Video menunjukkan prosesi keagamaan di Irak, bukan pemakaman Khamenei
- Diterbitkan pada hari 06/03/2026 pukul 12:11
- Waktu baca 2 menit
- Oleh: Ara Eugenio, AFP Filipina
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Sebagian rakyat Iran berduka atas terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Namun, video kerumunan orang di dekat masjid berkubah emas yang beredar di media sosial bukan rekaman saat pemakaman pemimpin tertinggi Republik Islam itu. Video tersebut diambil saat "prosesi pemakaman simbolis" yang diselenggarakan di ibu kota Irak, Baghdad, untuk mengenang wafatnya seorang tokoh Muslim.
"Sebuah video memperlihatkan lautan manusia memadati jalanan Iran dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Ribuan warga hadir, membawa bendera dan potret sang pemimpin spiritual, menciptakan suasana haru sekaligus monumental," tulis keterangan postingan Instagram yang dibagikan pada 1 Maret 2026.
Video pada postingan memperlihatkan kerumunan orang, sebagian besar dari mereka berpakaian hitam, memenuhi area di dekat sebuah masjid dengan kubah berwarna emas.
"Kerumunan besar ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh sosok Khamenei dalam perjalanan politik dan keagamaan Republik Islam Iran selama puluhan tahun," lanjut keterangan postingan.
AS dan Israel menggempur Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu perang yang berkembang dengan cepat (tautan arsip). Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei, dan beberapa pemimpin militer republik Islam tersebut tewas dalam serangan itu.
Konflik kemudian meluas ke seluruh wilayah Timur Tengah setelah pasukan Iran melakukan pembalasan terhadap Israel dan negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS . Sementara itu, pasukan Israel menyasar posisi-posisi Hizbullah di Lebanon setelah kelompok yang didukung Tehran itu menembakkan roket sebagai respons atas pembunuhan Khamenei.
Saat kabar kematian Khamenei tersiar, banyak rakyat Iran merayakannya dengan bersorak dari dalam apartemen mereka di Tehran, sementara warga lainnya membunyikan klakson dan memutar musik di jalanan (tautan arsip).
Setelah stasiun televisi setempat mengonfirmasi laporan kematian tersebut, banyak warga Iran berkabung dengan mengenakan pakaian serba hitam dan turun ke jalan di Alun-Alun Enghelab, pusat Kota Tehran. Beberapa orang tampak marah, sementara yang lain menangis.
Klip itu juga beredar dengan klaim yang sama dalam bahasa Tagalog dan Inggris, namun tayangannya tidak berkaitan dengan pemakaman Khamenei.
Pencarian gambar terbalik di Google menemukan bahwa klip tersebut pernah diunggah di halaman Facebook Karbala TV, stasiun berita asal Irak, pada 15 Januari (tautan arsip).
Dalam klip tersebut, terlihat ratusan orang memadati halaman sebuah masjid sambil mengelilingi dan mengusung peti mati berwarna hijau, serupa dengan yang tampak dalam video pada unggahan salah.
Keterangan unggahan dalam bahasa Arab tersebut menyatakan bahwa klip menampilkan sebuah "pemakaman simbolis" di Makam Suci Kadhimiya di Baghdad. Prosesi tersebut dilaksanakan untuk memperingati wafatnya Imam Musa al-Kazim yang "diracuni". Musa al-Kazimi sendiri adalah seorang tokoh Muslim. Di dalam tradisi Syiah, ia juga dikenal sebagai imam yang ke-7 dari 12 imam.
Di Baghdad, setiap tahunnya para peziarah Syiah memadati makam berkubah emas untuk menghadiri acara berkabung guna mengenang sosok imam suci yang diracun di penjara pada abad ke-8 dan dimakamkan di lokasi tersebut (tautan arsip).
Bangunan emas dalam rekaman sama dengan foto Google Street View yang menampilkan sebuah masjid di Baghdad (tautan arsip).
Kerumunan massa dalam video juga terlihat pada foto-foto yang diabadikan fotografer kantor berita Reuters pada 15 Januari (tautan arsip)
Foto dan video AFP ini menunjukkan rakyat Iran yang berkabung di kota Tehran dan daerah lain dengan membawa bendera setelah media pemerintah mengonfirmasi kematian Khamenei (tautan arsip di sini dan sini).
Sebelumnya, AFP telah menyanggah berbagai misinformasi terkait konflik di Timur Tengah.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami