealnya, saat kulit pisang telah menjadi kuning namun masih ada sedikit warna hijau.
"Meskipun pisang adalah buah yang mengandung nutrisi, pisang yang terlalu matang itu banyak mengandung gula," tambah Dr Jessada.
Sebelumnya, AFP telah membongkar misinformasi lain mengenai manfaat kesehatan pisang di sini dan di sini.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami