Audio dari rekaman wawancara jendral militer India ini hasil rekaan AI
- Diterbitkan pada hari 27/03/2026 pukul 10:28
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Devesh MISHRA, AFP India
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Kapal selam Amerika Serikat (AS) menenggelamkan kapal fregat Iran di lepas pantai Sri Lanka pada 4 Maret 2026 dan menewaskan sedikitnya 84 pelaut. Namun, sebuah video di media sosial yang memperlihatkan jenderal militer India mengatakan bahwa mereka membagikan lokasi kapal tersebut kepada Israel adalah hasil rekayasa digital. Rekaman asli menunjukkan diskusi operasi militer India terhadap Pakistan pada 2025. Sementara itu, alat deteksi AI menemukan bahwa suara pada video salah tersebut adalah rekaan kecerdasan buatan (AI).
"India akhirnya secara resmi mengakui telah mengkhianati Iran dengan membagikan lokasi kapal Iran sebelum akhirnya diserang oleh Amerika Serikat," tulis sebagian keterangan postingan Instagram pada tanggal 9 Maret 2026. Tayangan video memperlihatkan panglima Angkatan Darat India, Upendra Dwivedi.
Tayangan video memperlihatkan foto Perdana Menteri India, Narendra Modi, sedang berpelukan dengan Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel. Klip kemudian menayangkan panglima Angkatan Darat India, Upendra Dwivedi, sedang memberikan penjelasan bahwa ia "menyayangkan" tenggelamnya kapal Iran, tetap semua itu terjadi di perairan internasional dan bukan di wilayah India.
"Selama kapal Iran berada di wilayah India, mereka tetap terlindungi. Namun, ketika mereka berada di perairan internasional, sebagai mitra strategis Israel, itu kewajiban kami untuk menginformasikan Israel secara tepat lokasi mereka sebagai bagian dari kesepakatan terbaru kami," kata Dwivedi di dalam video.
"Kami bisa membantu Israel dengan memberikan intelijen atau lokasi, tapi kami tidak ada hubungannya dengan serangan torpedo gabungan Israel dengan Amerika Serikat," katanya, sambil menambahkan bahwa India tidak ambil bagian dalam "Perang Iran".
Video yang sama juga beredar di TikTok, Instagram, dan Facebook setelah kapal selam AS menembakkan torpedo ke kapal fregat Iran, IRIS Dena, di perairan lepas pantai selatan Sri Lanka pada 4 Maret (tautan arsip). Aksi militer ini sekaligus memperluas perang AS-Israel melawan Iran hingga ke Samudra Hindia.
Sri Lanka memulangkan jenazah 84 pelaut yang tewas dalam serangan tersebut, namun 64 orang lainnya masih dinyatakan hilang, sementara 32 penyintas lainnya akan tetap tinggal di negara kepulauan itu untuk sementara waktu (tautan arsip).
Kapal perang kedua Iran, IRIS Bushehr, diizinkan masuk ke perairan Sri Lanka sehari setelah tenggelamnya kapal Dena. Sri Lanka menyediakan pelabuhan aman bagi kapal beserta lebih dari 200 kru di dalamnya. Sementara India mengatakan bahwa mereka membiarkan kapal Iran lainnya, IRIS Lavan, untuk bersandar di salah satu dermaga, atas alasan "kemanusiaan" setelah adanya laporan masalah mesin.
Kolombo dan New Delhi mengatakan bahwa mereka menyediakan tempat penampungan bagi pelaut Iran dengan "pertimbangan kemanusiaan" di tengah kekhawatiran bahwa mereka juga bisa terbunuh dalam serangan AS.
Ketiga kapal tersebut merupakan bagian dari latihan angkatan laut antar-negara yang diselenggarakan oleh India sebelum pecahnya perang di Timur Tengah.
Namun, video jenderal militer India itu telah dimanipulasi.
AFP melakukan pencarian gambar terbalik dan kata kunci tertentu pada Google menggunakan teks yang ada pada video berbahasa Inggris yang berbunyi "Raisina Dialogue 2026 x Firstpost", dan hasilnya mengarahkan kepada rekaman lebih panjang yang diunggah saluran YouTube Firstpost pada 7 Maret (tautan arsip).
Video Firstpost itu berjudul: "Panglima militer India berbicara soal Op Sindoor, Pakistan, dan Masa Depan Peperangan | Raisina Dialogue 2026."
Dalam wawancara itu, Dwivedi bicara soal "Operasi Sindoor" India dengan analis urusan strategis asal India Harsh V. Pant (tautan arsip). Operasi Sindoor sendiri adalah nama yang dipakai India untuk merujuk ke konflik empat hari melawan Pakistan, pada Mei 2025, di mana kedua belah pihak mengklaim kemenangan.
Klip yang beredar tersebut berkorelasi dengan video Firstpost pada bagian menit 1:18.
Di dalam rekaman asli, Dwivedi tidak sekali pun menyebut tentang perang antara AS-Israel melawan Iran, atau dugaan serangan kepada kapal perang Iran di Samudera Hindia.
Suara Dwivedi dalam video salah juga terdengar datar secara dan tidak alami, sementara gerakan mulutnya tidak sesuai dengan isi pidatonya.
Hasil analisis suara dari video salah tersebut menggunakan alat deteksi tiruan suara, Hiya AI, yang tersedia pada Verification Plugin, atau dikenal juga dengan InVID-WeVerify, menemukan 99 persen kemungkinan bahwa audio itu adalah buatan AI.
Sementara itu, foto yang terlihat di awal video salah tersebut berasal dari unggahan X Benjamin Netanyahu pada 25 Februari 2026 (tautan arsip). Di postingan tersebut, Netanyahu menyambut kedatangan Modi ke Israel.
AFP telah menyanggah berbagai misinformasi lain terkait konflik di Timur Tengah.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami