Video rudal berwarna merah muda ini hasil buatan AI

Di tengah gencatan senjata selama dua minggu yang masih berlaku antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, beredar sebuah video rudal merah muda yang diklaim dibuat oleh Iran atas permintaan seorang gadis cilik yang menginginkan peluru berpemandu tersebut ditembakkan ke Israel. Namun, klip tersebut sebenarnya dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

"Penuhi permintaan gadis cilik. Militer Iran tembakkan rudal berwarna pink ke Israel," tulis teks pada video dalam postingan Facebook tertanggal 7 April 2026. 

"Militer Iran tembakkan rudal berwarna pink ke Israel setelah video yang memperlihatkan seorang gadis cilik meminta supaya rudal berwarna pink ditembakkan ke Israel beredar," tulis sebagian keterangan postingan.

Video pada postingan menunjukkan gambar statis rudal berwarna merah muda dengan tulisan dalam bahasa Persia yang artinya, "Sebagai jawaban atas permintaan seorang gadis revolusioner".

Image
Tangkapan layar video di postingan salah, diambil pada 22 April 2026, dengan tanda silang merah dan icon AI yang ditambahkan oleh AFP

Perang di Timur Tengah dimulai dengan serangan AS dan Israel kepada Iran pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi negara Republik Islam tersebut. Tehran kemudian melakukan pembalasan dengan menembakkan rudal ke sejumlah negara-negara Teluk yang menjadi tempat pangkalan militer AS. 

Pada tanggal 7 April 2026, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, sementara kedua belah pihak berunding untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah (tautan arsip).

Perundingan yang diadakan di ibu kota Pakistan, Islamabad, tersebut berakhir tanpa adanya kesepakatan pada tanggal 12 April. Keesokan harinya, pasukan AS mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz (tautan arsip).

Foto dengan klaim serupa juga menyebar di TikTok dan Facebook, dan dibagikan oleh akun resmi X milik Kedutaan Besar Iran di Afrika Selatan serta beberapa media massa di Indonesia.

Namun, gambar rudal berwarna merah muda tersebut bukan foto asli.

Gambar AI

Analisis mendalam pada sistem mekanik rudal tersebut memperlihatkan adanya kejanggalan.

Analis konflik Afrika Selatan, Darren Olivier, mengatakan kepada AFP bahwa kabel di bawah tulisan tersebut tidak memiliki tujuan mekanis yang jelas.

"Struktur spesifik rudal, selubung pelindung, dan berbagai perlengkapannya tidak sesuai dengan rudal Iran mana pun yang saya ketahui," kata Olivier. "Khususnya, bagian kabel yang tidak seperti konektor yang terlihat pada rudal balistik yang telah ada, baik buatan Iran maupun lainnya, dan tampaknya tidak mengikuti jalur yang logis, sebuah kegagalan yang merupakan ciri umum dari gambar yang dihasilkan AI."

Tim AFP menganalisis potongan gambar tersebut melalui beberapa alat deteksi AI.

Hive Moderation menemukan bahwa terdapat kemungkinan sebesar 99,1 persen potongan gambar dari video yang beredar adalah buatan AI.

Image
Tangkapan layar hasil analisis Hive Moderation, diambil pada 13 April 2026, dengan label AI yang ditambahkan oleh AFP

Sedangkan hasil analisis VeraAI pada InVID-WeVerify, yang ikut dikembangkan oleh AFP, menunjukkan angka 85 persen kemungkinan AI.

Image
Tangkapan layar hasil analisis VeraAI, diambil pada 13 April 2026, dengan label AI yang ditambahkan oleh AFP

Teknologi Gemini yang dimiliki Google mendeteksi adanya SynthID pada gambar tersebut-- SynthID sendiri adalah tanda air tak terlihat ketika sebuah gambar dihasilkan menggunakan teknologi AI Google (tautan arsip).

Image
Tangkapan layar hasil analisis SynthID, diambil pada 13 April 2026, dengan label AI yang ditambahkan oleh AFP

Meskipun rudal berwarna merah muda yang diklaim milik Iran itu tidak nyata, rudal merah muda yang sebenarnya memang ada. Perusahaan pertahanan Ukraina, Fire Point, memperkenalkan FP-5 "Flamingo" pada Agustus 2025, dengan versi awal yang memiliki hulu ledak berwarna merah muda (tautan arsip). Warna ini dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada para perempuan yang mengelola proses produksi rudal.

AFP telah membantah berbagai misinformasi terkait dengan perang di Timur Tengah.

Artikel ini telah dimuat ulang untuk memperbarui metadata.
22 April 2026 Artikel ini telah dimuat ulang untuk memperbarui metadata.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami