
Video ini menunjukkan polisi Nepal memukuli seorang wanita yang menggendong anak saat berunjuk rasa di Nepal
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 05/03/2020 pukul 05:05
- Waktu baca 4 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Video berdurasi sembilan detik muncul di Facebook di sini pada tanggal 29 Februari 2020 dan telah ditonton lebih dari dua juta kali dan dibagikan lebih dari 34.000 kali.
Status unggahan itu berbunyi: “Separah Inikah Mereka.
“Ya Allah ????
#shameonyouindia
#shameonyouindia
#shameonyouindia
#shameonyouindia
#shameonyouindia”.
Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Video yang sama dengan klaim yang mirip bahwa pemukulan dilakukan polisi India juga muncul di Facebook di sini, di sini, di sini dan di sini; serta di Twitter di sini dan di sini, di mana klip itu telah ditonton lebih dari 9.600 kali.
Delhi baru-baru ini mengalami kekerasan sektarian terburuk dalam beberapa dasawarsa. Sedikitnya 38 orang tewas dalam bentrokan yang dipicu oleh protes yang telah berlangsung selama berbulan-bulan terhadap amandemen undang-undang kewarganegaraan yang didukung oleh Perdana Menteri India Narendra Modi namun dikritik berpotensi mendiskriminasi muslim, AFP melaporkan di sini.
Polisi Delhi juga dituduh memukuli demonstran saat kekerasan itu berlangsung, seperti yang dilaporkan di sini oleh Scroll.in, situs berita India.
Akan tetapi, klaim itu salah: video itu telah muncul di berbagai laporan mengenai polisi Nepal yang memukul seorang perempuan yang menggendong anaknya dengan baton saat unjuk rasa di Bhaisepati, di Karyabinayak, Nepal, pada bulan Februari 2020.
Pencarian gambar terbalik di Google diikuti dengan pencarian kata kunci menemukan video definisi tinggi berdurasi 17 menit, 47 detik ini diunggah di YouTube oleh Rhythm online tv pada tanggal 27 Februari 2020.
Jurnalis AFP di biro Kathmandu menerjemahkan judul video yang berbahasa Nepali sebagai: “Mala Shah - Intimidasi polisi di dalam rumah jenderal. Mala, Hema dan bayi dipukul dengan baton. Hema Shrestha.”.
Klip di unggahan menyesatkan bisa dilihat di awal video dan di menit ke-8:30.
Wanita yang dipukul dengan baton oleh polisi diidentifikasi sebagai Hema Shrestha. Di menit ke-11, setelah dia dipukul, Shrestha berteriak di depan orang banyak mempertanyakan tindakan polisi. Dia berkata: “Mengapa polisi memukuli saya? Apakah saya melakukan kejahatan? Membunuh orang? Haruskah mereka menangkap pelaku kejahatan atau berlaku tidak adil kepada korban?”
Petugas kepolisian yang memukul Shrestha diwawancara di menit ke-11:19 dan mengatakan: “Apa ada pilihan lain ketika mereka menolak untuk bekerja sama dengan polisi dan secara paksa memasuki rumah orang lain?”
Berikut perbandingan tangkapan layar antara video di unggahan menyesatkan (kiri) dan video di YouTube (kanan):

The Kathmandu Post, surat kabar berbahasa Inggris setempat, menerbitkan laporan tentang unjuk rasa tersebut pada tanggal 28 Februari 2020 di sini. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, judul laporan itu adalah: “Video yang memperlihatkan polisi memukul seorang wanita yang membawa anak dengan baton memicu kemarahan publik.”
Paragraf kelima artikel tersebut berbunyi: “Menurut polisi, peristiwa itu terjadi pada hari Kamis di perumahan Bhainsepati tempat tinggal Hem Khatri, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Nepal, di mana sekelompok wanita berkumpul untuk memprotes, ‘menuntut keadilan’ bagi seorang wanita, diidentifikasi sebagai Mala Shah, yang diduga memiliki hubungan dengan Khatri. Shah mulai menjalankan aksi protes setelah Khatri diduga memutuskan kontak dengannya, menurut Inspektur Senior Tek Prasad Rai, kepala Polisi Lalitpur. Hema Shrestha, wanita yang terlihat dipukuli oleh polisi, ada di sana untuk mendukung Shah di aksi protesnya.”
Berikut tangkapan layar laporan The Kathmandu Post:

The Himalayan Times, koran berbahasa Inggris lokal lainnya, mewawancarai Shrestha, pada tanggal 28 Februari 2020 di laporan ini. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, laporan itu berjudul: “Inspektur polisi tanpa ampun memukuli wanita.”
Tiga paragraf pertama laporan tersebut berbunyi: “Polisi Nepal kembali diberitakan karena alasan yang salah: memukuli seorang perempuan muda tanpa ampun, dengan anak balitanya di lengannya, serta menyuruhnya keluar dari kediaman mewah di Bhaisepati pada Kamis sore. Seolah-olah itu tidak cukup, polisi kemudian menahan wanita dan anak itu seharian di kantor Polisi Metropolitan.
“Menurut video yang beredar di media sosial hari ini, wanita muda itu adalah Hima Shrestha. Wanita berusia 34 tahun itu menggendong bayinya yang berumur 10 bulan ketika baton polisi menghujaninya. Petugas polisi berseragam itu adalah Inspektur Devi Prasad Paudel dari Jajaran Polisi Metropolitan, Jawalakhel.
“Paudel tanpa ampun memukuli Hima dengan baton dan kemudian menahannya selama enam jam atau lebih di kantor polisi sebelum membebaskannya setelah jam kantor di malam hari.”
Media Nepal yang lain juga menerbitkan laporan mengenai peristiwa tersebut, seperti MyRepublica di sini dan The Nepalese Voice di sini.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami