Ini video Jokowi menyatakan perang terhadap narkoba, bukan dengan Malaysia

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 01/08/2022 pukul 10:42
  • Diperbarui pada hari 20/03/2023 pukul 12:50
  • Waktu baca 5 menit
  • Oleh: AFP Indonesia
Sebuah video YouTube yang diklaim memperlihatkan Presiden Joko Widodo menyatakan perang dengan Malaysia telah ditonton lebih dari sejuta kali. Klaim itu salah. Video itu aslinya memperlihatkan Presiden Jokowi sedang berpidato dalam acara peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional di tahun 2016, di mana ia menyatakan perang terhadap narkoba. Dalam video menyesatkan itu, pidato Jokowi telah diedit dan bagian-bagian yang menyebut narkoba atau pengedar narkoba telah dihilangkan.

"Akhirnya!! Jokowi resmi umumkan perang dengan Malaysia ~ viral terbaru hari ini," tulis judul video YouTube bertanggal 21 Juli 2022 ini.

Video berdurasi delapan menit itu berisi klip Presiden Jokowi sedang memberikan pidato dan telah ditonton lebih dari satu juta kali.

"Kejahatan luar biasa ini sudah merengkuh berbagai lapisan masyarakat. Semua itu harus dihentikan, harus dilawan, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Kita tegaskan perang," demikian bunyi pidato Jokowi dalam video itu.

"Kejar mereka, tangkap mereka, hajar mereka, hantam mereka. Kalau undang-undang memperbolehkan, dor mereka! Kalau ini dibiarkan, ini bisa kemana-mana, bisa melemahkan sendi-sendi kehidupan kita berbangsa dan bernegara kita.

"Dan kata-kata sudah tidak diperlukan lagi, kita memerlukan tindakan-tindakan yang konkrit, tindakan-tindakan yang nyata.

"Dengan kekuatan dan kecerdasan kita bersama, sekali lagi, kita kejar, kita tangkap, kita hajar. Di manapun, saya perintahkan untuk hadir dan memberantasnya. Sekali lagi, saya ingin tegaskan saatnya kita perang."

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 28 Juli 2022

Video itu juga memperdengarkan narator wanita yang mengatakan bahwa "Malaysia mungkin perlu ditantang perang", serta memperlihatkan beragam tayangan tentara dalam berbagai kegiatan.

Negara serumpun Indonesia dan Malaysia sering terlibat dalam perselisihan, dari soal budaya sampai soal wilayah.

Baru-baru ini, di bulan Juni 2022, mantan perdana menteri Mahathir Mohamad memberikan pernyataan kontroversial saat menyatakan bahwa Provinsi Kepulauan Riau -- dan Singapura -- semestinya dikembalikan ke Malaysia karena wilayah itu termasuk "tanah Melayu".

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan klaim Mahathir itu tanpa "dasar hukum". Mahathir kemudian mengklarifikasi pemberitaan tentang dirinya dan mengatakan pernyataannya telah dikutip tanpa konteks.

Video itu juga telah dibagikan dengan klaim yang mirip di YouTube di sini, di sini dan di sini, juga di Facebook di sini.

Beberapa komentar di media sosial menyatakan dukungan terhadap klaim tersebut.

Salah satu pengguna YouTube menulis: "bravo TNI , nkri harga mati , harga diri bangsa dan negara adalah segalanya", sedangkan lainnya menyatakan: "Rakyat tidak akan tinggal dan diam pasti turun tangan untuk membela pasti."

Image
Tangkapan layar komentar pengguna YouTube, diambil pada tanggal 29 Juli 2022

Namun, klaim itu salah.

Pidato Jokowi

Pencarian gambar terbalik dan kata kunci di Google menemukan video yang lebih panjang telah dimuat di saluran YouTube Kementerian Sekretariat Negara pada tanggal 27 Juni 2016.

Video tersebut berjudul: "Presiden Jokowi: Kejar Pengedar Narkoba! Tangkap! atau Bahkan di Dor Saja!"

Berikut perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli yang diunggah Kementerian Sekretariat Negara (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli (kanan)

Video di unggahan menyesatkan telah diedit, di antaranya menghilangkan kata-kata yang menyebut soal narkoba atau pengedar narkoba.

Berikut pidato yang diucapkan Jokowi dalam video aslinya -- AFP telah menandai bagian yang dimasukkan dalam video menyesatkan dengan huruf cetak tebal:

"Dan lebih mengkhawatirkan lagi, kejahatan luar biasa ini sudah merengkuh berbagai lapisan masyarakat. Tadi juga disampaikan oleh Kepala BNN, anak di TK sudah ada yang terkena narkoba, anak di SD sudah juga ada yang terkena narkoba. Dan tidak hanya di kota, di kampung, di desa. Tidak hanya orang dewasa, remaja, anak-anak, dan bahkan tadi saya sampaikan yang di TK pun sudah dimasuki narkoba. Tidak hanya orang biasa tapi juga ada aparat, ada pejabat, dan ini yang seharusnya menjadi panutan juga terkena narkoba..."

"Semua itu harus dihentikan, harus dilawan, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Kita tegaskan perang melawan narkoba di Indonesia. Saya ingin ingatkan kepada kita semuanya di kementerian, di lembaga, di aparat-aparat hukum kita. Terutama di Polri, tegaskan sekali lagi kepada seluruh Kapolda, jajaran Polda, kepada seluruh Kapolres, jajaran Polres, Polsek semuanya, kejar mereka, tangkap mereka, hajar mereka, hantam mereka. Kalau undang-undang memperbolehkan, dor mereka! ...

"Hadirin sekalian yang saya muliakan, yang saya hormati. Saya ingatkan semua kita harus bersinergi, pesantren, universitas, kementerian, lembaga, kota, kabupaten provinsi, semuanya. Kita kadang-kadang terhanyut dalam rutinitas harian kita, padahal kalau ini dibiarkan, ini bisa kemana-mana, bisa melemahkan sendi-sendi kehidupan kita berbangsa dan bernegara kita. Kalau sudah sampai desa, sudah sampai kampung, sudah sampai TK, sudah sampai SD, ini perlu kita mengingatkan betul betapa sangat bahayanya narkoba itu.

"Dan kata-kata sudah tidak diperlukan lagi, kita memerlukan tindakan-tindakan yang konkrit, tindakan-tindakan yang nyata. Saya perlu ingatkan, semua harus bersinergi mulai BNN, Polri, kementerian, lembaga, LSM, masyarakat, semua harus betul-betul melakukan langkah-langkah yang terpadu untuk melawan narkoba, langkah-langkah yang progresif, yang mengalahkan kelicikan para pengedar narkoba. Dan tidak kalah penting, semua harus menghilangkan ego kita masing-masing, egosektoral."

Jokowi mengakhiri pidatonya dengan mengatakan: "Dengan kekuatan dan kecerdasan kita bersama, sekali lagi, kita kejar, kita tangkap, kita hajar para pengedar narkoba, baik yang besar, baik yang sedang, baik yang kecil. Sambil kita kuatkan lagi jaringan sosial dan budaya yang bisa menjadi benteng mencegah menjamurnya narkoba. Di manapun ada narkoba di Indonesia, saya perintahkan seluruh sumberdaya pemerintah untuk hadir dan memberantasnya, di lapas, di sekolah, di perbatasan, di bandara, di pelabuhan, di kantor-kantor instansi pemerintah, dimanapun. Sekali lagi, dimanapun ada narkoba kita harus berantas. Negara kita Indonesia tidak boleh dijadikan tempat lalu lintas peredaran dan perdagangan narkoba lagi, apalagi menjadi tempat produksi barang-barang haram tersebut. Sekali lagi, saya ingin tegaskan saatnya kita perang melawan narkoba."

Transkrip pidato Jokowi itu bisa ditemukan di sini, di situs web Kementerian Sekretariat Negara.

Menurut keterangan transkrip pidato, Presiden Jokowi menyampaikan pidato itu dalam rangka memperingati Hari Anti-Narkoba Internasional, yang jatuh pada tanggal 26 Juni.

Pidato Jokowi itu juga dimuat di berbagai laporan media pada tanggal 26 Juni 2016, misalnya Kompas TV, Tempo.co dan Bisnis.com.

Klip dan audio lainnya

Video menyesatkan itu juga berisi sejumlah klip yang memperlihatkan prajurit tentara dalam berbagai kegiatan, termasuk persiapan pemberangkatan pasukan ke perbatasan dengan Papua Nugini pada bulan Januari 2021 dan upacara wisuda prajurit di bulan Maret 2022.

Di samping pidato Jokowi, video menyesatkan itu juga memperdengarkan suara seorang wanita menarasikan ketegangan antara Indonesia dan Malaysia, yang ternyata adalah laporan berita lama -- beberapa di antaranya dari tahun 2010 -- yakni ini, ini, ini dan ini.

Hingga tanggal 1 Agustus 2022, tidak ada laporan resmi yang menyebut Indonesia telah menyatakan perang dengan Malaysia.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami