Video kepanikan di Florida dibagikan dengan narasi salah terkait perang di Timur Tengah
- Diterbitkan pada hari 26/03/2026 pukul 11:08
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Bill MCCARTHY, AFP Amerika Serikat
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Iran terus melancarkan serangan balasan menyusul aksi militer gabungan Israel-Amerika Serikat (AS) yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka pada akhir Februari lalu. Namun, sebuah video yang dibagikan di media sosial tidak menunjukkan kepanikan di Pantai Eilat, Israel, karena serangan rudal Iran, seperti yang diklaim beberapa postingan. Faktanya, video itu merekam para wisatawan di Pantai Daytona, Florida, AS yang panik setelah mendengar letupan mirip suara tembakan yang ternyata hanya bunyi botol-botol air minum yang diremukkan.
"Detik-detik kepanikan di Pantai Eilat ribuan warga Israel eksodus setelah peringatan serangan rudal," tulis teks pada video yang diunggah di Instagram pada 16 Maret 2026.
"Ketegangan meningkat seiring eskalasi konflik dengan Iran, yang sebelumnya dilaporkan meluncurkan gelombang serangan rudal balistik ke wilayah Israel sebagai bagian dari konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah," tulis keterangan postingan itu.
Postingan serupa juga beredar dalam bahasa Inggris, Arab dan Spanyol.
Video dan klaim itu mulai beredar saat Tehran dan kelompok Houthi, yang didukung Iran, di Yaman melancarkan serangan balasan ke Israel, termasuk ke Eilat, kota paling selatan di Israel, menyusul serangan AS-Israel pada 28 Februari menewaskan Ali Khamenei, pemimpin tertinggi repulik Islam tersebut (tautan arsip di sini dan sini).
Namun, video yang beredar itu tak ada hubungannya dengan perang yang sedang berlangsung.
Pencarian gambar terbalilk menemukan bahwa video yang sama telah beredar dalam laporan berita dan unggahan median sosial tentang Pantai Daytona di Florida, AS (tautan arsip di sini dan sini).
Video itu pertama kali beredar di postingan TikTok pada tanggal 15 Maret dengan keterangan yang menyebutkan bahwa tayangan itu direkam dari lantai 20 sebuah hotel (tautan arsip di sini dan here).
Di dalam postingan yang diunggah dua hari kemudian, pemilik akun menjelaskan bahwa dia merekam kejadian itu saat berlangsung sebuah acara musim semi di pantai tersebut (tautan arsip). Dia mengatakan bahwa walaupun beberapa orang percaya bahwa mereka mendengar suara tembakan, namun suara itu sebenarnya berasal dari "kembang api". Dia juga menyebut bahwa orang-orang berlarian karena suara itu.
Namun, Kantor Sherif Volusia menjelaskan melalui unggahan Facebook bahwa insiden tersebut terjadi karena ada orang di pantai yang meremukkan botol-botol air (tautan arsip).
"Tidak ada penembakan di pantai akhir pekan ini," demikian bunyi unggahan tertanggal 16 Maret itu.
"Berbagai video yang tersebar luas dan diunggah secara online akhir pekan ini secara keliru mengklaim bahwa kerumunan berlarian menghindari tembakan. Video-video ini juga diangkat oleh media. Faktanya, kepanikan itu bermula karena suara botol air yang diremukkan atau, dalam beberapa kasus, orang-orang yang berlarian menghindari ombak."
Postingan itu menambahkan bahwa empat kasus penembakan yang terjadi selama akhir pekan yang mereka usut tidak berkaitan satu sama lain dan melibatkan insiden yang terjadi di luar area pantai.
Sherif Michael Chitwood mengatakan kepada media pada 16 Maret bahwa rumor tentang penembakan di pantai tersebut adalah "kebohongan," dan bahwa ia serta 50 deputinya berada di dalam kerumunan sepanjang acara tersebut dan bisa memverifikasi secara pribadi bahwa "tidak ada satu pun tembakan di pantai" (tautan arsip).
"Yang mereka lakukan adalah meremukkan botol air agar terdengar seperti tembakan senjata untuk membuat kerumunan panik dan berlarian," katanya.
Foto-foto yang dibagikan secara daring dan citra satelit di Google Earth menampilkan kolam renang dan teras milik Daytona Grande Oceanfront Resort, yang semakin menguatkan bukti lokasi tersebut (tautan arsip di sini dan sini).
Artikel pemeriksaan fakta AFP lainnya terkait konflik di Timur Tengah bisa dilihat di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami