
Video viral menyebarkan klaim salah bahwa pandemi Covid-19 adalah rekayasa
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 21/06/2021 pukul 07:10
- Waktu baca 9 menit
- Oleh: Ana PRIETO, AFP Argentina, AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Video berdurasi dua menit dan 29 detik itu dibagikan di Facebook di sini pada tanggal 12 Mei 2021 dan telah ditonton lebih dari 229.000 kali. Video tersebut terdiri dari tujuh klip dan satu foto yang menunjukkan berbagai peristiwa dari orang-orang yang mengenakan alat pelindung diri (APD) dan kantong jenazah sampai rumah sakit dan pemakaman.

Status unggahan itu berbunyi: “Mereka berhasil menakutnakuti orang di seluruh dunia.”
Teks yang ditempel di video berbunyi: “mereka bergembira. agenda terlaksana. membuat ummat kalang kabut. mereka telah berjaya mengatur ibadah umat islam dan lainnya. melalui isu corona”.
Video yang sama telah ditonton lebih dari 16.000 kali setelah juga muncul di unggahan Facebook lainnya dengan klaim serupa di sini, di sini dan di sini; serta di Twitter di sini.
Video tersebut juga dibagikan dengan klaim mirip dalam bahasa Malaysia, bahasa Spanyol dan bahasa Rumania.
Akan tetapi, klaim itu salah.
Menari mengenakan APD: pesta pernikahan di Israel
Video pertama menunjukkan orang-orang yang mengenakan APD dan pakaian tradisional agama Yahudi menari bersama. Klip ini dimaksudkan untuk menunjukkan orang-orang Yahudi merayakan keberhasilan mereka merekayasa pandemi.
Pencarian gambar terbalik di Yandex diikuti pencarian kata kunci menemukan video ini diunggah di Instagram media Israel, Hamal News, pada tanggal 8 Juli 2020.
Keterangan video berbahasa Ibrani diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai: “Orang-orang yang mengenakan setelan hazmat tiba di sebuah pernikahan dengan ambulans, dan mulai menari. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?”
“Berikut tanggapan dari Magen David Adom, layanan medis darurat yang memiliki ambulans tersebut, yang mengatakan insiden itu ‘parah’ dan hanya pengemudi ambulans yang benar-benar bagian dari organisasi, dan yang lain mengambil setelan hazmat dari fasilitas kesehatan yang juga tidak terhubung ke MDA. Sopir tersebut sedang tidak bertugas dan ditegur atas kejadian tersebut”.
Magen David Adom adalah layanan medis darurat nasional Israel yang menyediakan fasilitas ambulans serta bank darah.

“Jenazah” di jalan: aksi protes di AS
Adegan kedua adalah sebuah foto yang menunjukkan kantong berwarna hitam berjejer di atas paving blok yang diklaim memperlihatkan kantong jenazah yang tidak berisi jenazah korban Covid-19 melainkan sampah sebagai usaha menipu publik bahwa pandemi adalah hoaks.
Foto tersebut awalnya dipublikasikan di situs web European Pressphoto Agency (EPA) pada tanggal 27 Mei 2020, dengan judul: "Proses pemakaman simbolis untuk memprotes pembukaan kembali ekonomi tanpa bantuan terkait virus corona di Miami."
Sebagian keterangan foto itu berbunyi: “Seorang aktivis membawa tas, melambangkan jenazah selama pemakaman simbolis untuk memprotes pembukaan kembali ekonomi tanpa bantuan terkait virus corona di Taman Torch of Friendship, di pusat kota Miami, Florida, AS, 27 Mei 2020.”

AFP juga menerbitkan foto aksi protes tersebut di sini pada tanggal 27 Mei 2020.
Orang mengenakan APD di depan ambulans: liputan jurnalistik
Dari foto demo, adegan berubah menjadi video dua orang yang memakai alat pelindung diri (APD) berpose untuk seorang fotografer di sebelah ambulans. Teks yang ditempel pada video itu berbunyi: “Ini semua hanya untuk kamera. Penipuan terbesar dalam sejarah manusia.”
Pencarian gambar terbalik menemukan cuitan yang menjelaskan video di unggahan menyesatkan menunjukkan fotografer koran Belanda NRC yang sedang mengambil foto para staf ambulans. Laporan itu diterbitkan di sini pada tanggal 4 Maret 2021.
Laporan NRC yang ditulis oleh Manon Stravens itu menceritakan rutinitas paramedis yang bekerja selama pandemi di Amsterdam. Stravens menyebutkan di dalam laporan berita bahwa selama sesi foto yang dilakukan pada malam hari di Leidse Square, seseorang meneriakkan “berita palsu” dan merekam situasi dengan ponselnya sambil berseru pandemi itu palsu dan orang-orang dengan alat pelindung ingin publik percaya bahwa Covid-19 itu berbahaya.

Pria merokok di antara “kantong jenazah”: video musik
Video ketiga menunjukkan beberapa kantong berwarna hitam di truk oranye dengan seorang pria hidup tergeletak di antara kantong-kantong tersebut dan merokok. Video tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan “jenazah” di dalam kantong mayat sebenarnya orang yang masih hidup.
Video tersebut merupakan cuplikan dibalik layar video musik lagu “Never, Ever” oleh rapper Husky dari Rusia, yang dirilis pada bulan September 2020. Klip musik tersebut sesuai dengan cuplikan yang diunggah di TikTok di sini oleh Vasya Ivanov, direktur produksi video musik tersebut.
Sutradara video musik tersebut, Evgenii Bakirov, mengatakan video itu “adalah sosok perjuangan internal seorang seniman yang sedang membersihkan dunia mentalnya”. Tidak ada referensi tentang pandemi virus corona dalam klip musik tersebut.

Syuting di rumah sakit: video promosi RS
Adegan selanjutnya, yang diulang dua kali dalam video menyesatkan, seorang fotografer dan juru kamera terlihat di dalam rumah sakit, dikelilingi oleh ranjang rumah sakit dan pasien. Seorang pria juga terlihat memberikan arahan kepada petugas medis yang mengenakan alat pelindung diri.
Teks yang ditempel di adegan tersebut mengindikasikan adegan rumah sakit yang tengah kewalahan dengan pasien Covid-19 itu rekayasa. Video itu sebenarnya adalah iklan untuk Shamir Medical Center, sebuah rumah sakit di Israel.
Video promosi itu diunggah di sini di saluran YouTube rumah sakit tersebut pada tanggal 26 Maret 2021. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke bahasa Indonesia, video tersebut berjudul: “Shamir Medical Center yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam ringkasan fotografi 2020: tahun virus corona”.
Menjawab pertanyaan AFP pada tanggal 11 Maret 2021, Liad Aviel, juru bicara rumah sakit di Tel Aviv, mengatakan video itu cocok dengan kamar rumah sakit tersebut dan sebenarnya menunjukkan syuting yang dilakukan untuk mempromosikan fasilitasnya.
Aviel mengatakan seorang karyawan rumah sakit telah merekam adegan tersebut dan membagikannya di Facebook: “Sayangnya, video itu menjadi berita palsu, tetapi kami tidak ada hubungannya dengan itu.”

Kantong mayat di luar ruangan: kantong jenazah di Venezuela dan protes mahasiswa
Adegan berikutnya menunjukkan video pendek yang memperlihatkan kantong jenazah berwarna hitam tergeletak di luar, di sebelah sebuah gedung, diikuti oleh video lain yang menunjukkan orang-orang berdiri di sekitar sejumlah kantong hitam. Teks di atas adegan itu mengindikasikan orang-orang tersebut bekerja untuk mempersiapkan “jenazah”.
Kedua video tersebut diambil di dua acara terpisah di lokasi berbeda di ibu kota Venezuela, Caracas, namun digabungkan untuk memberikan kesan bahwa keduanya menunjukkan peristiwa yang sama.
Adegan pertama dari kedua video tersebut cocok dengan video ini yang diunggah oleh situs berita Venezuela eksil, ContraPoder, di saluran YouTubenya pada tanggal 7 April 2021. Video itu juga diterbitkan dalam laporan ContraPoder ini di hari yang sama, yang menjelaskan video tersebut menunjukkan jenazah yang hendak diangkut oleh truk.
Program berita digital Venezuela eksil, Hasta Que Caiga La Tirania, menerbitkan konten video di saluran YouTubenya pada tanggal 7 April 2021, yang juga menunjukkan adegan yang sama dengan sebuah adegan di video yang menyesatkan, yang dapat dilihat pada menit ke-3:08.
Menurut laporan kedua media tersebut, video itu direkam di distrik La Yaguara di Caracas dan menunjukkan parahnya sistem perawatan kesehatan di Venezuela, di mana kamar mayat kebanjiran jenazah pasien Covid-19.

Adegan berikutnya menunjukkan mahasiswa melakukan aksi protes di depan Rumah Sakit Universitas Caracas, lebih dari 10 kilometer dari La Yaguara, pada tanggal 6 April 2021.
Para pengunjuk rasa mengisi kantong plastik hitam besar dengan kertas dan meletakkannya di depan rumah sakit untuk melambangkan 430 petugas kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 saat mereka memprotes lambatnya kemajuan distribusi vaksin di negara tersebut, surat kabar Venezuela El Nacional melaporkan pada tanggal 6 April. 2021.
Aksi protes tersebut diliput oleh seorang jurnalis Venezuela, Esteninf Olivarez, yang mengunggah beberapa video di Twitter, termasuk video ini pada tanggal 6 April 2021, yang terlihat mirip dengan sebuah adegan di klip menyesatkan.

Penggali kubur: laporan jurnalistik di Brasil
Video terakhir menunjukkan seorang juru kamera merekam seseorang yang mengenakan APD menggali kuburan, dan diklaim penggali kuburan tak pernah menyelesaikan penguburan karena memang tak ada korban Covid-19.
Klip ini sebenarnya merekam jurnalis yang sedang merekam pekerjaan penggali kubur di Espirito Santo, negara bagian di Brasil tenggara, selama pandemi. Laporan itu diunggah di Vimeo di sini oleh Folha Vitoria, outlet media Brasil, pada tanggal 31 Maret 2021.
Jurnalis yang melakukan liputan itu, Marla Bermudes, membantah klaim bahwa video tersebut menunjukkan pemakaman palsu, di sini pada tanggal 1 April 2021.
Dia berkata: “Saya dan juru kamera Wilian O’brien sedang merekam video untuk menjelaskan pekerjaan para penggali kubur dan kegiatan yang mereka lakukan. Laporan itu dimaksudkan untuk memberi penghormatan kepada pekerjaan orang-orang profesional ini dan tidak [mewakili] penggali kubur yang dimaksud sedang mensimulasikan penggalian kuburan atau berpura-pura mengubur seseorang. Makam itu terbuka dan bukan atas permintaan tim kami. Hal itu sudah menjadi prosedur pemakaman. Gambar-gambar yang ditampilkan tepat pada saat dia melempar tanah merupakan gambar-gambar pendukung untuk menggambarkan kegiatan yang dia lakukan.”

Rede Vitoria, grup komunikasi media di mana Folha Vitoria bergabung, mengatakan di sini pada tanggal 2 April 2021 bahwa: “Untuk menyusun laporan, wartawan kami merekam langkah demi langkah pekerjaan [para penggali kubur]. Rekaman video [menyesatkan] menghilangkan konteks momen tersebut, mendistorsi fakta dan menciptakan narasi bohong.”
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami