Video tentara Israel merusak gereja di Lebanon ini merupakan buatan AI
- Diterbitkan pada hari 16/06/2026 pukul 10:43
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Rabih YOUNES, AFP Timur Tengah & Afrika Utara
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Beberapa minggu setelah seorang tentara Israel tertangkap kamera merusak patung Yesus di Lebanon, beredar sebuah video AI yang diklaim memperlihatkan dua tentara Israel merusak sebuah gereja di kota Debl, Lebanon. Faktanya, otoritas Lebanon mengatakan kepada AFP bahwa tidak ada gereja di kota tersebut yang menyerupai interior bangunan yang terlihat pada video yang beredar. Analisis mendalam pada video menunjukkan kejanggalan visual yang menjadi ciri utama konten AI.
"Tentara Israel brutal menghancurkan gereja Kristen di Lebanon," tulis sebagian keterangan video yang diunggah di Facebook pada 9 Juni 2026.
Video tersebut memperlihatkan dua tentara berdiri di dalam sebuah gereja. Tayangan kemudian beralih ke potongan klip yang menunjukkan puing-puing berserakan di ruangan yang sama, dan salah seorang dari tentara itu menendang sebuah furnitur sebelum keduanya tampak tertawa.
Video yang sama juga beredar dalam bahasa Inggris dan Arab dengan klaim bahwa gereja tersebut terletak di kota Debl, atau Debel, di wilayah selatan Lebanon.
Postingan ini muncul setelah sebuah foto beredar pada bulan April yang menampilkan seorang tentara Israel menggunakan godam untuk memukul kepala patung Yesus yang telah terlepas dari salibnya (tautan arsip).
Patung itu berada di Debl di Lebanon selatan, dekat perbatasan dengan Israel, menurut keterangan otoritas setempat kepada AFP yang juga mengatakan bahwa mereka tidak dapat memastikan apakah patung tersebut mengalami kerusakan.
Militer Israel mengatakan bahwa setelah melakukan penyelidikan, mereka menyimpulkan bahwa gambar yang beredar di media sosial itu asli dan memperlihatkan seorang tentara Israel yang beroperasi di Lebanon selatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa ia "terkejut dan sedih mengetahui bahwa seorang tentara IDF merusak sebuah ikon keagamaan Katolik di Lebanon selatan", dan ia berjanji akan mengambil "tindakan tegas" (tautan arsip).
Namun, video yang beredar dengan klaim dua tentara Israel merusak gereja di Lebanon itu adalah hasil buatan AI.
Kejanggalan visual
Jika diperhatikan lebih dekat, video yang beredar itu memperlihatkan sejumlah kejanggalan visual. Misalnya, lukisan-lukisan pada dinding gereja serta bentuk detail arsitektur bangunan berbeda pada cuplikan "sebelum" dan "setelah" terjadi kerusakan.
Pada detik ke-10, salah satu kaki tentara tampak menghilang selama beberapa detik.
Menurut beberapa jurnalis AFP yang bisa berbahasa Ibrani, suara para tentara di video itu terdengar aneh dan kata-kata mereka tidak koheren.
Bukan gereja di Debl
Pada 3 Juni, Wali Kota Debl, Akl Nadaf, menyampaikan kepada AFP lewat panggilan telepon bahwa tidak ada gereja di kotanya yang bentuk arsitekturnya seperti bangunan di video yang beredar.
Boutros al-Ra'i, mukhtar — atau kepala administratif kota tersebut — mengatakan kepada AFP pada 3 Juni bahwa Debl memiliki dua gereja yang dikenal oleh para penduduk, satu gereja kuno dan satu gereja baru. Ia juga memberikan foto-foto kedua gereja itu kepada AFP untuk perbandingan.
"Desain kedua gereja ini tidak sama dengan apa yang terlihat dalam video yang beredar," katanya.
Selain itu, Hany Kahwagi-Janho, seorang profesor arsitektur dan arkeologi di Holy Spirit University of Kaslik di Lebanon, mengatakan kepada AFP pada 5 Juni bahwa desain interior gereja dalam video tersebut merupakan "campuran aneh" yang memuat unsur-unsur Bizantium dan Katolik, yang menurutnya biasanya tidak ditemukan secara bersamaan di gereja-gereja (tautan arsip).
Ia menambahkan: "Saya tahu gereja-gereja di kota Debl dan tidak ada yang menyerupai gereja dalam video itu".
Artikel periksa fakta AFP lainnya yang menyanggah misinformasi terkait AI bisa dibaca di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami