Donald Trump dibuat panik oleh teriakan ‘Allahu Akbar’? Video ini telah disunting

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Video Donald Trump berpidato telah ditonton jutaan kali dan dibagikan puluhan ribuan kali di Facebook, Twitter serta YouTube dan diklaim menunjukkan seseorang berteriak “Allahu Akbar” dan membuat panik presiden Amerika Serikat dan petugas keamanan. Namun video itu telah disunting dengan menambahkan teriakan “Allahu Akbar”, suara takbir yang tidak ditemukan di video aslinya; insiden itu terjadi pada bulan Maret 2016 saat Trump belum menjadi presiden.

Video berdurasi 25 detik ini telah dicuitkan ulang lebih dari 800 dan ditonton hampir 94,000 kali sejak diunggah di Twitter tanggal 9 Januari 2020.

Tayangan video itu menunjukkan Trump sedang berpidato di dalam sebuah kampanye lalu tiba-tiba ia terlihat panik, menghentikan pidatonya dan diapit beberapa orang pengawal setelah terdengar suara takbir “Allahu Akbar”. 

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Cuitan di Twitter itu tertulis: “Ketika SETAN mendengar kalimat TAKBIR!”

Unggahan itu juga diikuti tagar “#IranVSAmerica”. 

Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah salah seorang petinggi militer Iran dibunuh oleh militer Amerika di Irak pada tanggal 3 Januari 2020. Iran melakukan serangan balasan dengan meluncurkan beberapa misil pada tanggal 8 Januari 2020 ke pangkalan militer Amerika di Irak, menurut laporan AFP di sini.

Video dengan klaim yang serupa juga dibagikan di Facebook di sini dan di sini; juga di Twitter di sini dan sini, di mana video itu telah ditonton lebih dari 5 juta kali; serta di YouTube di sini dan di sini.

Video menyesatkan itu juga dibagikan di berbagai unggahan Facebook dalam bahasa Hindi, misalnya di sini, dimana tayangannya telah ditonton hampir 880.000 kali dan dibagikan lebih dari 23.000 kali.

Namun klaim tersebut salah; video itu menunjukkan insiden di Ohio pada tanggal 12 Maret 2016 saat Trump berkampanye sebagai calon presiden Amerika Serikat; di beberapa video yang memuat kejadian kampanye itu tidak satupun di antaranya terdengar teriakan “Allahu Akbar”.

Pencarian gambar terbalik di Google menggunakan salah satu cuplikan video itu menemukan video berisi tayangan yang serupa dipublikasikan oleh ABC News pada tanggal 12 Maret 2016 di akun YouTube resminya di sini.

Video ABC News berdurasi 45 detik terjemahan judulnya adalah: “Pengawal Dinas Rahasia Trump Bergegas ke Panggung di Kampanye Ohio.”

Terjemahan keterangan video itu adalah: “Anggota Dinas Rahasia harus menemani Trump di panggung saat kampanye di Ohio pada hari Sabtu, hanya sehari setelah dia membatalkan sebuah acara karena alasan keamanan.”

Kata “Allahu Akbar” tidak terdengar di video ABC News itu, yang bisa dilihat di bawah ini:

Berikut perbandingan tangkapan layar antara video menyesatkan (kiri) dan video ABC News (kanan):

Perbandingan tangkapan layar antara video menyesatkan (kiri) dan video ABC News (kanan)

Inside kampanye Trump itu juga telah diberitakan media lain, misalnya oleh NBC News di sini dan BBC News di sini.

Video berbeda yang menampilkan seluruh rangkaian kampanye Trump itu, dengan durasi 1 jam 20 menit, dipublikasikan oleh C-Span pada tanggal 12 Maret di sini.

Pada menit ke 53:30 di video itu, Trump terlihat dikelilingi oleh pengawal pribadinya, namun teriakan “Allahu Akbar” tidak terdengar di klip video itu.

Di video kegiatan yang sama diambil dari sudut berbeda diunggah di YouTube di sini pada tanggal 12 Maret 2016 juga tidak terdengar pekikan “Allahu Akbar”. Video itu bisa ditonton di bawah ini:

Foto AFP yang memperlihatkan anggota agen rahasia mengapit Trump di panggung pada tanggal 12 Maret 2016 bisa dilihat di sini.

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, keterangan foto AFP itu artinya: “Anggota dinas rahasia mengapit kandidat presiden Republikan, Donald Trump, setelah sebuah botol dilempar ke panggung saat kampanye pada tanggal 12 Maret 2016 di Vandalia, Ohio. Hari ini adalah kampanye pertama sejak kerusuhan terjadi di salah satu kampanye Trump di Chicago kemarin yang akhirnya menghentikan kampanye tersebut.”

Pengacau di kejadian yang memicu pergerakan petugas keamanan itu kemudian diidentifikasi sebagai Thomas Dimassimo. Dia dituduh dengan pasal perbuatan mengganggu ketertiban oleh petugas, menurut laporan NBC News ini.

Dia dikenai denda US$250 dan hukuman masa percobaan selama setahun, yang kemudian diakhiri pada bulan November 2016.

Di cuitan tanggal 13 Maret ini, Trump menyebut penyerangnya itu terkait dengan jaringan ISIS. Namun tuduhan itu dibantah Dimassimo.