Ini video pemukulan di Thailand, bukan 'Cina komunis menghajar pribumi'

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Sebuah video telah ditonton puluhan ribu kali selepas beredar di media sosial dengan klaim video itu menunjukkan "Cina komunis menghajar seorang pribumi". Klaim tersebut salah. Aslinya, rekaman tersebut menunjukkan seorang pria Thailand yang dianiaya atasannya, seorang rentenir, pada bulan Januari 2020, karena perselisihan mengenai uang.

Peringatan: rekaman kekerasan

"Rekaman sadis yang bocor ke publik. Cino komunis menghajar pribumi, apa sebabnya masih dalam penyelidikan," tulis status unggahan Facebook bertanggal 20 September 2022.

"Apakah kita tetap masa bodoh melihat kebengisan singkek komun!5 tsb, sing penting iso mangan wareg, dgn prinsip mangan ora jaluk kowe. Tdk lama lagi generasi kita jadi jongos2 mereka. Daerah dimana kejadian, pelaku pemukulan sadis ini harus diusut tuntas & di hukum berat, ini lebih kejam dari binatang.. Komun!5 PK!.."

Video yang berdurasi semenit lebih itu menunjukkan seorang pria ditendang, ditinju dan diseret oleh seorang pria lainnya. Sekelompok orang terlihat duduk di dalam ruangan yang sama menonton penganiayaan itu.

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 29 September 2022

Video tersebut muncul pula dengan klaim serupa di berbagai unggahan Facebook lainnya, seperti ini, ini dan ini.

Rekaman itu ditonton lebih dari 92.000 kali setelah dicuitkan di Twitter, yang mengklaim pemukulan itu terjadi di Sulawesi, yang terkenal sebagai lokasi industri nikel dengan investasi Tiongkok.

Akan tetapi, klaim tersebut salah.

'Gang rentenir'

Pencarian gambar terbalik di Google diikuti pencarian kata kunci menemukan bagian video itu sebelumnya muncul dalam laporan berita yang diunggah di kanal YouTube milik stasiun TV Thailand Channel 3 pada tanggal 3 Desember 2020.

"Pria mengaku terlibat dalam kelompok rentenir, dianiaya dan harus dirawat selama 3 hari karena tidak berhasil menagih uang dari klien," bunyi judul berita tersebut.

Dilansir Channel 3, korban dianiaya pada bulan Januari 2020 di Provinsi Nonthaburi, di bagian tengah Thailand, menyusul sengketa uang dengan bosnya.

Berikut perbandingan gambar antara video di unggahan sesat (kiri) dan rekaman berita Channel 3 (kanan):

Perbandingan gambar antara video di unggahan sesat (kiri) dan rekaman berita Channel 3 (kanan)

Pemukulan tersebut dilaporkan sejumlah media Thailand, seperti di sini dan di sini.

Jurnalis AFP di Bangkok menonton rekaman penganiayaan itu dan memastikan orang-orang dalam video tersebut berbicara dalam bahasa Thailand.

Laporan Channel 3 tidak menyebutkan identitas korban, namun menambahkan bahwa korban tidak melapor ke polisi karena takut.

Seorang juru bicara kepolisian Thailand mengonfirmasi kepada AFP pada tanggal 9 September 2022 bahwa aparat keamanan mulai menyidik kasus tersebut setelah video tersebut viral.

Kolonel Polisi Witthaya Bowonsikharin, yang bertugas memimpin investigasi kasus itu, mengatakan bahwa korban adalah warga negara Thailand dan polisi sudah menjadikan penganiyaan itu sebagai kasus pidana.

"Pria yang dianiaya secara fisik itu mendapat uang hasil tagihan dari seorang klien, namun ia tidak menyerahkannya kepada perusahaan. Karena itu dia dipukul atasannya," ujar Witthaya.

Video tersebut sebelumnya menyebar dalam sejumlah unggahan berbahasa Mandarin dengan klaim salah tentang pria dari Tiongkok yang menjadi korban modus penipuan kerja di Myanmar.

AFP sebelumnya telah membongkar sejumlah misinformasi anti-Tiongkok di Indonesia, seperti ini, ini, ini dan ini.