Seorang perawat memegang alat suntik yang berisi vaksin Covid-19 AstraZeneca di sebuah pusat vaksinasi di Guadalajara, Meksiko, pada tanggal 6 April 2022. ( AFP / Ulises Ruiz)

Postingan sesat menghubungkan vaksin Covid AstraZeneca dengan kasus cacar monyet

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Berbagai postingan mengaitkan kasus cacar monyet yang mulai ditemukan di luar negara-negara di mana penyakit itu endemik dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca, yang menggunakan vektor adenovirus simpanse. Klaim itu menyesatkan. Pakar kesehatan mengatakan kepada AFP bahwa virus yang menyebabkan cacar monyet itu berbeda dengan vektor adenovirus AstraZeneca, yang tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Pakar juga mengatakan adenovirus simpanse yang digunakan dalam vaksin AstraZeneca sudah dilemahkan dan telah diubah sehingga tak bisa menginfeksi manusia maupun bereplikasi.

Klaim itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 22 Mei 2022.

Status unggahan Facebook itu berbunyi: "Ga bakal nunggu lama... Cacar Monyet Akan di adakan dan di datangkan di Indonesia... Cause Monkey business".

Postingan itu juga mengunggah sebuah foto daftar bahan dalam vaksin Covid-19 AstraZeneca, dengan melingkari kata "chimpanzee adenovirus", atau adenovirus simpanse.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 10 Juni 2022

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan AstraZeneca dan Universitas Oxford menggunakan vektor vaksin adenovirus simpanse yang berfungsi mengantarkan instruksi genetik di dalam tubuh manusia untuk memicu produksi protein lonjakan yang mirip dengan virus SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

Ini akan memicu respons imun dalam tubuh sehingga tubuh akan siap melawan virus saat benar terjadi infeksi.

Lebih dari seribu kasus cacar monyet positif telah dilaporkan di 29 negara di mana penyakit itu tidak endemik, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 8 Juni 2022.

Cacar monyet, yang merupakan penyakit yang lebih ringan daripada cacar, merupakan penyakit endemik di 11 negara di Afrika Barat dan Tengah.

Cacar monyet menyebar melalui kontak dekat dengan orang atau hewan yang terinfeksi, atau dengan benda yang telah terkontaminasi dengan virus.

Gejala awalnya termasuk demam tinggi, diikuti dengan munculnya ruam.

Orang yang terinfeksi mengalami ruam seperti cacar air di tangan dan wajah mereka.

Tidak ada pengobatan untuk cacar monyet, tetapi gejalanya biasanya hilang setelah dua sampai empat minggu, dan biasanya tidak berakibat fatal.

Klaim tersebut juga muncul dalam bahasa Indonesia di Facebook di sini; serta di Twitter di sini, di sini dan di sini.

Unggahan serupa yang mengaitkan kasus cacar monyet dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca juga beredar dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Korea, bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Prancis, bahasa Spanyol dan bahasa Portugis.

Namun, para ahli kesehatan mengatakan postingan itu menyesatkan.

Virus 'sama sekali berbeda'

"Virus cacar monyet dan adenovirus simpanse yang digunakan dalam vaksin AstraZeneca adalah virus yang sama sekali berbeda, dan tidak boleh dikacaukan satu sama lain," Profesor Yoo Jin-hong, pakar epidemiologi di Universitas Katolik Korea, di Seoul, mengatakan kepada AFP pada tanggal 26 Mei 2022.

Dia mengatakan klaim menyesatkan "tampaknya berasal dari ide bahwa simpanse secara luas disebut sebagai monyet, tetapi ini adalah rumor yang sangat bodoh tanpa berdasarkan fakta".

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, virus cacar monyet termasuk dalam kelompok yang disebut "Orthopoxvirus", yang juga termasuk virus penyebab cacar dan cacar sapi.

Sementara itu, adenovirus menyebabkan berbagai penyakit mulai dari gejala flu biasa atau seperti flu hingga radang perut, kata CDC.

Vaksin yang aman

Tambahan lagi, vektor adenovirus dalam vaksin Covid-19 AstraZeneca tidak menyebabkan penyakit pada manusia, jelas Yoo.

"Adenovirus simpanse yang digunakan dalam vaksin telah dimodifikasi untuk mencegah virus bereplikasi, dan karenanya tidak berbahaya bagi manusia," katanya.

Vaksin "tidak dapat menghasilkan virus baru di dalam manusia dan menyebabkan penyakit seperti cacar monyet", Profesor Eom Jung-shik, ahli penyakit menular di Gachon University Gil Medical Center, di Korea Selatan, mengatakan kepada AFP pada tanggal 25 Mei 2022.

Vaksin Covid-19 sering menjadi target misinformasi meskipun, seperti ditunjukkan berbagai otoritas kesehatan, miliaran orang di seluruh dunia telah divaksinasi dengan aman.

14 Juni 2022 Laporan ini diperbarui untuk memperbaiki tautan postingan menyesatkan dalam bahasa Spanyol dan bahasa Portugis.
COVID-19 VAKSIN Cacar monyet