Video ini tidak memperlihatkan tiga anggota DPR yang ditangkap KPK karena menerima suap dari Ferdy Sambo

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 19/09/2022 pukul 12:14
  • Diperbarui pada hari 21/09/2022 pukul 06:02
  • Waktu baca 5 menit
  • Oleh: AFP Indonesia
Sebuah video telah ditonton ratusan ribu kali di berbagai unggahan media sosial yang mengklaim video itu menunjukkan KPK menahan tiga anggota DPR karena menerima suap dari Irjen Pol Ferdy Sambo, yang menjadi tersangka kasus pembunuhan. Namun, klaim tersebut salah. Video itu berisi kumpulan klip yang tak berkaitan, termasuk konpers KPK tentang penangkapan tersangka kasus korupsi di Universitas Lampung. Tidak ada informasi resmi dari KPK tentang penahanan anggota DPR terkait kasus Sambo. 

Video itu telah ditonton lebih dari 283.000 kali sejak diunggah di YouTube di sini pada tanggal 27 Agustus 2022.

Unggahan itu diberi keterangan: "3 ANGGOTA DPR RI PENERIMA SUAP FERDY SAMBO RESMI DITAHAN HARI INI.."

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 16 September 2022

Irjen Pol Ferdy Sambo dipecat dari jabatannya sebagai kepala divisi profesi dan pengamanan (kadiv propam) Polri setelah dijadikan tersangka dalam kasus pembunuhan ajudan pribadinya, Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat.

Polri juga telah menetapkan istri Sambo, Putri Candrawathi, sebagai tersangka.

Video berdurasi delapan menit itu berisi kumpulan klip. Tayangan pertama menunjukkan konferensi pers Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dua petugas KPK terdengar berbicara tentang "operasi tangkap tangan kasus suap" dan "gratifikasi oleh penyelenggara negara".

Kemudian terdapat klip komentar politik terselip di antara tayangan konferensi KPK dan klip yang memperlihatkan Sambo diapit  beberapa anggota polisi.

Tayangan komentar politik pertama --bisa dilihat pada detik ke-50 di video menyesatkan-- memperlihatkan pakar hukum Refly Harun berbicara tentang "kemungkinan sumber-sumber keuangan Ferdy Sambo".

Pada menit ke-1:22, seorang pria yang tak dikenal berbicara tentang "tiga pimpinan DPR ditangkap KPK" tanpa menyebut nama.

Pada menit ke-2:22, penggiat antikorupsi Boyamin Saiman berkomentar tentang praktek korupsi pada politisi Indonesia.

Klip terakhir, pada menit ke-3:21, menunjukkan Arsul Sani, anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), berbicara tentang gaya hidup mewah aparat penegak hukum.

Bagian kedua terakhir video memperdengarkan suara seorang narator wanita yang membacakan berita berbahasa Indonesia tentang kasus pembunuhan tersebut.

Video itu telah ditonton lebih dari 554.000 kali setelah dibagikan dengan klaim yang mirip di Facebook di sini dan di sini, dan di YouTube di sini dan di sini.

Namun, klaim tersebut salah.

Hingga tanggal 19 September 2022, tidak ada pengumuman resmi di situs web KPK tentang penangkapan anggota DPR karena menerima suap dari Ferdy Sambo.

Video yang tidak berhubungan

Penelusuran gambar terbalik menggunakan tangkapan layar dari video menyesatkan menemukan tayangan awal diambil dari laporan berita Kompas TV, yang diunggah di kanal YouTube mereka pada tanggal 21 Agustus 2022.

Video Kompas TV itu menunjukkan KPK sedang mengumumkan Karomani, rektor Universitas Lampung, sebagai tersangka suap penerimaan mahasiswa baru.

Yang hadir dalam konferensi pers itu antara lain juru bicara KPK Ali Fikri, wakil KPK Nurul Ghufron dan direktur penyidikan Asep Guntur Rahayu.

"Pada kegiatan tangkap tangan yang KPK lakukan pada hari Jumat tanggal, 19 Agustus 2022, sekitar pukul 21:00 WIB, tim KPK telah mengamankan delapan orang di wilayah Lampung, Bandung dan Bali. Pertama, saudara KRM, rektor Universitas Lampung periode 2020-2024," kata Ghufron dalam video itu, menyebut Karomani sebagai KRM.

Berikut perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli dari Kompas TV (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli dari Kompas TV (kanan)

Penyarian gambar terbalik menggunakan tangkapan layar tayangan di video itu menemukan tiga dari empat klip yang ada dalam video.

Tayangan yang memperlihatkan Refly Harun diambil dari menit ke 2:10 di video ini, yang telah diunggah di saluran YouTube pribadi Refly pada tanggal 15 Agustus 2022.

Di video itu, Refly mendiskusikan pernyataan ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Imam Santoso, yang mengklaim Sambo telah menyuap beberapa orang termasuk anggota DPR RI untuk mengaburkan kasus pembunuhan terhadap ajudannya.

Sugeng tidak menyebut nama dan selanjutnya mengklarifikasi pernyataannya dengan mengatakan kalau dia salah ucap.

Berikut perbandingan tangkapan layar salah satu tayangan di video menyesatkan (kiri) dan video di saluran YouTube Refly Harun (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar tayangan di video menyesatkan (kiri) dan video di saluran YouTube Refly Harun (kanan)

Klip yang menampilkan aktivis antikorupsi Boyamin Saiman dapat dilihat pada menit ke 2:50 dari laporan berita tvOne ini.

Laporan tersebut -- berjudul "Gaji Sudah Tinggi, Mengapa Masih Ada Oknum DPR yang Korupsi?" -- diunggah ke YouTube pada 27 September 2021, hampir setahun sebelum pembunuhan ajudan Sambo pada 8 Juli 2022.

Berikut perbandingan tangkapan layar tayangan di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli dari tvOne (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar tayangan dalam video menyesatkan (kiri) dan video asli dari tvOne (kanan)

Klip terakhir yang memperlihatkan Arsul Sani diambil dari segmen berita Berita Satu tahun 2017 ini, di mana ia mengatakan hukuman mati tidak menjamin akan memberikan efek jerah bagi koruptor.

Berikut perbandingan tangkapan layar tayangan video menyesatkan (kiri) dan video asli dari Berita Satu (kanan):

Image
Perbandingan tangkapan layar tayangan video menyesatkan (kiri) dan video asli dari Berita Satu (kanan)

Dugaan korupsi

Laporan berita yang dibacakan di bagian akhir video menyesatkan itu diterbitkan Tribunnews pada tanggal 26 Agustus 2022.

Artikel tersebut mengutip kesaksian Sugeng di depan anggota Mahkamah Kehormatan DPR pada hari sebelumnya, di mana ia menceritakan bagaimana beberapa anggota DPR menghubunginya untuk membela Sambo.

Dalam kesempatan yang sama dia membuat klarifikasi dan mengaku "terpeleset lidah" dalam wawancara dengan media dan dia menemukan tidak ada anggota parlemen yang disuap oleh Sambo, seperti yang dilaporkan Tribunnews dan Suara.com.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami