Rekaman pidato tahun baru Kim Jong Un disebarkan dengan konteks salah terkait perundingan damai AS-Iran

Amerika Serikat (AS) dan Iran sedang mempertimbangkan untuk melakukan negosiasi lanjutan di ibu kota Pakistan, Islamabad, setelah pembicaraan damai sebelumnya pada 11 April gagal mencapai kesepakatan. Namun, sebuah video yang disebarkan di media sosial dengan klaim pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menawarkan diri untuk menjadi mediator perundingan berasal dari rekaman tahun 2019.

"Kim Jong Un tawarkan AS untuk bermediasi dengan Iran," tulis teks yang ditempelkan pada video di postingan TikTok tanggal 14 April 2026. 

Image
Tangkapan layar video di postingan salah di TikTok, diambil pada 21 April 2026, dengan tanda silang merah yang ditambahkan oleh AFP

Klaim tersebut beredar setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran pada 11 April berakhir tanpa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Setelah perundingan lebih dari 20 jam di Islamabad, Wakil Presiden AS  JD Vance mengakui perbedaan sikat yang sangat besar antara AS dan Iran belum dapat dijembatani untuk saat ini (tautan arsip).  

Menurut laporan media, AS menuntut Iran menghentikan program pengayaan uranium selama 20 tahun sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang (tautan arsip).

Presiden AS Donald Trump mengawali perang pada 28 Februari dengan dalih bahwa Iran sedang mengembangkan bom atom — yang telah dibantah Tehran — dan berjanji tidak akan pernah membiarkan negara republik Islam itu memiliki senjata nuklir.

Pihak Washington mengatakan bahwa mereka sedang mendiskusikan kemungkinan diadakannya perundingan kedua di Pakistan (tautan arsip). 

Video dengan klaim Kim Jong Un menawarkan diri menjadi mediator tersebut juga beredar di Instagram, serta dalam bahasa lain seperti Mandarin, Inggris, dan Thailand

Namun, klip tersebut telah diberi teks terjemahan yang salah; Kim tidak menyebut Iran dalam pidatonya di video itu.

Pidato tahun 2019

Pencarian gambar terbalik di Google menemukan laporan media yang berisi video yang sama dan menunjukkan Kim memberikan pidato tahun baru 2019 (tautan arsip).

Penelusuran dengan kata kunci pada arsip KCNA Watch, sebuah situs yang memonitor dan mengarsipkan laporan media Korea Utara, menemukan bahwa klip dalam postingan salah tersebut adalah cuplikan dari pidato Kim yang disiarkan oleh TV nasional Korea Utara pada 1 Januari 2019 (tautan arsip).

Image
Perbandingan tangkapan layar antara video di postingan salah (kiri) dan video Korean Central TV di situs KCNA Watch (kanan)

Di dalam siaran video tersebut, Kim berbicara dalam bahasa Korea dan mengatakan: "Saya siap duduk berhadapan langsung dengan presiden Amerika Serikat kapan saja, dan akan bekerja keras untuk berhasil mencapai hasil yang disambut baik oleh masyarakat internasional." 

"Namun, jika Amerika Serikat tidak menepati janjinya kepada masyarakat internasional dan salah menilai kesabaran rakyat kami dengan berupaya memaksakan sesuatu secara sepihak kepada kami serta terus melanjutkan sanksi dan tekanan, maka kami tidak akan punya pilihan lain selain mencari jalan baru untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan negara kami demi mencapai perdamaian di Semenanjung Korea." 

Pada postingan salah berbahasa Mandarin, Kim disebutkan ingin melalukan operasi militer gabungan dengan Korea Selatan dan negara-negara lain. 

Namun, tidak ada pernyataan seperti itu dari Kim di video asli. 

Sebaliknya, dia berkata: "Sekarang, ketika Utara dan Selatan telah berjanji untuk maju di jalur perdamaian dan kemakmuran, kami menegaskan bahwa latihan militer gabungan dengan kekuatan asing lainnya — sumber meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea — tidak boleh lagi diizinkan dan bahwa masuknya perlengkapan perang, termasuk aset-aset strategis, harus dihentikan sepenuhnya." 

Pernyataan tentang latihan militer gabungan di video asli bisa dilihat pada menit ke-25, sementara pada sekitar menit ke-30 Kim berbicara tentang niatnya untuk bertemu dengan presiden AS, tetapi tidak ada penyebutan Iran dalam pidatonya.

Kim bertemu dengan Trump pada Februari 2019 di Vietnam, lalu keduanya bertemu lagi beberapa bulan kemudian di Zona Demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan (tautan arsip). 

Kedua pemimpin negara itu juga berdialog pada tahun 2018 di Singapura, yang menandai kali pertama bertemunya presiden AS dan pemimpin Korea Utara. 

Pencarian dengan kata kunci di situs lembaga penyiaran negara Korean Central News Agency dan Google tidak menemukan laporan dari sumber yang dapat dipercaya yang menyebut Kim berencana memediasi negosiasi antara AS dan Iran. 

Sebaliknya, Kim mengawasi uji coba rudal jelajah strategis dan rudal anti-kapal perang yang diluncurkan dari sebuah kapal perusak, menurut laporan media pemerintah Korea Utara pada 14 April (tautan arsip). 

Para analis mengatakan kepada AFP bahwa peluncuran rudal itu bertujuan untuk menunjukkan kepada AS bahwa perang melawan Korea Utara akan sangat berbeda dari konflik Washington dengan Iran.

AFP telah membantah berbagai misinformasi yang terkait dengan perang di Timur Tengah di sini.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami