Video lama presiden Pakistan diberi narasi salah terkait pelarangan senjata nuklir
- Diterbitkan pada hari 08/05/2026 pukul 12:56
- Diperbarui pada hari 08/05/2026 pukul 13:09
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Video lama mantan presiden Pakistan Zulfikar Ali Bhutto berbicara di sebuah rapat dengan nada tinggi kembali beredar di media sosial dengan klaim salah bahwa ia sedang mengkritik Dewan Keamanan PBB karena melarang negaranya memiliki senjata nuklir. Video ini muncul di tengah pujian yang diterima Pakistan atas perannya menjadi mediator perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan perang di Timur Tengah. Namun, tayangan tersebut sebenarnya memperlihatkan Bhutto sedang melontarkan protes kepada PBB yang dianggap "melegalkan agresi" India ke negaranya saat perang tahun 1971.
"Video bersejarah: Zulfikar Ali Bhuto, Presiden Pakistan, merobek dokumen Perserikatan Bangsa-bangsa ketika diberitahu bahwa Pakistan tidak boleh memiliki senjata nuklir," tulis teks yang ditempelkan pada video di unggahan Instagram tertanggal 16 April 2026.
Video tersebut menunjukkan presiden keempat Pakistan berbicara sambil menggebrak meja di depannya.
"Saya tidak menjadi bagian dari itu. Kami akan berjuang; kami akan kembali dan berjuang. Negara saya memanggil saya. Mengapa saya harus membuang waktu saya di sini, di Dewan Keamanan? Saya tidak akan menjadi bagian dari penyerahan yang memalukan atas sebagian wilayah negara saya," kata Bhutto.
Presiden kemudian merobek sebuah dokumen, dan meninggalkan tempat tersebut sambil berkata: "Anda bisa ambil Dewan Keamanan ini. Ambil. Saya pergi."
Video ini kembali beredar setelah Pakistan mengambil peran sebagai mediator dalam negosiasi damai antara Tehran dan Washington untuk menyudahi perang di Timur Tengah (tautan arsip). Langkah ini membuat Islamabad menuai pujian di panggung global karena berhasil mengamankan gencatan senjata di menit-menit terakhir antara pihak-pihak yang bertikai.
Presiden AS Donald Trump mengklaim "kemajuan besar telah dicapai menuju kesepakatan final" dengan Tehran (tautan arsip). Trump juga memuji Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan panglima militer Asim Munir atas peran mereka dalam memfasilitasi pembicaraan (tautan arsip).
Rekaman itu juga beredar dengan klaim yang mirip di TikTok.
Namun, video yang beredar tersebut tidak menunjukkan Bhutto mengkritik PBB karena melarang Pakistan memiliki senjata nuklir.
Melalui pencarian gambar terbalik menggunakan potongan gambar dari video yang beredar, AFP menemukan rekaman tersebut telah diunggah di YouTube pada Desember 2007 (tautan arsip).
Video tersebut berjudul: "Zulfiqar Ali Bhutto - Pidato Dewan Keamanan PBB (15 Desember 1971) Takarir Bahasa Inggris".
Deskripsinya menyatakan: "Pidato berapi-api ini disampaikan oleh Zulfiqar Ali Bhutto di Dewan Keamanan PBB, sembari ia melambaikan tangan dan jari telunjuknya mengecam India atas agresi dan menyatakan 'kami akan berjuang selama seribu tahun,' sebelum ia merobek beberapa dokumen Dewan Keamanan dan keluar dari ruangan dengan marah."
"Setelah dua minggu pertempuran sengit, kedua negara menghadapi tekanan politik yang cukup besar dari AS, Inggris, dan Uni Soviet dan menyetujui gencatan senjata yang didukung oleh PBB. Konflik tersebut berakhir dengan buntu begitu saja."
Pertempuran yang dimaksud dalam deskripsi tersebut adalah perang tahun 1971 yang bermula dari pengerahan pasukan Pakistan pada awal tahun untuk menekan gerakan kemerdekaan yang berkembang di Pakistan Timur -- atau sekarang dikenal dengan Bangladesh (tautan arsip).
Sebanyak tiga juta orang diperkirakan tewas dalam konflik selama sembilan bulan tersebut dan jutaan lainnya mengungsi ke India.
India menginvasi Pakistan Timur pada 3 Desember 1971, dan meskipun deskripsi video YouTube tersebut menyatakan bahwa konflik berakhir buntu, pasukan Pakistan menyerah pada 16 Desember 1971, yang menjadi awal terbentuknya negara Bangladesh.
Rekaman serupa juga diunggah oleh media asal India Business Standard dan oleh Partai Rakyat Pakistan, sebuah partai sayap kiri yang didirikan oleh Bhutto sendiri (tautan arsip di sini dan sini).
Momen Bhutto keluar dari rapat Dewan Keamanan tersebut telah diberitakan oleh The New York Times dan terdokumentasi dalam foto-foto PBB pada 15 Desember 1971 (tautan arsip di sini dan di sini).
Laporan New York Times menyebutkan bahwa Bhutto menuduh Dewan Keamanan "melegalkan agresi" yang dilakukan India dalam perang tahun 1971 antara kedua negara. Laporan itu juga menyebutkan bahwa Bhutto "tampaknya menyinggung veto berturut-turut oleh Uni Soviet -- pendukung India -- terhadap resolusi yang menyerukan penarikan pasukan."
Tidak ada penyebutan tentang larangan kepemilikan senjata nuklir untuk Pakistan di dalam video maupun di laporan tersebut.
Di bawah kepemimpinan Bhutto, Pakistan mulai mengembangkan senjata nuklir pada tahun 1972 (tautan arsip). Pakistan menjadi satu-satunya negara Islam yang memiliki senjata nuklir pada tahun 1998, dan tidak ada larangan atau sanksi PBB yang dikenakan pada Islamabad.
Artikel ini telah dimuat ulang untuk memperbarui header.8 Mei 2026 Artikel ini telah dimuat ulang untuk memperbarui header.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami