Klaim tak terverifikasi bahwa Omicron XBB 'lebih mematikan dari varian Delta' beredar di Facebook

Hak cipta AFP 2017-2022. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Postingan menyesatkan yang dibagikan secara luas oleh pengguna Facebook di Indonesia dan berbagai negara lainnya memperingatkan bahwa subvarian Covid-19 Omicron XBB "lima kali lebih beracun" dan "lebih mematikan" dari varian Delta. Postingan itu beredar tak lama setelah Singapura melaporkan peningkatan kasus Covid-19 pada Oktober 2022, terutama disebabkan oleh subvarian Omicron XBB. Pakar kesehatan mengatakan kepada AFP bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan XBB "lima kali lebih kuat" daripada Delta, namun mengingatkan Omicron tetap dianggap sebagai "varian yang mengkhawatirkan" oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Postingan menyesatkan itu diunggah di Facebook di sini pada tanggal 2 November 2022.

"Berita Singapura! / Semua orang diwajibkan memakai masker karena virus corona varian baru COVID-Omicron XBB berbeda, mematikan dan tidak mudah terdeteksi dengan baik:-

"Gejala virus novel COVID-Omicron XBB adalah sebagai berikut:- 1. Tidak batuk. 2. Tidak ada demam.

"Hanya akan ada banyak:- 3. Nyeri sendi. 4. Sakit kepala. 5. Sakit leher. 6. Sakit punggung bagian atas. 7. Pneumonia. 8. Umumnya tidak nafsu makan.

"Tentu saja, COVID-Omicron XBB 5 kali lebih beracun daripada varian Delta dan memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada Delta.

"Dibutuhkan waktu yang lebih singkat untuk kondisi mencapai tingkat keparahan yang ekstrim, dan kadang-kadang tidak ada gejala yang jelas. / Mari lebih berhati-hati!"

Tangkapan layar unggahan menyesatkan, diambil pada tanggal 24 November 2022

Pada bulan Oktober 2022, Singapura melaporkan peningkatan kasus Covid-19 terutama karena penyebaran subvarian Omicron XBB.

"Di Singapura, XBB sekarang menjadi subvarian dominan yang beredar di masyarakat, mencakup 54% dari kasus lokal selama seminggu dari tanggal 3 hingga 9 Oktober, meningkat dari 22% dari minggu sebelumnya," kata Kementerian Kesehatan Singapura dalam sebuah pernyataan pada tanggal 15 Oktober 2022.

Klaim yang sama juga dibagikan di postingan Facebook lainnya, misalnya ini, ini, ini, ini, ini dan ini.

Klaim itu juga disebarkan dalam bahasa Inggris oleh pengguna Facebook di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Myanmar, India dan Amerika Serikat.

Postingan serupa beredar tak hanya dalam bahasa Mandarin dan bahasa Korea, tapi juga dalam bahasa Malaysia, yang mengklaim Omicron XBB "5 kali lebih kuat" dan lebih mematikan daripada varian Delta..

'Informasi menyesatkan'

Dr Thira Woratanarat, lektor kepala ilmu kedokteran pencegahan di Universitas Chulalongkorn di Thailand, mengatakan bahwa postingan tersebut membagikan "informasi yang menyesatkan".

"Menurut pengetahuan saat ini, kami biasanya membandingkan keuntungan perkembangan varian yang muncul dengan varian telah ada, dan beberapa parameter diperhitungkan seperti penularan, risiko infeksi ulang, dan penghindaran kekebalan. Sulit mengatakan bahwa yang satu ini lebih kuat daripada yang sebelumnya karena istilah 'kuat' atau 'beracun' tidak memiliki arti khusus," katanya kepada AFP pada tanggal 4 November 2022.

Dia juga mengatakan bahwa negara-negara dengan proporsi infeksi XBB yang tinggi seperti Singapura dan India belum menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tingkat keparahan ataupun kematian dari subvarian Omicron sebelumnya.

Ian Jones, profesor virologi di Universitas Reading di Inggris, merujuk AFP pada pernyataan WHO tanggal 27 Oktober 2022 ini -- khususnya bagian berikut: "Kedua turunan itu tetap menjadi bagian dari Omicron, yang terus menjadi varian yang mengkhawatirkan".

Turunan kedua yang dimaksud adalah subvarian Omicron BQ.1.

"Setiap bentuk baru SARS-CoV-2 beredar karena lebih mudah menular tapi hal itu tidak sama dengan tingkat keparahannya, dan pengamatan yang paling umum adalah bahwa lebih mudah menular dikaitkan dengan penyakit yang lebih rendah," katanya kepada AFP pada tanggal 4 November 2022.

Ketika ditanya tentang keparahan gejala seperti disebut dalam unggahan menyesatkan, Jones mengatakan: "Gejala infeksi tetap mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas lainnya, dan vaksinasi tetap merupakan cara yang paling pasti untuk mengurangi risiko apa pun."

'Terlalu dini'

Kedua pakar secara terpisah mengatakan kepada AFP bahwa masih "terlalu dini" bagi penelitian yang telah melalui penilaian sejawat, atau peer-review, untuk diterbitkan mengenai topik subvarian Omicron ini.

Namun, Jones menunjuk artikel pracetak ini, yang mengatakan XBB lebih berpotensi untuk mengelak imunitas dibandingan dengan BQ.1 dan induknya BA.5.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh The Conversation, XBB diperkirakan memiliki resiko keparahan lebih kecil dibandingkan BA.5, berdasarkan data yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Singapura.

"Tapi kami belum memiliki data untuk mendukung ini dari negara lain, jadi hal ini mungkin dapat berubah seiring makin meluasnya XBB," kata artikel itu.

Thira merujuk pada penelitian ini, yang mengamati gejala spesifik varian Covid-19.

"Omicron terkait dengan sedikit laporan tentang kehilangan atau perubahan penciuman dan pengecapan, dan banyak laporan tentang gejala yang mirip dengan demam atau flu," demikian bunyi salah satu kalimat dalam artikel itu.

Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) telah berulangkali membantah klaim menyesatkan tentang Omicron XBB.

Dalam sebuah pernyataan pada tanggal 11 Oktober 2022, dikatakan bahwa "tidak ada ... bukti XBB menyebabkan penyakit yang lebih parah. Sejauh ini, sebagian besar pasien terus melaporkan gejala ringan seperti sakit tenggorokan atau demam ringan, terutama jika mereka telah divaksin."

"MOH juga tidak melihat adanya peningkatan kematian akibat COVID-19 selama sebulan terakhir," demikian pernyataan MOH pada tanggal 14 Oktober 2022.

Kementerian Kesehatan Malaysia juga telah membantah klaim di unggahan menyesatkan itu dalam akun Twitternya pada tanggal 1 November 2022.

Cuitan berbahasa Malaysia itu jika diterjemahkan artinya: "Kementerian Kesehatan Malaysia (KKM) menganggap serius penyebaran informasi palsu yang telah viral di media sosial baru-baru ini mengenai 'COVID-19 OMICRON XBB' yang dapat menyebabkan penyesatan fakta tanpa bukti ilmiah yang dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab."

COVID-19