Postingan salah klaim 'Arab Saudi kirim armada perang untuk bantu Indonesia invasi Australia'

Hak cipta AFP 2017-2023. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sejumlah video telah ditonton ratusan ribu kali selepas beredar dengan klaim salah bahwa Arab Saudi telah mengirim armada tempur untuk membantu Indonesia menginvasi Australia. Menurut video itu, invasi dilancarkan karena konflik perebutan Pulau Pasir di perbatasan kedua negara. Narasi itu juga menyebut sejumlah negara Teluk lainnya juga ikut mengirim jet tempur ke Indonesia. Faktanya, narasi video dipelintir dari berita soal invasi Arab Saudi ke Yaman pada tahun 2015. Hingga tanggal 17 Desember 2022, tidak ada laporan resmi mengenai pengiriman armada militer Arab Saudi ke Indonesia.

Video itu diunggah pada tanggal 7 Desember 2022 di YouTube di sini, dengan judul: "TAKBIR!! DEMI NEGARA SEIMAN INDONESIA, RIBUAN ARMADA TEMPUR ARAB SAUDI AKHIRNYA TIBA DI BUMI NUSANTARA".

Video berdurasi tiga menit lebih itu telah ditonton lebih dari 17.000 kali.

Tangkapan layar video sesat, diambil pada tanggal 15 Desember 2022

Klip itu menampilkan sejumlah adegan pesawat tempur, dilanjutkan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman berbicara di depan kamera.

Di awal video, seorang narator wanita terdengar mengatakan, "Hari ini Arab Saudi mulai kerahkan 100 jet tempur dan 150.000 tentara menuju Indonesia."

Pada menit 1:17, narator itu bilang, "Pengerahan banyak pesawat jet tempur itu dilaporkan media Timur Tengah Al Arabiya, Selasa 29 November 2022.

"Selain Arab Saudi, beberapa negara Teluk serta Iran ikut ambil bagian dalam invasi militer di Australia dalam bulan depan.

"Laporan itu juga menyebut bahwa sejumlah pimpinan empat negara telah sepakat bahwa Desember nanti, apabila Australia tidak segera memberikan kepastian perihal Pulau Pasir, serangan besar-besaran akan mengancam negara itu."

Video itu diunggah setelah media massa Indonesia, termasuk Kantor Berita Antara, mewartakan di bulan Oktober 2022 rencana seorang nelayan Indonesia untuk menggugat Australia soal "kepemilikan Pulau Pasir".

Dikenal sebagai Karang Ashmore di Negeri Kangguru, Pulau Pasir adalah bagian dari MoU Box di perbatasan Indonesia-Australia di Laut Timor. Nelayan tradisional Indonesia dibolehkan melaut di situ.

Basisnya adalah sebuah perjanjian tahun 1974 antara Indonesia dan Australia.

Klaim tersebut menyebar pula di postingan video lainnya, seperti di YouTube di sini, di sini dan di sini, serta di Facebok di sini, meraup lebih dari 286.000 tontonan.

Tetapi klaim tersebut salah.

Narasi pelintiran

Pencarian kata kunci di Google menemuan narasi itu dipelintir dari berita Sindonews tentang invasi Arab Saudi ke Yaman pada tahun 2015.

Laporan berita berjudul "Saudi Kerahkan 100 Jet Tempur dan 150 Ribu Tentara ke Yaman" itu terbit pada tanggal 26 Maret 2015.

Beberapa kata di artikel asli telah diubah di narasi video sesat. Misalnya, "Yaman" diubah jadi "Indonesia".

Di video, narator berujar, "Hari ini Arab Saudi mulai kerahkan 100 jet tempur dan 150 ribu tentara menuju Indonesia." Versi aslinya: "Arab Saudi telah mengerahkan sekitar 100 pesawat jet tempur dan 150 ribu tentara ke Yaman untuk perang melawan milisi Houthi."

Narasi dalam video menyatakan: "Pengerahan banyak pesawat jet tempur itu dilaporkan media Timur Tengah Al Arabiya, Selasa 29 November 2022." Padahal, laporan asli Sindonews menulis, "Pengerahan banyak pesawat jet tempur itu dilaporkan media Timur Tengah, Al Arabiya, Kamis (26/3/2015)."

Selanjutnya, narator video sesat berkata, "Selain Arab Saudi, beberapa negara Teluk serta Iran ikut ambil bagian dalam invasi militer di Australia dalam bulan depan." Faktanya, laporan Sindonews menyatakan: "Selain Saudi berbagai negara Teluk serta Mesir ikut ambil bagian dalam agresi militer di Yaman."

Bagian lain video sesat mengklaim: "Laporan itu juga menyebut bahwa sejumlah pimpinan empat negara telah sepakat bahwa Desember nanti, apabila Australia tidak segera memberikan kepastian perihal Pulau Pasir, serangan besar-besaran akan mengancam negara itu."

Artikel Sindonews sejatinya berbunyi: "Laporan itu juga menyebut, bahwa sejumlah pemimpin kelompok Houthi sudah tewas dalam agresi militer."

Laporan berita Al Arabiya soal intervensi militer Arab Saudi di Yaman itu bisa dibaca di sini.

Video pangeran Saudi

Di detik ke-30 video sesat, terlihat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, alias MBS, berbicara di depan kamera.

Pencarian gambar terbalik di Google menemukan video itu sebenarnya menunjukkan MBS berbicara kepada wartawan saat kunjungan kenegaraan ke India pada tahun 2019.

Video itu ditayangkan di kanal YouTube resmi Hindustan Times, koran India, di sini pada tanggal 20 Februari 2019.

Diterjemahkan dari bahasa Inggris, keterangan video berbunyi, "Presiden Ram Nath Kovind memberikan upacara penyambutan bagi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Rashtrapati Bhawan, New Delhi, pada hari Rabu. Acara dihelat sebelum pertemuan bilateralnya dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Pangeran Salman tiba di ibu kota negara pada Selasa malam untuk kunjungan dua hari di India.

"Di Rahtrapati Bhawan, Pangeran Salman berkata, 'Hari ini kita ingin memastikan bahwa hubungan ini dipertahankan dan ditingkatkan untuk kebaikan kedua negara. Dengan dipimpin Presiden dan Perdana Menteri, saya yakin kita dapat menciptakan hal-hal baik bagi Arab Sadi dan India."

Dalam video asli, MBS terlihat berdiri diapit oleh Perdana Menteri Modi dan Presiden Kovind.

Berikut ini perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video asli dari Hindustan Times (kanan):

Perbandingan tangkapan layar video sesat (kiri) dan video asli dari Hindustan Times (kanan)

Kunjungan MBS ke Rasthrapati Bhawan, atau Rashtrapati Bhavan -- kediaman resmi presiden India -- juga dicuitkan DD News, radio publik India, pada hari yang sama.

Hingga tanggal 17 Desember 2022, tidak ada laporan resmi soal adanya konflik Indonesia-Australia maupun pengiriman armada militer Arab Saudi ke Indonesia.

AFP sebelumnya membongkar klaim salah bahwa Rusia mengirim tentara untuk membantu Indonesia memerangi Australia dalam konflik Pulau Pasir, dan juga klaim salah lainnya terkait perang fiktif Indonesia-Australia.