Video AI beredar di media sosial sebagai rekaman letusan terbaru Gunung Anak Krakatau

  • Diterbitkan pada hari 14/07/2026 pukul 11:25
  • Waktu baca 3 menit
  • Oleh: AFP Indonesia

Gunung Anak Krakatau kembali mengeluarkan awan panas guguran setinggi ratusan meter pada awal Juli. Namun, sebuah klip yang beredar daring dan diklaim sebagai rekaman asli dari peristiwa tersebut sebenarnya adalah video akal imitasi (AI) dan telah ada sejak November 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut tayangan itu sebagai "hoaks."

"Momen erupsi Gunung Anak Krakatau yang terekam dari laut lepas. Berdasarkan siaran langsung dari Merak VTS per 3 Juli 2026, status Anak Krakatau saat ini berada di Level 3 (Siaga)," tulisan penggalan keterangan video yang dibagikan di Facebook pada 5 Juli 2026. 

Video yang telah ditonton lebih dari 62.000 kali itu menunjukkan beberapa orang di sebuah kapal sedang merekam letusan sebuah gunung berapi menggunakan telepon genggam di malam hari. Terdengar pula suara seorang pria yang memberikan peringatan agar kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda meningkatkan kewaspadaan seiring adanya kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Image
Tangkapan layar video di postingan salah yang diambil pada 8 Juli 2026, dengan tanda silang merah dan label AI yang telah ditambahkan oleh AFP

Video dengan klaim yang sama juga beredar di Instagram, TikTok, Threads dan X.

Postingan-postingan ini beredar setelah Badan Geologi ESDM meningkatkan status Gunung Anak Krakatu dari Level Waspada (Level II) ke Level Siaga (Level III) seiring meningkatnya aktivitas vulkanik dari gunung berapi tersebut (tautan arsip di sini dan sini).

Anak Krakatau adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Pada 22 Desember 2018, erupsi dan longsor pada sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai ribuan lainnya (tautan arsip). 

Pihak berwenang menetapkan zona larangan beraktivitas di sekitar gunung berapi pada awal Juli, dan memperingatkan warga setempat, nelayan, dan wisatawan untuk menjauh karena risiko erupsi.

Namun, video yang beredar tersebut tidak memperlihatkan aktivitas Anak Krakatau.

Setelah video tersebut beredar, beberapa media lokal melaporkan bahwa telah terjadi beberapa letusan lagi pada 7 dan 8 Juli yang mengeluarkan awan panas guguran setinggi ratusan meter (tautan arsip di sini dan sini).

Video 'hoax'

BNPB dan Badan Geologi ESDM telah menyanggah video tersebut dan menyebutnya sebagai "hoax" (tautan arsip di sini dan sini). 

Dalam situs resmi mereka, Badan Geologi ESDM juga menyertakan foto-foto yang menampilkan erupsi pada tanggal 2 dan 3 Juli yang terekam oleh kamera pengawas.

Image
Tangkapan layar video CCTV yang dibagikan Badan Geologi ESDM, yang menunjukkan erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2 dan 3 Juli

Pencarian dengan metode gambar terbalik dan kata kunci menemukan bahwa video yang sama tanpa audio telah diunggah pada TikTok di 5 November 2025.

Penggalan keterangan dalam bahasa Inggris dari video TikTok tersebut bebunyi, "Letusan Krakatau: Hujan Lava di Laut Saat Perjalanan Kapal Kami". Postingan tersebut juga memuat label peringatan AI dari TikTok.

Jika diperhatikan lebih saksama, video itu memuat beberapa kejanggalan visual yang kerap ditemukan pada konten-konten AI.

Misalnya, letusan gunung tidak terlihat di layar ponsel yang sedang merekam kejadian tersebut. Juga, letusan yang terlihat tampak tidak alami dengan kolom asap yang berganti warna dari ungu ke merah kemudian ke oranye.

Image
Tangkapan layar video di postingan salah, dengan kejanggalan visual yang ditandai oleh AFP

Hasil analisis alat deteksi AI buatan University at Buffalo, DeepFake-o-Meter, mengindikasikan terdapat kemungkinan yang besar video itu dihasilkan oleh AI (tautan arsip).

Image
Tangkapan layar hasil analisis DeepFake-o-Meter

Sebelumnya, AFP telah menyanggah berbagai misinformasi yang melibatkan konten-konten AI di sini.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami