Persons wearing protective suits walk toward the hantavirus-stricken cruise ship MV Hondius docked in the port of Granadilla de Abona on the island of Tenerife in Spain's Canary Islands on May 11, 2026. (AFP / JORGE GUERRERO)

Riset lama Moderna dipakai untuk menyebarkan klaim salah terkait hantavirus

Kasus baru hantavirus di sebuah kapal pesiar berbendera Belanda baru-baru ini telah membangkitkan kembali teori konspirasi yang menyebar di era pandemi Covid-19. Salah satu klaim salah yang tengah beredar menyebutkan bahwa hantavirus "telah direncanakan" dengan bukti laporan riset lama dari Moderna, sebuah perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS). Namun, universitas di Korea Selatan yang menjadi mitra Moderna dalam riset itu mengatakan kepada AFP bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk menangani sebuah "patogen yang telah lama diabaikan" yang terus menginfeksi pasien sejak ditemukan pada 1950. Walaupun hantavirus mematikan, sejumlah ahli mengatakan bahwa virus ini kecil kemungkinan menyebabkan pandemi global. 

"KAMPANYE PANIK “VIRUS” HANTA TERLIHAT SUDAH DIRENCANAKAN," tulis penggalan keterangan postingan yang dibagikan di Facebook pada 7 Mei 2026.

"Penjelasannya sbb: apakah mereka akan bilang Kebetulan??? Pada tahun 2024, Moderna diam-diam bermitra dengan Universitas Korea untuk vaksin Hantavirus berbasis mRNA," lanjut keterangan postingan tersebut.

"Sekarang media mulai berbisik tentang “ancaman Hantavirus” lagi? Skrip yang sama. Pemain yang sama. Siklus ketakutan yang sama," tambah keterangan postingan yang menyertakan tangkapan layar sejumlah website, salah satunya memuat informasi kerja sama pengembangan vaksin hantavirus antara Moderna dan Sekolah Kedokteran Universitas Korea.

Image
Tangkapan layar postingan salah yang diambil pada 20 Mei 2026, dengan tanda silang merah yang ditambahkan oleh AFP

Klaim serupa juga muncul di postingan X dan Instagram serta beredar dalam berbagai bahasa, seperti Mandarin, Belanda dan Inggris, di mana sejumlah postingan menyebutkan bahwa hantavirus "tidak ada" dan wabah mematikan yang terjadi di atas kapal pesiar MV Hondius telah "direncanakan" sebelumnya (tautan arsip).

Postingan-postingan tersebut menggaungkan misinformasi yang pernah disuarakan oleh para penentang vaksin Covid-19, termasuk teori yang menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 dibuat untuk menguntungkan produsen vaksin seperti Moderna atau narasi salah bahwa pandemi Covid merupakan agenda "depopulasi". 

Sama seperti gelombang misinformasi terkait Covid-19, klaim yang beredar tentang hantavirus juga tidak akurat.

Salah paham riset vaksin

Salah satu tangkapan layar yang dibagikan di postingan salah memperlihatkan rilis pers tentang kolaborasi riset vaksin dari website America Association for the Advancement of Science pada 5 September 2024 (tautan arsip).

Rilis tersebut menyebutkan bahwa Sekolah Kedokteran Universitas Korea bermitra dengan Moderna untuk mengembangkan vaksin messenger RNA (mRNA) guna melawan hantavirus. Virus ini menginfeksi ratusan orang di Korea setiap tahunnya, terutama para pemuda yang sedang menjalani wajib militer dan penduduk yang tinggal di daerah rawan risiko.

Kim Woo-joo, seorang guru besar di lembaga Vaccine Innovation Center milik Sekolah Kedokteran Univesitas Korea yang bermitra dengan Moderna, mengatakan kolaborasi antar kedua pihak bertujuan untuk menangani sebuah "patogen yang telah lama terabaikan"(tautan arsip di sini, sini dan sini).

Walaupun "jarang terjadi", sejumlah kasus hantavirus memiliki tingkat kematian yang tinggi, menjadikan penyakit tersebut sebagai "masalah kesehatan publik yang serius", menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (tautan arsip).

"Masyarakat menaruh perhatian saat terjadi kematian yang menjadi sorotan, lalu bertanya-tanya mengapa vaksin tidak ada, namun kemudian perhatian terhadap isu tersebut akan cepat memudar," ujar Kim kepada AFP pada 12 Mei. Ia juga menambahkan bahwa penelitian lanjutan untuk vaksin ini sangatlah penting.

Secara terpisah, Moderna mengatakan kepada AFP bahwa kemitraan yang terjalin dengan Univesitas Korea merupakan upaya perusahaan untuk "mengembangkan tindakan penanggulangan terhadap penyakit menular yang baru muncul".

Kemitraan yang terjalin untuk riset terkait hantavirus tersebut telah diberitakan secara luas oleh sejumlah media di Korea Selatan (tautan arsip di sini, sini dan sini). Fakta tersebut sekaligus menyanggah klaim yang disebarkan sejumlah postingan yang menyebutkan bahwa kerja sama antara Moderna dan Korea University dilakukan secara diam-diam.   

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang disetujui secara global untuk menangani hantavirus.

Sebelumnya, vaksin hantavirus berbasis patogen yang dilemahkan atau dinonaktifkan telah dikembangkan di Korea Selatan dan China (tautan arsip).

Namun "vaksin tersebut perlu diperbaharui untuk mencocokkan dengan varian yang beredar saat ini," ujar  Kim Won-keun, profesor madya di bidang mikrobiologi di Universitas Hallym , kepada AFP.

Risiko pandemi 'kecil'

Berbeda dari Covid-19, yang menewaskan jutaan penduduk di seluruh dunia, risiko yang dibawa oleh hantavirus terhadap masyarakat umum "sangatlah kecil," kata juru bicara WHO Christian Lindmeier pada 8 Mei (tautan arsip).

Hantavirus merupakan "virus yang berbahaya, namun hanya bagi orang yang sudah terinfeksi," kata Lindmeier.

Kim, sang profesor mikrobiologi dari Universitas Hallym, mengatakan karena mode penularan hantavirus yang terbatas, kecil kemungkinan virus ini akan menyebabkan pandemi global.

Tidak semua hantavirus dapat menginfeksi manusia, namun varian yang mampu menular biasanya tersebar melalui partikel udara yang terkontaminasi air liur, kotoran atau urin tikus yang terinfeksi (tautan arsip).

Hingga 15 Mei, sebanyak 10 kasus telah dilaporkan dalam lonjakan penularan yang terjadi di atas kapal pesiar tersebut, termasuk tiga kasus yang menyebabkan kematian (tautan arsip). Delapan kasus di antaranya terkonfirmasi merupakan infeksi dari varian Andes, yang merupakan satu-satunya varian yang menyebar antar manusia dan banyak ditemukan di Amerika Selatan (tautan arsip).

Semua kasus yang tercatat kali ini merupakan penumpang dari kapal pesiar berbendera Belanda yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde.

Korban meninggal dunia pertama dalam penularan hantavirus kali ini telah menghabiskan waktu selama 48 jam di Kota Ushuaia bersama istrinya sebelum menaiki kapal pesiar tersebut. Sang istri juga meninggal dunia dua minggu setelah kunjungan itu. Kondisi itu menimbulkan kecurigaan bahwa ia telah terinfeksi hantavirus di Argentina (tautan arsip).

Pejabat publik setempat menyanggah hipotesis tersebut, dan sejumlah ilmuwan lokal meyakini infeksi yang berlangsung di atas kapal pesiar itu berasal dari wilayah lain.

Image
Infografik yang menjelaskan nilai R, tingkat penularan dari sekelompok penyakit, termasuk hantavirus varian Andes (AFP / Nicholas SHEARMAN)

Patogen lama

Selain itu, tidak seperti Covid-19 -- yang disebabkan oleh virus yang tidak dikenal sebelum ditemukan pada akhir 2019 -- hantavirus sudah lama diidentifikasi.

Hantavirus terbagi kedalam dua kelompok: virus yang dikenal sebagai virus dunia lama yang ditemukan di Eropa, Asia dan Afrika; dan virus dunia baru yang dideteksi di wilayah utara, tengah dan selatan benua Amerika (tautan arsip).

Dua wabah besar memicu penemuan dari dua kelompok virus tersebut, menurut sebuah penelitian tahun 2010 yang diunggah di jurnal Clinical Microbiology Reviews (tautan arsip).

Wabah pertama membuat sakit lebih dari 3.000 tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berpartisipasi dalam Perang Korea tahun 1950-1953, yang juga menyebabkan virus tersebut diberi nama Hanta yang diambil dari Sungai Hantan di Korea Selatan (tautan arsip).

Sementara wabah kedua berlangsung di wilayah barat daya AS pada tahun 1993 dengan kasus infeksi sebanyak 18 orang (tautan arsip).

Infeksi hantavirus telah menjadi penyakit yang wajib dilaporkan secara nasional di AS sejak 1995 (tautan arsip).

Di Korea Selatan sendiri, hantavirus menjadi penyakit yang wajib dilaporkan dan terus diawasi sejak 1976, menurut Badan Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit negara tersebut (tautan arsip).

AFP sebelumnya telah menyanggah klaim salah lainnya terkait hantavirus di sini.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami