Kapal patroli TNI AL KRI Singa 651 di Banyuwangi mempersiapkan perlengkapan di Banyuwangi pada tanggal 24 April 2021, sebagai bagian dari operasi pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang kontak. (AFP / Sonny Tumbelaka)

Postingan media sosial menyebarkan klaim salah bahwa seluruh kru KRI Nanggala 402 ditemukan selamat

  • Artikel ini berusia lebih dari setahun.
  • Diterbitkan pada hari 26/04/2021 pukul 11:34
  • Waktu baca 1 menit
  • Oleh: AFP Indonesia
Sejumlah unggahan media sosial menyebarkan klaim bahwa seluruh anggota kru KRI Nanggala 402 ditemukan selamat dalam sehari setelah kapal selam itu dilaporkan hilang kontak pada tanggal 21 April 2021. Klaim tersebut salah. TNI mengonfirmasi seluruh anggota kru KRI Nanggala 402 meninggal dunia setelah kapal selam itu ditemukan di dasar laut perairan Pulau Bali pada tanggal 25 April 2021.

Klaim itu diunggah ke Facebook di sini pada tanggal 22 April 2021.

Image
Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil tanggal 26 April 2021

Keterangan unggahan itu berbunyi, “Alhamdulillah, Kapal Selam Nanggal 402 Sudah Ditemukan SEMUA SELAMAT.”

AFP melaporkan bahwa TNI kehilangan kontak dengan KRI Nanggala 402, kapal selam dengan kru 53 orang, saat pelatihan angkatan laut di perairan Bali pada tanggal 21 April 2021.

Klaim serupa, bahwa KRI Nanggala 402 ditemukan kurang dari 24 jam setelah dilaporkan hilang kontak, juga muncul di unggahan-unggahan Facebook ini dan ini; di Twitter di sini dan di sini; serta di artikel-artikel blog ini, ini, dan ini.

Akan tetapi, klaim tersebut salah.

TNI mengumumkan seluruh anggota kru kapal RI Nanggala 402  setelah bagian dari KRI Nanggala 402 ditemukan lebih dari 800 meter di bawah permukaan laut pada tanggal 25 April 2021, AFP melaporkan di sini

Dalam berita itu, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono menyebutkan bahwa KRI Nanggala 402 ditemukan dalam keadaan terbelah menjadi tiga bagian. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengonfirmasi bahwa 53 anggota kru kapal itu telah meninggal dunia.

Berita tersebut juga dilaporkan Kompas.com dan Tempo.co.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami