'Mustahil secara ilmiah': pakar kesehatan sanggah misinformasi yang menebar kebencian terhadap kelompok LGBTQ
- Diterbitkan pada hari 30/07/2026 pukul 11:05
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: Ramadani SAPUTRA, AFP Indonesia
Di tengah meningkatnya kampanye negatif terhadap kelompok LGBTQ di Indonesia, beredar teori konspirasi tak berdasar yang menyebutkan bahwa "elit global" menggunakan makanan dan vaksin untuk mengubah orientasi seksual seseorang. Klaim keliru ini mengulang narasi "depopulasi" sejenis yang telah berulang kali disanggah sejak pertama kali muncul di era pandemi Covid-19. Sejumlah ahli kesehatan mengatakan kepada AFP bahwa klaim makanan dan vaksin mengubah orientasi seksual tidak masuk akal secara sains, dan mereka menambahkan bahwa narasi seperti itu membahayakan kesehatan publik dan mempromosikan ketakutan.
"LGBT Agenda Elite Global," tulis teks yang tersemat dalam video yang diunggah di Instagram pada 22 Juni 2026.
Video dengan lebih dari 700.000 views tersebut menampilkan dua orang konten kreator yang mendiskusikan topik "agenda elit global".
Mereka mengatakan bahwa LGBTQ merupakan "agenda elit global" untuk menguasai dunia melalui "depopulasi", karena orang-orang LGBTQ tidak dapat bereproduksi.
"Mereka merubah orientasi seksualnya melalui makanan, obat-obatan, dan vaksin," ungkap salah satu kreator dalam video.
Klaim serupa juga beredar di TikTok dan Facebook, seiring meningkatnya sentimen anti LGBTQ di Indonesia.
Di Indonesia sendiri, tidak ada aturan hukum yang berlaku nasional yang menghukum seseorang karena memiliki hubungan sesama jenis. Aceh, yang menerapkan hukum syariat Islam, menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang melarang hubungan sesama jenis.
Meskipun demikian, serangan terhadap komunitas LGBTQ terus terjadi di Indonesia (tautan arsip).
Pada akhir Juni lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan pihaknya tengah menyiapkan naskah akademik untuk menyusun rancangan undang-undang yang dapat mengkriminalisasi individu LGBTQ serta mereka yang mengampanyekan isu terkait (tautan arsip).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga memasukkan penyebaran "budaya" LGBTQ sebagai ancaman nonmiliter dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025, bersama dengan ancaman lainnya seperti perdagangan ilegal, pencurian sumber daya alam, terorisme, ateisme, dan radikalisme (tautan arsip).
Komentar pada postingan yang beredar mengindikasikan bahwa banyak pengguna media sosial yang memercayai klaim yang dilontarkan dalam video.
"Gw pernah dengar suplemen2 fitness itu mengandung unsur yg menyebabkan orientasi sex berubah," tulis seorang pengguna Instagram.
Seorang pengguna lainnya mengatakan: "Depopulasi elite global : perang/genosida, konflik, pandemi, obat²an, vaksin, alat medis, LGBT, childfree, KB/alat kontrasepsi, free seks/kondom, perusakan alam/bencana."
Teori konspirasi yang menyebut adanya agenda tersembunyi dari "elit global" untuk mengurangi populasi manusia lewat program "depopulasi" bukanlah hal baru.
Klaim keliru seperti ini pernah berseliweran di era pandemi Covid-19, saat mayoritas negara di dunia memberlakukan program vaksinasi untuk melawan penyakit menular tersebut.
AFP telah beberapa kali menyanggah klaim tak berdasar terkait depopulasi yang dikatikan dengan program vaksinasi.
Sama seperti klaim depopulasi era Covid-19, postingan yang menyebut makanan dan vaksin dapat mengubah orientasi seksual merupakan narasi yang tidak memiliki landasan ilmiah.
'Tidak mungkin secara sains'
Tidak ada "bukti ilmiah" yang menyebutkan bahwa orientasi seksual dapat diubah melalui makanan, obat-obatan ataupun vaksin, ujar Putri Widi Saraswati, praktisi kesehatan publik global yang berbasis di Belanda (tautan arsip).
"Orientasi seksual adalah hal yang kompleks di mana berdasarkan teori ilmiah yang dipahami saat ini, hal tersebut terdiri dari interaksi rumit antara berbagai faktor sebelum kelahiran," ungkapnya kepada AFP dalam surel pada 23 Juli.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seksualitas "dipengaruhi oleh interaksi biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, historis, agama serta faktor spiritual" (tautan arsip).
Klaim terkait vaksin dapat mengubah orientasi seksual, kepribadian atau kode genetik seseorang adalah sesuatu yang "tidak mungkin secara sains" ujar Herman Kosasih, dokter medis yang sebelumnya terlibat dalam sejumlah program penelitian terkait penyakit menular di Indonesia (tautan arsip di sini dan sini).
"Proses kerja vaksin adalah dengan cara melatih sistem kekebalan tubuh/imun untuk mengenali dan melawan patogen seperti virus atau bakteri," katanya pada 24 Juli.
Sean Whelan, kepala Departemen Mikrobiologi Molekular di Washington University School of Medicine in St Louis, juga menyanggah klaim yang beredar tersebut (tautan arsip).
Dia menambahkan misinformasi semacam itu "mendehumanisasi" individu-individu LGBTQ -- serta memiliki "dampak negatif serius" terhadap isu kesehatan publik.
"Vaksin menyelamatkan manusia dan meningkatkan kesehatan," ungkapnya kepada AFP pada 16 Juli. "Karena vaksin memberikan perlindungan dari infeksi tertentu, vaksin membuat manusia dapat menjalani hidup yang lebih sehat."
AFP telah menyanggah misinformasi lain yang terkait dengan isu LGBTQ dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami