Tidak ada laporan kredibel tentang Turki 'siap ratakan Prancis penghina Islam' di video itu

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah video yang telah ditonton sebanyak lebih dari sejuta kali di Facebook dan YouTube diklaim menunjukkan Turki dan “[negara-negara] Arab” “siap ratakan Prancis” setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron “menghina Islam”. Klaim itu salah. Dua berita yang dikutip oleh video itu dan rekaman-rekaman gambar asli yang muncul di situ tidak menyatakan bahwa baik Turki maupun negara-negara Arab “siap ratakan Prancis”. Per tanggal 19 November 2020, tidak ada satupun berita kredibel yang menyatakan bahwa Turki atau negara-negara Arab memiliki rencana seperti itu.

Video berdurasi delapan menit dan 34 detik itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 29 Oktober 2020 dan ditonton hampir 940,000 kali. 

Tangkapan layar unggahan Facebook yang menyesatkan, diambil tanggal 11 November 2020

Keterangan di unggahan itu berbunyi, “BERITA TERKINI ~ TURK1 DAN ARAB SIAP R4TAKN PRANCIS...

“BERITA TERKINI ~ TURK1 DAN ARAB SIAP R4TAKN PRANCIS PENGHIN4 15LAM ~ BERITA MILITER TERBARU HARI INI”.

Video itu sebelumnya diunggah ke YouTube dengan klaim serupa di sini dan telah ditonton sebanyak lebih dari 160.000 kali.  

Thumbnail kedua unggahan video tersebut menunjukkan wajah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta tulisan yang berbunyi: “PER4NCIS BIKIN DUNIA TERBELAH. ARAB DAN TURKI SIAP G3MPR PR4NCIS YG HINA ISL4M.” 

Erdogan turut menyerukan pemboikotan produk Prancis selepas Macron membela hak menerbitkan kartun Nabi Muhammad. Pernyataan Macron tersebut diutarakan setelah pembunuhan seorang guru Prancis yang menunjukkan kartun Nabi di kelasnya, seperti dilaporkan AFP di sini

Akan tetapi, klaim tersebut salah.

Pencarian kata-kata kunci dalam narasi video di Google menemukan bahwa narasi itu membacakan dua laporan berita.

Narasi video yang dibacakan di rentang waktu 0:05-0:12 dan 1:02-5:29 diambil dari artikel CNBC Indonesia ini, yang diterbitkan tanggal 27 Oktober 2020 dengan judul: “Dunia Terbelah Macron Hina Islam: Arab-Erdogan vs Eropa.”  

Dari mulai menit 5:30 hingga ke akhir video, narasi itu membacakan keseluruhan berita Sindonews tanggal 21 Oktober 2020 ini, yang berjudul: “Erdogan: Inisiatif Macron untuk Reformasi Institusi Islam Upaya Serang Muslim.”

Tidak satupun dari kedua berita di atas menyebutkan bahwa “Turki dan Arab siap ratakan Prancis”. 

Pencarian dengan alat verifikasi digital InVid-WeVerify menemukan klip-klip yang menunjukkan Erdogan.

Video itu menunjukkan potongan-potongan rekaman yang diambil dari video rekaman langsung ini di kanal kantor berita Turki Anadolu Agency YouTube pada tanggal 26 Oktober 2020, di mana Erdogan berbicara tentang pembelaan Macron atas kartun Nabi Muhammad. 

Terjemahan judul berbahasa Turki video itu adalah: “Presiden Erdogan: Saya memanggil rakyat saya: Jangan pernah membeli produk-produk Prancis”.  

Berikut ini adalah perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video asli Anadolu (kanan):

Perbandingan tangkapan layar video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video Anadolu (kanan)

Video di Facebook itu juga menampilkan potongan rekaman kongres Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan yang dihelat di Malatya, Turki, yang diambil dari siaran langsung pada tanggal 25 Oktober 2020 di kanal YouTube Erdogan di sini.

Judul berbahasa Turki video itu terjemahannya adalah “Kongres tingkat provinsi Partai AK kami di Malatya”. 

Di bawah ini adalah perbandingan antara video menyesatkan (kiri) dan video asli di kanal YouTube Erdogan (kanan):

Perbandingan antara video menyesatkan (kiri) dan video asli di kanal YouTube Erdogan (kanan)

Seorang jurnalis AFP di biro Istanbul memeriksa isi kedua video tersebut dan berkesimpulan bahwa tidak ada pernyataan Erdogan tentang Turki “siap ratakan Prancis”, atau kalimat-kalimat lainnya yang dapat ditafsirkan menjadi seperti itu.

Video menyesatkan itu tidak menampilkan atau menyebutkan pemimpin-pemimpin politik lain selain dari Macron dan Erdogan.