
Foto ini telah beredar di berbagai laporan media tentang komandan grup milisi di Irak yang memenggal kepala anggota ISIS
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 14/02/2020 pukul 06:50
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Foto itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 8 Februari 2020 dan telah dibagikan 124 kali. Status unggahan tersebut berbunyi: “Wanita pengikut ISIS ini yg begitu bangganya setelah memenggal kepala sesama umat Allah dgn mengatas namakan krn perintah Allah
Bener2 sakit parah mental mereka ?
“Masihkah kita harus menerima 600 lainya yg sudah terkena virus terroris kejam seperti ini?”
Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Setelah debat pro dan kontra yang panjang, pemerintah Indonesia mengatakan tidak akan memulangkan hampir 700 WNI, termasuk wanita dan anak-anak, yang telah bergabung dengan kelompok ISIS di Timur Tengah karena khawatir masalah keamanan, AFP melaporkan di sini pada tanggal 12 Februari 2020.
Foto yang sama telah dibagikan hampir 100 kali setelah muncul di Twitter di sini dengan klaim yang sama.
Klaim itu salah: foto tersebut telah beredar di berbagai laporan media mengenai seorang komandan grup milisi di Irak yang memenggal kepala anggota ISIS di negaranya.
Pencarian gambar terbalik di Google diikuti dengan pencarian kata kunci menemukan foto asli ini diunggah pada tanggal 19 November 2015 di laman Facebook Wahida Mohamed. (Peringatan: konten grafis.)
Foto tersebut merupakan bagian dari unggahan Facebook ini tertanggal 19 November 2015 yang memperlihatkan perempuan yang sama berpose dengan mayat orang yang berbeda-beda. (Peringatan: konten grafis.)
Berikut tangkapan layar foto asli di laman Facebook Wahida Mohamed:
Peringatan konten
Foto itu juga muncul di laporan ini yang diterbitkan oleh media yang berbasis di Amerika Serikat, The International Business Times, tertanggal 4 Oktober 2016. Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, laporan tersebut berjudul: “Irak: Perempuan memenggal kepala anggota Isis, memasak kepala mereka sebagai pembalasan atas pembunuhan saudara-saudaranya.”
Empat paragraf pertama laporan itu berbunyi: “Seorang wanita Irak dengan cepat berubah menjadi individu yang paling ditakuti oleh kelompok Negara Islam – juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (Isis) atau Negara Islam Irak dan Syam (Isil) – karena dia membalas dendam kepada mereka.
“Perempuan berusia 39 tahun itu bernama Wahida Mohamed Al Jumaily yang beberapa kerabat dekatnya, termasuk ayah, suami, dan tiga saudara lelakinya, dibunuh oleh Isis di beberapa tahun terakhir. Bahkan suaminya dibunuh awal tahun ini yang tampaknya menjadi pemicu tindakannya saat ini terhadap anggota Isis.
“Jumaily, yang lebih dikenal sebagai Um Hanadi di antara mereka yang telah melakukan kontak dengannya, telah dibandingkan dengan Abu Azrael sang ‘Rambo Irak’, karena memiliki kesamaan dalam upaya mereka untuk mendorong Isis keluar dari Irak dan mendapatkan kembali negara untuk warganya.
“Jumaily memimpin grup milisi beranggotakan 70 orang yang menentang Isis, dan dilaporkan tidak hanya memenggal kepala anggota organisasi teroris itu tetapi juga memasak kepala mereka, dalam unjuk kekuatan yang dicocokan dengan apa yang Isis lakukan terhadap tahanannya. Dia bahkan mengunggah foto-foto tersebut di platform media sosial.”
Berikut tangkapan layar foto di laporan The International Business Times itu:

Diterjemahkan dari bahasa Inggris, keterangan foto tersebut adalah: “Irak: Perempuan memenggal kepala anggota Isis, memasak kepala mereka sebagai balas dendam karena membunuh sanak keluarganya. Wahida Mohamed Al Jumaily telah menerima banyak ancaman mati dari pemimpin Isis Abu Bakr al-Baghdadi.”
Kredit foto itu diberikan kepada “Um Hanadi” yang merupakan nama lain Al Jumaily.
Berikut perbandingan tangkapan layar antara foto di unggahan menyesatkan (kiri) dan foto di laporan The International Business Times (kanan):

Laporan mengenai Al Jumaily telah dipublikasikan oleh CNN pada tanggal 29 September 2016 di sini dan oleh Al Jazeera pada tanggal 14 Juni 2018 di sini.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami