Penutupan Gereja Makam Suci di Yerusalem bukan pertama kalinya dalam sejarah
- Diterbitkan pada hari 30/03/2026 pukul 09:42
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Dene-Hern CHEN, AFP Australia
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Di tengah perang yang berlangsung di Timur Tengah, pihak berwenang Israel memutuskan untuk menutup sejumlah situs suci di Kota Tua Yerusalem, termasuk Gereja Makam Suci. Namun keputusan untuk menutup situs tersebut hingga batas waktu yang belum ditentukan bukanlah yang pertama kalinya terjadi seperti yang diklaim sejumlah postingan media sosial. Situs suci bagi umat Kristiani itu sempat ditutup selama dua bulan pada 2020 saat pandemi Covid-19, berlawanan dengan klaim dalam unggahan tersebut yang menyebutkan bahwa hanya ada pembatasan akses terhadap situs ketika pandemi.
"Israel telah menutup Gereja Makam Suci tanpa batas waktu untuk pertama kalinya dalam sejarah Kekristenan," tulis keterangan postingan Facebook yang dibagikan pada 18 Maret 2026.
Foto dalam postingan menunjukkan bagian dalam Gereja Makam Suci di Kota Tua Yerusalem yang dipercayai sebagai makam Yesus Kristus.
"Situasi ini telah memicu kecaman luas dari berbagai pemimpin agama dan komunitas internasional karena dianggap melanggar hak kebebasan beribadah di situs-situs paling suci di dunia," lanjut keterangan dalam postingan tersebut.
Klaim serupa, yang juga muncul dalam postingan berbeda di TikTok dan Facebook, menyebutkan bahwa Israel menutup gereja tersebut dengan alasan keamanan, dan perayaan Pekan Suci dan Paskah tahun ini serta misa dan liturgi Minggu akan dilarang dan dibatalkan.
"Gereja yang seharusnya dipenuhi ratusan ribu orang dalam beberapa minggu mendatang ditutup paksa dan dibungkam," tambah postingan tersebut.
Sejak Israel dan Amerika Serikat (AS) memulai perang dengan Iran pada 28 Februari lalu, pihak berwenang Israel telah menutup akses terhadap situs-situs suci di Yerusalem, termasuk Masjid Al-Aqsa, Gereja Makam Suci, dan Tembok Barat, atau yang dikenal juga dengan sebutan Tembok Ratapan (tautan arsip). Keputusan tersebut diambil atas alasan keamanan.
Pihak berwenang mengatakan pada 16 Maret lalu bahwa mereka menemukan "pecahan misil dan serpihan peluru pencegat, beberapa di antaranya berukuran cukup besar, di sejumlah lokasi di Kota Tua, termasuk kompleks Temple Mount, area Gereja Makam suci, dan Kawasan Yahudi" (tautan arsip).
Empat hari kemudian, sebuah ledakan menimbulkan lubang di lereng bukit tepat di dalam wilayah Kota Tua dan menyebabkan puing-puing tersebar di jalanan, menyusul peringatan akan datangnya rudal dari Iran (tautan arsip).
Jurnalis AFP yang berada di lokasi melihat kerusakan yang timbul beberapa ratus meter dari lokasi situ-situs suci tersebut berada. AFP tidak dapat memverifikasi secara independen apakah kerusakan tersebut disebabkan oleh serangan langsung rudal atau akibat serpihan yang jatuh setelah serangan digagalkan.
Pembatasan akses terhadap Gereja Makam Suci memang sesuatu yang jarang dilakukan, namun hal tersebut bukanlah yang pertama seperti yang diklaim oleh postingan yang beredar.
Gereja Makam Suci sempat ditutup untuk umum pada akhir Maret 2020 saat Israel menerapkan serangkaian pembatasan aktivitas sosial untuk menanggulangi penyebaran Covid-19, termasuk penutupan sejumlah tempat ibadah (tautan arsip).
Pembatasan sosial pada saat itu, yang diumumkan oleh kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melarang warga untuk pergi meninggalkan rumahnya kecuali untuk membeli keperluan bahan pokok seperti makanan dan obat, berobat atau dalam beberapa kasus untuk bekerja.
Gereja tersebut dibuka kembali sebagian dua bulan kemudian, di mana hanya segelintir jemaat yang diperbolehkan untuk memasuki area gereja setelah berkoordinasi dengan denominasi Kristen yang mengontrol situs suci tersebut (tautan arsip).
'Kehidupan, liturgi dan ritual terus berlanjut'
Hingga 27 Maret 2026, belum ada indikasi bahwa Gereja Makam Suci akan kembali dibuka namun pengurus situs suci tersebut mengatakan dalam pernyataan pada 21 Maret bahwa mereka terus berdialog dengan pihak berwenang (tautan arsip).
Mereka juga mengatakan biarawan yang berada di gereja "tidak menghentikan perayaan, ritual, kegiatan harian, serta doa liturgi yang telah dijadwalkan sebelumnya."
"Bahkan saat ini, walaupun akses menuju Basilika dilarang bagi para jemaat untuk alasan keamanan, kegiatan doa tidak pernah berhenti di Gereja Makam Suci."
Francesca Romana Stasolla, profesor bidang arkeologi kristen abad pertengahan di University of Rome Sapienza yang memimpin proyek ekskavasi Gereja Makam Suci dan sempat tinggal di situs tersebut selama tiga tahun, mengatakan walaupun gereja tertutup untuk umum, namun aktivitas keagamaan tidak akan berhenti (tautan arsip di sini dan sini).
"Kehidupan, liturgi serta ritual terus berlanjut karena para biarawan yang tinggal di biara yang terhubung dengan gereja tetap menjalankan kegiatan sehari-hari mereka," ujarnya kepada AFP dalam surel yang dikirim pada 20 Maret.
"Perayaan Paskah akan berjalan seperti biasa, tentunya dengan jumlah jemaat yang terbatas, namun liturgi akan berlangsung seperti biasa," tambahnya.
AFP sebelumnya telah menyanggah misinformasi lainnya terkait perang yang berlangsung di Timur Tengah di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami