Foto ini menunjukkan dokter Mesir yang pertama kali mengidentifikasikan virus corona MERS namun dia tidak menemukan vaksin

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Foto dokter asal Mesir telah dimuat di sebuah laporan berita dengan judul yang mengatakan dia telah menemukan vaksin virus corona. Laporan itu diterbitkan setelah virus corona yang baru mewabah di kota Wuhan, Cina, menjangkiti lebih dari 28.000 orang di awal bulan Februari. Klaim tersebut menyesatkan: dokter Mesir itu adalah orang pertama yang mengidentifikasi virus corona MERS (Sindrom Pernapasan Timur Tengah) dan dia tidak menemukan vaksin.

Laporan berita tanggal 28 Januari 2020 tentang wabah virus corona yang sedang berlangsung di Cina ini berisi foto dokter Mesir bernama Ali Mohamed Zaki.

Berikut tangkapan layar laporan menyesatkan itu:

Tangkapan layar laporan menyesatkan

RMOL Sumsel adalah bagian dari situs berita Republik Merdeka.

Foto Ali Mohamed Zaki yang digunakan di laporan ini telah diabadikan oleh fotografer Amerika Serikat bernama David Degner di bulan Maret 2013. Foto tersebut bisa dilihat di sini di situs pribadi sang fotografer.

Judul laporan berita itu adalah: “Vaksin Virus Corona Sudah Lama Ditemukan Ilmuwan Mesir”.

Tiga paragraf awal dalam laporan itu tertulis:
“Dunia gaduh karena wabah Virus Corona. Karena dikabarkan hingga saat ini belum ada vaksin atau obat bagi virus, yang telah menewaskan 106 orang di China dan 4.000 orang terinfeksi di beberapa negara.

“Disebut-sebut virus corona membuat penderitanya mengalami radang pernapasan dengan gejala demam, pusing, batuk-batuk, hingga sesak napas. Gejala yang mirip dengan penyakit SARS ini telah membuat dunia gempar, bahkan beberapa kota di China telah diisolasi. Dikatakan juga terduga penyebabnya adalah hewan kelelawar.

“Dilansir Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (28/1/2020), para peneliti mengatakan belum ada vaksin untuk virus mematikan ini. China dan Amerika kini berupaya mencari vaksin menyembuh coronavirus atau virus corona. Ternyata, pada 2012 seorang ilmuwan muslim Mesir, Prof Dr Ali Mohamed Zaki, PhD (virologist), dari Rumah Sakit Dr Soliman Fakeeh di Jeddah, Arab Saudi, telah menemukan vaksin untuk virus corona.” 

Laporan itu diterbitkan setelah jenis baru virus corona mulai muncul di pasar hewan liar di Wuhan, kota Cina bagian tengah, di bulan Desember 2019. Di Cina daratan sendiri, virus itu telah membunuh lebih dari 560 orang dan menjangkiti lebih dari 28.000 orang, dilansir AFP pada tanggal 6 Februari 2020 di sini

Virus itu telah menyebar ke lebih dari 20 negara, dengan dua orang meninggal di Filipina dan Hong Kong

Judul laporan berita-berita ini, ini dan ini juga mengklaim bahwa dokter Mesir tersebut telah berhasil “membasmi” virus corona.

Sementara laporan lainnya mengklaim dokter Mesir itu adalah orang pertama yang menemukan virus corona, misalnya di sini, di sini dan di sini.

–Penemuan lama–

Klaim tersebut menyesatkan: dokter Mesir Ali Mohamed Zaki benar mengidentifikasi virus corona yang menyebabkan MERS, namun dia tidak menemukan vaksin. 

Pencarian kata kunci di Google untuk menelusuri nama Ali Mohamed Zaki menemukan artikel ilmiah ini di situs Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat. Judul artikel ilmiah itu jika diterjemahkan artinya: “Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) – Pembaharuan”.

Berikut tangkapan layar artikel ilmiah tersebut:

Tangkapan layar situs Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat

Terjemahan paragraf pertama artikel itu adalah: 
“Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) adalah penyakit pernapasan akibat virus, disebabkan oleh virus corona bernama ‘Virus Corona Sindrom Pernapasan Timur Tengah’ (MERS-CoV). Penyakit itu pertama kali dilaporkan pada tanggal 24 September 2012 oleh seorang ahli virus, Dr. Ali Mohamed Zaki di Jeddah, Arab Saudi.”

Cerita tentang bagaimana dokter Mesir itu menemukan virus corona jenis baru dari seorang pasien di Arab Saudi sebelumnya telah dimuat dalam berita The Guardian ini pada tanggal 15 Maret 2013.

Berikut tangkapan layar laporan The Guardian itu:

Tangkapan layar berita The Guardian

Dokter Zaki berhasil memisahkan dan menemukan virus corona jenis baru dari seorang pasien yang menderita radang paru-paru akut di sebuah rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi, tempat dimana Zaki bekerja, menurut laporan The Guardian itu.

Setelah mengidentifikasi virus jenis baru itu Zaki kemudian mengunggah hasilnya ke proMED, sebuah sistem pelaporan online untuk membagikan informasi tentang wabah dan penyakit menular, untuk memperingatkan ilmuwan lainnya. Informasi dari Zaki di proMED tanggal 20 September 2012 itu bisa dibaca di sini.

Zaki juga menulis artikel ilmiah tentang penemuan virus jenis baru itu bersama-sama dengan ilmuwan dari Belanda, dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada tanggal 8 November 2012.

– Jenis virus corona yang berbeda – 

Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat mengatakan di sini bahwa ada ratusan jenis virus corona, kebanyakan di antaranya beredar di antara hewan.

“Kadang virus-virus itu berpindah ke manusia – disebut limpahan – dan menyebabkan penyakit. Tujuh virus corona dikenal menyebabkan penyakit manusia, empat diantaranya berefek ringan: virus 229E, OC43, NL63 dan HKU1. Tiga dari virus corona itu bisa menyebabkan penyakit yang lebih serius pada manusia, yakni: SARS (sindrom pernapasan akut berat) yang muncul di akhir tahun 2002 dan menghilang tahun 2004; MERS (sindrom pernapasan timur tengah), yang muncul pada tahun 2012 dan hingga kini terus menyebar pada hewan unta; dan virus 2019-nCoV, yang muncul pada bulan Desember 2019 dari Cina dan upaya global terus dilakukan untuk membatasi penyebarannya,” tulis informasi di situs web institusi kesehatan Amerika itu.

SARS adalah penyakit penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona yang berhubungan dengan SARS (SARS-CoV). Wabah SARS pada tahun 2003 menewaskan 813 orang di seluruh dunia dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang, menurut laporan WHO ini.

MERS adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis berbeda yang disebut MERS-CoV. Total 2.499 kasus MERS telah dilaporkan dan 861 orang tewas akibat penyakit ini sejak tahun 2012, menurut laporan WHO ini

Pengembangan vaksin SARS sejauh ini tidak mengalami perkembangan karena wabah SARS telah berhenti, dan belum ada vaksin MERS hingga saat ini. Sementara para ilmuwan terus berusaha mengembangkan vaksin untuk melawan 2019-nCoV, virus corona jenis paling baru yang sedang mewabah ini.