Gambar tersebut adalah hasil setingan dan dibuat seorang siswa fotografi di Arab Saudi

Sebuah foto telah dibagikan puluhan ribu kali di berbagai unggahan media sosial dan diklaim menunjukkan seorang anak dari Suriah yang tidur di antara makam kedua orang tuanya. Klaim tersebut salah; foto tersebut sesungguhnya cuma hasil pentas yang dilakukan di Arab Saudi oleh siswa fotografi.

Foto di unggahan Facebook bertanggal 3 April 2016 ini menunjukkan seorang anak sedang tidur di antara 2 makam.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Status Facebook tersebut adalah: “Seorang anak Suriah tidur diantara kuburan kedua orang tuanya.”

Foto yang sama juga diunggah di Facebook di sini dan di sini dengan klaim yang sama.

Foto tersebut juga dibagikan di Kaskus dengan klaim yang mirip tanpa menyebut nama negara Suriah.

Foto itu juga dibagikan dengan klaim yang mirip dalam bahasa Inggris di sini dan telah dibagikan lebih dari 90,000 kali.

Proyek seni

Foto aslinya pertama kali diunggah di Instagram di sini pada tanggal 7 Januari 2014 sedangkan versi hitam putihnya di sini pada tanggal 3 Januari 2014. 

Kedua foto itu diunggah di akun Instagram ini.

Berikut tangkapan layar biografi akun Instagram @azezphoto. 

Tangkapan layar akun Instagram yang pertama kali mengunggah foto anak Suriah itu

Akun Instagram dikelola oleh Abdulaziz Alotaibi, seorang fotografer dari Arab Saudi yang mengatakan dia belajar fotografi. Ia mengatur pementasan foto tersebut di dekat kota pelabuhan Yanbu sebagai bagian dari proyek seni yang mengambil tema tentang anak yatim. Model di dalam foto itu adalah keponakannya sendiri, Ibrahim Alotaibi, yang berusia 9 tahun pada saat itu.

Alotaibi mengatakan bahwa dia ingin membuat “foto yang berbeda yang akan membekas dalam ingatan orang-orang”.

Dalam emailnya kepada AFP, Alotaibi mengatakan dia mengetahui fotonya telah ditafsirkan secara salah berulang kali.

Penelusuran di Google menggunakan foto Alotaibi menemukan sejumlah berita dari di bulan Januari 2014, misalnya di sini dan di sini, di mana fotografer tersebut dikutip meluruskan informasi keliru tentang fotonya. Namun usahanya seakan sia-sia – setidaknya satu situs berita Amerika Serikat masih menggunakan fotonya dengan konteks yang salah, sebagaimana dijelaskan oleh artikel ini dari bulan April 2014. 

Beberapa hari setelah seorang pengguna Twitter pertama kali menghubungkan foto tersebut dengan konflik di Suriah, dalam cuitan yang telah dihapus, Alotaibi mengunggah foto-foto “di belakang layar” di akun Instagramnya di sini pada tanggal 7 Januari 2014 untuk membuktikan bahwa foto tersebut adalah setingan. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Aziz Alotaibi (@azezphoto) on

Alotaibi juga mengirimkan beberapa foto yang belum terpublikasikan kepada AFP.

Foto-foto yang dikirim ke AFP; dari kiri, keponakan laki-lakinya yang bernama Ibrahim, seorang pria Bangladesh yang membantunya membuat “kuburan”, dan foto Alotaibi di atas ekskavator untuk mendapatkan gambar dari sudut yang tinggi

Atas persetujuan kakak laki-lakinya untuk melibatkan Ibrahim dalam foto, Alotaibi mengatakan dia berkunjung ke kota Yanbu, di mana keponakannya menghabiskan musim panas.

“Setelah makan siang, saya menyuruh keponakanku untuk membawa bantal dan selimut. Idenya adalah membuat dua makam dan Ibrahim akan tidur di antara dua makam itu untuk mengekspresikan perasaan aman bersama orang tuanya, meskipun keduanya hanyalah jasad tanpa roh.”

Setelah mempersiapkan lokasi tempat foto di luar kota, Alotaibi mengatakan dia menunggu hingga matahari terbenam sehingga foto akan terlihat seperti diambil pada saat fajar. Dia mengubah pengaturan warna dan menggunakan ekskavator untuk memotret dari atas.

“Setelah selesai, saya mengambil gambar di belakang layar sehingga orang-orang tau kalau timbunan itu bukan makam. Setelah mengunggah gambar itu di Instagram, beberapa orang salah mengartikan foto dan cerita di belakangnya dan mengatakan foto itu diambil di Suriah,” kata Alotaibi.

“Saya sangat senang bisa membuat satu foto yang memuat cerita di mana dunia, dalam bahasa yang berbeda-beda, bisa merasakan detail ceritanya, meskipun foto itu sederhana. Saya berharap orang-orang melihat makna seni dan rasa dari cerita itu dibanding menggunakannya dengan cara yang lain.”