Ahli kesehatan sanggah misinformasi terkait imunitas 'alami' dan vaksin campak
- Diterbitkan pada hari 26/03/2026 pukul 08:38
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Ramadani SAPUTRA, AFP Indonesia
Seiring merebaknya penyakit campak di Indonesia, beredar klaim sesat yang menyebutkan bahwa anak yang terpapar campak mendapatkan perlindungan lebih baik dari penyakit menular tersebut dibandingkan vaksin. Faktanya, meskipun anak yang sembuh dari penyakit ini memang memperoleh kekebalan, namun ahli kesehatan memperingatkan risiko serius yang bisa terjadi jika anak belum mendapatkan vaksinasi, termasuk risiko kerusakan sistem imun dan bahkan kematian.
"Campak ini INFEKSI BIASA yg bisa diatasi oleh sistem kekebalan alami manusia," tulis keterangan dalam sebuah unggahan panjang di Facebook, yang telah dibagikan lebih dari 2.400 kali sejak postingan itu muncul pada 5 Maret 2026.
Keterangan lain dalam unggahan tersebut kemudian menyebutkan bahwa anak-anak yang pulih dari campak akan memproduksi antibodi alami "lima hingga 10 kali lipat lebih banyak" dibandingkan vaksin manapun.
"Berhenti menakuti rakyat & membunuh rakyat dengan obat YANG SALAH + vaksin YANG TIDAK AMAN," lanjut postingan tersebut, seraya menambahkan bahwa campak dapat diobati dengan mencuci hidung, berkumur dengan air garam, dan mengonsumsi buah-buahan.
Unggahan tersebut muncul di saat pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan kampanye vaksin campak untuk mengatasi penyebaran penyakit menular tersebut yang terjadi di 11 provinsi (tautan arsip). Data pemerintah per 20 Februari menunjukkan bahwa enam orang telah tewas akibat campak sejak awal tahun ini.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia telah mencatatkan 8.892 kasus campak dalam enam bulan terakhir, menjadikannya negara dengan jumlah kasus terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Angola (tautan arsip).
Klaim anti vaksin campak serupa juga beredar di Facebook dan TikTok, di mana sejumlah akun menggembar-gemborkan pengobatan tradisional sebagai cara utama dalam mengatasi campak.
"Alhamdulillah anak saya sudah sembuh dri campak tanpa ada ke rumah sakit atau pun obat medis ," ujar seorang pengguna Facebook.
"...jd kita jgn mudah diprovokasi oleh tim kesehatan yg blg hrs vaksin...SCRA mreka sendiri pn tidak paham betul apa2 saja bahan2 yg dicampur kn ke vaksin itu," tulis pengguna lainnya.
Namun, para ahli mengatakan bahwa vaksin campak terbukti aman dan efektif, sementara paparan langsung terhadap virus tersebut membawa risiko kesehatan yang fatal.
Risiko kematian
"Walaupun seseorang, pada umumnya, tidak akan terinfeksi campak kembali setelah sembuh, namun infeksi alami dari virus campak memiliki risiko yang serius," ujar WHO (tautan arsip).
"Satu dari 1.000 anak yang menderita campak akan meninggal dunia. Sementara yang lainnya akan menderita penyakit neurologis progresif," ungkap Dr. Aaron Milstone, dokter spesialis penyakit infeksi pada anak di Fakultas Kedokteran Johns Hopkins University, kepada AFP pada 17 Maret.
"Kamu tidak akan meninggal dunia akibat vaksin, malahan mendapatkan perlindungan seumur hidup."
Risiko terkait campak melampaui gejala yang timbul pada penderita, menurut sebuah artikel dari American Society for Microbiology (tautan arsip).
"Salah satu dampak paling unik, sekaligus paling berbahaya, dari patogenesis campak adalah kemampuannya untuk mengatur ulang sistem imun dari penderita," tulis artikel tersebut.
Dampak dari proses penekanan imunitas ini -- yang disebut sebagai amnesia imun -- dapat bertahan selama beberapa tahun dan membuat penderitanya kesulitan untuk menangkal penyakit lainnya.
Dampak parah pada sistem imun ini tidak terdeteksi pada anak-anak yang menerima vaksin, menurut artikel yang terbit pada jurnal Science (tautan arsip).
Aman dan efektif
Pada dasarnya, vaksin campak menggunakan virus hidup yang dilemahkan dengan tujuan merangsang sistem kekebalan tubuh.
"Virus dalam vaksin tidak mengakibatkan infeksi," ujar Milstone.
"Beberapa anak mengalami demam setelah divaksin, namun demam tersebut merupakan respons tubuh dan tidak membawa risiko yang sama seperti virus asli."
Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional di Indonesia telah melewati evaluasi yang ketat, kata Rizka Andalusia, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, dalam pernyataan yang dirilis pada 7 Maret (tautan arsip)
"Artinya, vaksin tersebut telah dipastikan aman dan efektif digunakan,” tambahnya. Efek samping yang muncul dari vaksin bersifat ringan dan sementara.
Narasi salah yang beredar daring terkait vaksin telah membuat Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta publik untuk berhenti menyebarkan seruan agar anak-anak tidak divaksin (tautan arsip). Ia juga mengatakan vaksin dapat menyelamatkan hidup anak-anak Indonesia.
Pengobatan tak berdasar
Menurut WHO, tidak ada pengobatan khusus bagi penderita campak, dan vaksin menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular ini (tautan arsip).
Secara terpisah, Dr Lee Bee Wah, dokter anak dari National University of Singapore, menyanggah klaim bahwa mencuci hidung dan berkumur dengan air garam atau mengonsumsi buah-buahan dapat mengatasi campak (tautan arsip).
"Intervensi-intervensi tersebut tidak secara khusus dapat membantu mengatasi infeksi campak pada anak-anak," ujaranya kepada AFP pada 17 Maret.
"Cara terbaik untuk menghindari infeksi campak adalah dengan melakukan perlindungan terhadapnya. Vaksinasi membentuk imunitas untuk menangkal virus tersebut."
Sebelumnya, AFP telah menyanggah berbagai misinformasi terkait isu kesehatan di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami