Postingan media sosial secara keliru sebut 5G sebagai penyebab gelombang panas di Eropa

Di saat suhu panas menerjang sebagian besar wilayah Eropa, sejumlah postingan di media sosial membagikan teori konspirasi yang menyebut bahwa teknologi 5G merupakan penyebab dari gelombang panas di wilayah tersebut. Postingan tersebut tidak berdasar, ungkap para ahli kepada AFP; 5G tidak mempunyai dampak pada cuaca, dan paparan terhadap gelombang radio dari teknologi tersebut hanya menghasilkan sedikit kenaikan pada suhu tubuh -- pengaruhnya "terlalu lemah" dan mustahil untuk memanaskan atmosfer atau memproduksi sistem cuaca. 

"Bukan perubahan iklim atau emisi karbon, tapi Eropa dipanggang 5G," tulis teks pada poster yang diunggah di Facebook pada 5 Juli 2026.

Poster tersebut memperlihatkan sebuah menara 5G yang menjulang di atas kerumunan orang-orang yang berkeringat di bawah terik matahari dengan suhu ekstrem.

Keterangan postingan mengeklaim bahwa gelombang panas yang tengah menerjang Eropa merupakan kombinasi antara "manipulasi cuaca" -- yang menyebabkan "efek gas rumah kaca yang meningkatkan suhu udara" -- dan efek 5G.

"Plus EFEK 5G, yang Ditingkatkan ke Kekuatan Maksimal," lanjut keterangan postingan yang telah dibagikan lebih dari 300 kali itu.

Image
Tangkapan layar postingan salah yang diambil pada 9 Juli 2026, dengan tanda silang merah yang ditambahkan oleh AFP

5G adalah generasi kelima dari teknologi menara seluler yang memungkinkan bandwidth yang lebih luas dan kemampuan untuk mengirimkan lebih banyak data melalui berbagai frekuensi radio (tautan arsip di sini dan sini). Teknologi baru ini meningkatkan kecepatan, konektivitas, dan reliabitas dari proses pengiriman data dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

5G memang kerap dipakai untuk menyebarkan klaim salah dan teori konspirasi yang tidak berdasar di media sosial. Misalnya narasi bahwa 5G dipakai untuk mengontrol cuaca dan menyebabkan Covid

Seperti sejumlah teori konspirasi yang banyak beredar, postingan yang mengeklaim 5G menyebabkan gelombang panas di Eropa -- yang juga beredar di Instagram -- menyalahkan "elit global" sebagai biang kerok dari permasalahan yang muncul.

"Sebagaimana kita tau, Climate Change itu adalah salah satu Agenda Besar Elit Global," tulis penggalan keterangan postingan tersebut.

Namun, sebagian besar komunitas ilmiah sepakat bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas yang melanda Eropa -- di mana negara Eropa barat  mengalami bulan Juni terpanas sepanjang sejarah (tautan arsip di sini dan sini). 

"Gelombang panas seperti saat inilah yang akan kita saksikan dalam iklim yang tengah berubah," kata John Kennedy, kepala informasi iklim di Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam artikel yang diunggah situs resmi WMO pada 9 Juli (tautan arsip). 

“Dalam kurun waktu 50 tahun sejak gelombang panas bersejarah pada 1976, seluruh wilayah Eropa telah menghangat lebih dari dua derajat. Eropa menjadi (benua) yang menghangat paling cepat dan keekstriman suhu juga ikut meningkat."

Gelombang radio 5G "terlalu lemah dibandingkan dengan energi yang dibutuhkan untuk memanaskan atmosfer di Eropa," ujar Khoirul Anwar, profesor madya dari Fakultas Teknik Elektro di Telkom University (tautan arsip).

"Tidak memungkinkan bagi 5G untuk mempengaruhi cuaca atau gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa... Teknologi ini tidak menghasilkan ionisasi pada kulit atau membuat lingkungan menjadi panas," ungkapnya kepada AFP dalam surel pada 8 Juli.

Tidak ada bukti kredibel

Image
Sejumlah turis tampak berjalan melewati kipas angin yang terpasang di area La Sagrada Familia di Barcelona, Spanyol, pada 7 Juli 2026 (AFP / Lluis Gene)

Milan Kloewer, seorang ilmuwan di bidang iklim, mengatakan tidak ada bukti kredibel untuk mendukung klaim yang beredar (tautan arsip).

"Tidak ada mekanisme fisika atau bukti kredibel yang menyatakan bahwa sinyal normal 5G dapat menyebabkan gelombang panas atau mengubah cuaca. 5G menggunakan gelombang elektromagnetik frekuensi radio; pada tingkat paparan yang diatur, interaksi utama yang diketahui hanyalah pemanasan kecil, yang jauh terlalu lemah untuk memanaskan atmosfer atau membuat sistem cuaca," katanya kepada AFP pada 10 Juli.  

"Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa paparan frekuensi radio dari teknologi nirkabel yang ada saat ini menyebabkan kenaikan suhu yang sangat kecil pada tubuh, bukan pemanasan lingkungan dalam skala besar."

Sejalan dengan Anwar dan Kloewer, ilmuwan iklim Daniele Visioni mengatakan kepada AFP bahwa klaim yang mengaitkan 5G sebagai penyebab fenomena gelombang panas yang terjadi di Eropa "benar-benar aneh dan sepenuhnya salah secara fisika" (tautan arsip)

"5G tidak memiliki efek pada cuaca," ungkap asisten profesor dari Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer di Cornell University itu dalam surel kepada AFP pada 8 Juli.

"Bayangkan seperti mencoba menggerakkan manusia dengan menggunakan senter -- foton tidak memiliki cukup energi untuk menggerakkan manusia, udara ataupun air."

Sebaliknya gelombang panas disebabkan oleh "kombinasi dari temperatur global yang meningkat akibat semakin banyaknya gas rumah kaca dan pola meteorologi" seperti sistem tekanan tinggi, yang menjebak udara panas sehingga bertahan di satu tempat terlalu lama, jelas Visioni. 

Bumi pernah mengalami fenomena gelombang panas ekstrem yang menewaskan puluhan ribu orang sebelum teknologi 5G mulai dipakai pada 2019 (tautan arsip di sini dan sini). Eropa sendiri pernah mengalami gelombang panas yang mematikan pada 2003 dengan jumlah korban tewas lebih dari 71.000 orang.

"Sains di seluruh dunia sepakat bahwa gelombang panas adalah fenomena alam, yang diperparah oleh perubahan iklim akibat ulah manusia," kata Visioni.

"Hanya dengan menghentikan pembakaran bahan bakar fosil kita dapat mencegah keadaan menjadi semakin buruk."

AFP sebelumnya telah menyanggah sejumlah klaim salah terkait isu iklim.

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami