Video serangan Iran ke Pelabuhan Haifa di Israel ini adalah buatan AI
- Diterbitkan pada hari 19/03/2026 pukul 09:56
- Waktu baca 2 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Iran terus melancarkan serangan terhadap Israel sebagai balasan atas agresi gabungan Israel-Amerika Serikat (AS) yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam itu. Namun, sebuah rekaman yang diklaim menunjukkan dampak serangan rudal Iran ke pelabuhan Haifa, di wilayah Israel utara, ternyata dibuat dengan kecerdasan buatan (AI). Beberapa hari setelah video itu beredar, operator pelabuhan membantah rumor tersebut dan menyatakan pelabuhan beroperasi normal.
"Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel pada Senin (2/3/2026)", tulis sebuah unggahan Facebook yang dibagikan pada 3 Maret 2026.
"Dalam serangan tersebut, rudal balistik terbaru jenis "Kheibar" dilaporkan berhasil menghantam Pelabuhan Haifa, gerbang logistik utama yang menangani 56 persen kargo nasional Israel."
Video dalam postingan itu menayangkan kebakaran di sebuah pelabuhan dan ledakan besar yang menyelimuti area tersebut dengan asap tebal.
Video dengan klaim sama juga muncul dalam postingan bahasa Inggris, Slovakia, Thailand dan Urdu yang beredar ketika Iran dan kelompok militan Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran membalas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari (tautan arsip).
Selain menargetkan Israel, Iran juga melancarkan serangan balasan mereka ke negara-negara lain yang menjadi sekutu AS dan Israel (tautan arsip di sini dan sini).
Pelabuhan Haifa memang sering menjadi target serangan dari Lebanon dan Iran sejak perang pecah (tautan arsip). Namun, video yang beredar itu tidak menunjukkan ledakan di kota pelabuhan itu.
Area di video yang beredar itu juga tidak mirip dengan tampilan Google Street View pelabuhan itu (tautan arsip).
Insiden yang ditayangkan dalam klip itu juga bertolak belakang dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh perusahaan multinasional yang berbasis di India Adani Group -- yang memiliki dan mengelola Haifa Port Company, sebuah pelabuhan terbesar di Israel (tautan arsip).
Pada tanggal 3 Maret, di hari postingan itu mulai beredar, pihak perusahaan mengeluarkan pernyataan resmi bahwa "semua aset dan infrastruktur pelabuhan sepenuhnya aman dan dalam kondisi operasional" (tautan arsip).
Pernyataan lainnya juga dikeluarkan pada 12 Maret dan kembali menegaskan bahwa mengatakan operasi di pelabuhan berjalan "normal" dan membantah klaim bahwa pelabuhan tersebut telah dihancurkan oleh rudal-rudal Iran (tautan arsip).
Di hari yang sama, saluran berita asal India NDTV juga menayangkan situasi pelabuhan di hari yang sama, dan tampak tidak ada kerusakan yang terlihat (tautan arsip).
Selain itu, video yang beredar mengandung kejanggalan visual yang sering muncul pada konten buatan AI, seperti kendaraan di jalan yang tampak aneh dan bangunan-bangunan yang terlihat terdistorsi.
Beberapa alat derek dalam video juga seolah-olah menghilang ketika ledakan terjadi.
Analisa lebih jauh oleh sebuah gerakan yang diinisiasi oleh organisasi nirlaba WITNESS yang bernama Deepfakes Rapid Response Force (DRRF) juga menyimpulkan bahwa video tersebut memiliki "probabilitas tinggi hasil rekayasa/editan" dan "kemungkinan besar merupakan komposit" (tautan arsip).
Recod.ai, salah satu anggota inisiatif tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa analisa mereka terhadap tiap potongan video dalam video yang beredar itu menemukan inkonsistensi pada tekstur dan tampilan asap serta pencahayaan gedung-gedung yang tidak sama.
"Gelombang yang dihasilkan oleh ledakan sebesar itu akan menyebabkan kerusakan seketika dan bersifat katastrofe," menurut Cauth AI, anggota DRRF lainnya yang melakukan analisa terpisah.
"Dalam video tersebut, gelombang ledakan berwarna putih melintas melewati gedung-gedung dan jalanan di bawahnya, namun jendela-jendela terlihat tetap utuh dan mobil-mobil di jalan tidak bergeser."
AFP juga telah menuliskan laporan sanggahan lain tentang misinformasi yang beredar terkait perang di Timur Tengah.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami