Asap membumbung tinggi di lokasi ledakan di Beirut, Lebanon, pada tanggal 4 Agustus 2020 ( AFP / Anwar Amro)

Ledakan di Beirut tidak disebabkan oleh nuklir

Hak cipta AFP 2017-2021. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sejumlah unggahan menyesatkan di Facebook, YouTube, Twitter dan Instagram mengklaim bahwa ledakan yang terjadi di ibukota Lebanon, Beirut, adalah ledakan nuklir. Namun klaim tersebut salah: pihak berwenang negara itu mengatakan ledakan tersebut berasal dari amonium nitrat yang disimpan dalam jumlah besar dalam sebuah gudang di pelabuhan Beirut; dan sejumlah ahli mengatakan tidak ada bukti kalau malapetaka tersebut adalah ledakan nuklir.

Salah satu klaim tersebut telah ditonton lebih dari 190 kali setelah diunggah di YouTube di sini pada tanggal 5 Agustus 2020.

Unggahan tersebut berisi video dengan durasi tiga menit dan 26 detik yang memperlihatkan momen saat terjadi ledakan di Beirut dan cuplikan puing-puing bangunan setelah ledakan.

Berikut tangkapan layar unggahan menyesatkan itu:

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 12 Agustus 2020

Judul video tersebut berbunyi: “Rekaman detik-detik Bom Nuklir Lebanon”.

Ledakan Beirut terjadi pada tanggal 4 Agustus 2020 dan menewaskan sedikitnya 160 orang dan melukai ribuan lainnya. Sebagai buntut dari insiden itu, Perdana Menteri Hassan Diab dan beberapa menteri di kabinetnya mengumumkan pengunduran diri pada tanggal 10 Agustus 2020, AFP melaporkan di sini dan di sini.

Klaim yang mirip juga telah diunggah di Facebook di sini, di sini dan di sini; dan di YouTube di sini dan di sini, di mana video yang diunggah telah ditonton lebih dari 2,000 kali. 

Klaim yang mirip juga dibagikan dalam bahasa Inggris di Twitter di sini dan di Instagram di sini.

Beberapa unggahan berbahasa Inggris juga mengklaim bahwa “Jeff Smith dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi bahwa ini adalah ledakan nuklir.” Nama yang sama juga sebelumnya disebut dalam sebuah klaim tentang kemungkinan ledakan nuklir di Yaman.

Juru bicara IAEA Fredrik Dahl mengatakan kepada AFP melalui email: “IAEA belum pernah membuat pernyataan semacam itu.”

Beberapa pakar juga mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan kalau musibah di Beirut adalah ledakan nuklir.

“Sama sekali tidak terlihat seperti ledakan nuklir,” Jeffrey Lewis, seorang pakar nonproliferasi nuklir di Middlebury Institute of International Studies di Monterey, California, mengatakan kepada AFP lewat sambungan telepon.

“Jika ledakan nuklir, akan ada kilatan cahaya terang, namun kenyataannya tidak ada,” dan “umumnya, ledakan nuklir sangat sangat sangat jauh dari ini,” katanya.

Lewis juga menunjukkan bahwa awan berwarna coklat kemerahan yang menjulang di udara setelah ledakan itu adalah ciri “tipikal amonium nitrat.”

“Tidak ada di situ yang terlihat seperti ledakan nuklir, dan banyak hal di situ yang terlihat seperti ledakan amonium nitrat.”

Perdana Menteri Diab sebelumya mengatakan bahwa 2.750 ton pupuk kimia amonium nitrat yang telah disimpan selama bertahun-tahun sebuah gudang di pelabuhan Beirut meledak, seperti dilansir AFP pada tanggal 6 Agustus 2020. 

Vipin Narang, seorang profesor rekanan (associate professor) ilmu politik di MIT yang memiliki spesialisasi di bidang senjata dan proliferasi nuklir, sependapat dengan Lewis.

“Ini adalah ledakan yang kuat, dan hal ini merupakan tragedi bagi warga Beirut. Namun ini bukan nuklir,” Narang mengatakan kepada AFP melalui email.

Ada “kilatan ganda. Kilatan ganda adalah ciri khusus ledakan nuklir: kilatan cahaya yang kuat yang meredup saat gelombang kejut menutupi bola api, namun menjadi terang saat gelombang kejut menghilang,” katanya.

Hal lainnya adalah “awan jamur nuklir tidak berwarna merah”, seperti halnya awan yang terlihat di Beirut, tambah Narang. 

BEIRUT EXPLOSION