UNICEF bantah keluarkan pedoman pencegahan penyakit virus corona jenis baru

Hak cipta AFP 2017-2020. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah pesan tentang cara mencegah penularan virus corona jenis baru telah dibagikan ribuan kali di sejumlah unggahan di Facebook, Twitter, Instagram dan pesan WhatsApp dan diklaim pesan tersebut berasal dari lembaga UNICEF, lembaga dana anak-anak milik Perserikatan Bangsa-Bangsa. Klaim tersebut salah: UNICEF mengatakan lembaga itu tidak pernah mengeluarkan informasi seperti itu; beberapa poin dalam pesan itu bertentangan dengan saran para ahli tentang virus corona. 

Unggahan ini telah dibagikan lebih dari 3.900 kali sejak diunggah di Facebook pada tanggal 15 Maret 2020.

Unggahan itu berisi dua gambar; gambar pertama menunjukkan sketsa manusia dengan teks dalam bahasa Inggris, dan gambar kedua menampilkan pesan berisi poin-poin yang diklaim berasal dari UNICEF. 

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan

Status Facebook tertulis tertulis:
“Corona virus sebelum mencapai paru2 akan tinggal di kerongkongan selama 4 hari dan pada waktu ini orang akan mulai batuk dan sakit leher. Minum air yang banyak, dan kumur2 dengan air hangat dan garam atau cuka bisa membunuh virus ini. Sebarkan informasi ini. Kamu mungkin bisa menyelamatkan orang dengan informasi ini.”

Teks berbahasa Inggris pada foto sketsa manusia itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya:

“Sebelum mencapai paru-paru, virus corona bertahan di tenggorokan selama empat hari dan pada tahap ini pasien mulai batuk dan merasakan sakit di tenggorokan. Jika pasien tersebut minum air yang banyak dan berkumur dengan air hangat dan garam atau cuka akan menghilangkan virus tersebut. Sebarkan informasi karena anda akan menyelamatkan nyawa orang dengan informasi ini.”

Sedangkan pesan di gambar kedua adalah: 

“VIRUS CORONA (COVID-19) BY UNICEF/ 1. Corona merupakan virus berukuran besar. Diameter virus ini 400-500 micro, sehingga masker jenis apa pun dapat mencegah masuknya ke tubuh kita dan tidak perlu menggunakan masker yang mahal./ 2.  Virus corona tidak melayang di udara, tapi menempel pada benda, sehingga penularannya tidak melalui udara./ 3. Apabila menempel di permukaan logam, virus corona dapat hidup selama 12 jam. Mencuci tangan dengan sabun dan air sudah cukup./ 4. Apabila menempel di kain, virus corona dapat hidup selama 9 jam, sehingg mencuci pakaian atau menjemurnya di bawah sinar matahari selama 2 jam sudah cukup untuk membunuhnya./ 5. Apabila menempel di tangan, virus corona dapat hidup selama 10 menit, sehingga menyediakan _sterilizer_ berbahan dasar alkohol cukup untuk berjaga-jaga./ 6. Apabila berada di udara bersuhu 26-27 °C, virus corona akan mati sehinga tidak hidup di daerah panas . Di samping itu, minum air panas dan berjemur di bawah sinar matahari sudah cukup sebagai pencegahan. Menghindari makanan dan minuman dingin termasuk ice cream sangat penting./ 7. Berkumur sampai dalam dengan air hangat dan garam akan membunuh virus corona di sekitar anak tekak (telak - Jw.) dan mencegahnya masuk kedalam paru-paru.

“Dengan mengikuti petunjuk ini cukup untuk mencegah virus corona. - Unicef-”. 

Klaim serupa juga diunggah di tempat lain di sini dan di sini di Facebook, juga di sini di Twitter dan di sini di Instagram.

Klaim yang mirip juga dibagikan di unggahan dalam bahasa lain, misalnya dalam bahasa Sinhala di sini, dalam bahasa Malaysia di sini dan di sini.

Klaim tersebut juga dibagikan dalam pesan WhatsApp, seperti bisa dilihat pada tangkapan layar berikut ini:

Tangkapan layar klaim menyesatkan dalam pesan WhatsApp

Klaim tersebut salah: pejabat UNICEF menyangkal lembaga itu telah mengeluarkan pedoman seperti di unggahan menyesatkan.

“Sebuah pesan online yang salah menyebar dalam berbagai bahasa di seluruh dunia dan diklaim sebagai pesan dari UNICEF dan mengindikasikan, antara lain, bahwa menghindari konsumsi es krim dan makanan dingin lainnya dapat mencegah serangan penyakit ini. Hal ini, tentu saja, semuanya tidak benar,” Charlotte Petri Gornitzka, wakil direktur bidang kemitraan UNICEF, mengatakan dalam pernyataan dalam bahasa Inggris pada tanggal 6 Maret 2020.

“Kepada pembuat informasi palsu tersebut, kami sampaikan pesan sederhana: HENTIKAN,” tambah Gornitzka.

“Membagikan informasi keliru dan membungkusnya dengan nama lembaga tertentu dengan cara menyalahgunakan pihak-pihak yang dalam posisi dipercaya adalah tindakan berbahaya dan salah.”

Jeremy Sprigge, seorang juru bicara UNICEF di Sri Lanka, juga mengatakan kepada AFP melalui email pada tanggal 5 Maret 2020 bahwa klaim yang disebarkan di media sosial tersebut “tidak dikeluarkan organisasi itu dan oleh karenanya salah”.

Lebih lanjut, UNICEF Malaysia, UNICEF India dan UNICEF Filipina masing-masing mencuit di sini, di sini dan di sini untuk membantah bahwa lembaga itu pernah mengeluarkan pesan berisi cara menghindari infeksi virus corona seperti terlihat pada unggahan menyesatkan.

UNICEF juga mengajak siapa saja yang mencari informasi valid terkait virus corona bisa berkunjung ke website lembaga itu di sini.

Banyak informasi di dalam pesan di unggahan menyesatkan itu yang tidak akurat.

–Pemakaian masker–

Misalnya, menurut artikel jurnal medis The Lancet ini virus corona jenis baru berdiameter antara 0.05 dan 0.2 mikron. 

Terkait poin yang mengklaim bahwa masker akan mencegah masuknya virus ke tubuh manusia, misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengatakan bahwa masker hanya memberikan perlindungan terbatas dan meminta hanya dipakai oleh pekerja medis dan orang-orang yang sakit.

Namun, ada perbedaan pendapat di antara pakar kesehatan tentang pemakaian masker untuk mencegah infeksi virus corona. Yuen Kwok-yung, ahli epidemiologi Universitas Hong Kong (HKU), berkata: “Memakai masker tak hanya untuk melindungi dirimu sendiri tapi juga orang lain, karena bila kamu terinfeksi tapi tanpa simptom, kamu bisa menghentikan penyebarannya dengan menggunakan masker.” 

Tapi tak semua masker bisa mencegah infeksi virus corona. Menurut ahli imunologi virus Dr Ariane Davison, yang berbasis di Hong Kong, masker bedah dan masker N95, yang bisa memfilter virus dari udara sampai 95%, bisa memberikan perlindungan. 

–Virus bertahan hidup–

Bagian yang mengatakan bahwa sinar matahari dan temperatur hangat dapat membunuh virus corona juga menyesatkan. “Berdasarkan bukti yang ada sampai kini, virus COVID-19 bisa menjalar di SEMUA TEMPAT, termasuk tempat dengan cuaca yang panas dan lembab,” begitu kata WHO di sini

Unggahan media sosial tersebut juga membuat klaim menyesatkan tentang berapa lama virus dapat bertahan pada benda mati.

WHO mengatakan bahwa lembaga itu belum “yakin” berapa lama virus corona dapat bertahan hidup di atas permukaan benda mati, dan menegaskan bahwa masa hidup tersebut bisa berkisar antara beberapa jam hingga beberapa hari tergantung beberapa kondisi tertentu seperti jenis permukaan benda, suhu dan kelembaban.

Sementara itu, klaim yang menyebut bahwa virus corona bertahan di tenggorokan selama empat hari sebelum akhirnya mencapai paru-paru dan bisa dihilangkan dengan banyak minum air dan berkumur dengan air hangat dan garam atau cuka juga salah. Klaim menyesatkan ini sebelumnya telah diverifikasi oleh AFP di sini.