
Ini video bombardir AS di Baghdad di tahun 2003, bukan 'serangan Hamas ke Israel di tahun 2023'
- Artikel ini berusia lebih dari setahun.
- Diterbitkan pada hari 20/10/2023 pukul 11:16
- Diperbarui pada hari 20/10/2023 pukul 13:59
- Waktu baca 4 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Hak Cipta © AFP 2017-2025. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
"Serangan 5000 Roket Hamas (Palestina) ke Israel," tulis teks yang tercantum pada sebuah video yang diunggah di TikTok pada tanggal 9 Oktober 2023.
Video sepanjang satu menit itu, yang menampilkan berbagai ledakan yang terjadi di malam hari, telah ditonton lebih dari 7,1 juta kali.
Video tersebut juga menggunakan lagu "We Will Not Go Down (Song for Gaza)", yang dinyanyikan musisi Suriah-Amerika Michael Heart (tautan arsip).

Video diunggah beberapa hari setelah kelompok militan Hamas melancarkan serangan mendadak pada tanggal 7 Oktober 2023, di mana mereka menerobos perbatasan di Israel bagian selatan dan menyebabkan korban jiwa 1.400 orang, kebanyakan warga sipil, menurut pejabat Israel.
Hamas mengatakan mereka meluncurkan 5.000 roket dalam serangan fajar tersebut -- serangan atas Israel yang paling mematikan sejak negara itu berdiri di tahun 1948.
Israel kemudian merespons dengan melakukan serangan udara dan darat ke Gaza. Menurut kementerian kesehatan di kantong wilayah Palestina yang padat itu, lebih dari 3.785 orang telah terbunuh dalam pengeboman, dan menurut PBB, lebih dari sejuta orang telah kehilangan tempat tinggal.
Video serupa telah ditonton lebih dari 90.000 kali selepas beredar dengan klaim serupa di postingan TikTok ini, ini dan ini, serta Instagram ini.
Namun, video itu tidak berkaitan denga konflik Israel-Palestina. Video menunjukkan serangan pengeboman AS ke Irak 20 tahun lalu, yang disiarkan secara masif oleh berbagai media global saat itu.
Serangan AS ke Irak
Pencarian gambar terbalik di Google membawa AFP ke satu video mirip yang dipublikasikan media Turki OdaTV pada Oktober 2022 (tautan arsip).
Video tersebut diunggah di sebuah artikel tentang kebijakan AS terhadap perang di Ukraina yang punya kesamaan dengan perang di Irak dua dekade silam.
Klip di OdaTV ini punya banyak kemiripan dengan video di unggahan TikTok yang salah.
Berikut perbandingan tangkapan layar video di unggahan salah (kiri) dan video dari OdaTV (kanan), yang menunjukkan momen serupa:

Unggahan gambar media sosial di artikel OdaTV merujuk pada serangan AS ke Baghdad pada 2003 sebagai "Operasi Shock and Awe".
Frasa ini diungkapkan oleh Washington untuk menggambarkan operasi pengeboman yang membuat langit memerah dan menghancurkan wilayah Irak saat AS dan sekutunya melancarkan invasi.
Rekaman serangan pada 2003 itu disiarkan secara luas oleh media global.
Pencarian di YouTube menggunakan kata kunci "Operation Shock and Awe" menghasilkan temuan sebuah video yang dipublikasikan kanal YouTube milik ITN, saluran televisi Inggris, dan menunjukkan pengeboman Baghdad pada 21 Maret 2003 (tautan arsip).
Momen di detik ke-30 pada video sesat menunjukkan sebuah gedung sedang dibombardir. Gedung itu juga muncul di video ITN pada menit 1:25. Reporter ITN mengatakan bahwa gedung tersebut adalah istana kepresidenan mantan pemimpin Irak Saddam Husein yang digulingkan dalam invasi AS. Momen ini juga bisa dilihat di video OdaTV.
Berikut adalah perbandingan tangkapan layar video di unggahan sesat (kiri) dan laporan ITN (kanan):

CNN juga menyiarkan pengeboman ini (tautan arsip).
Berikut perbandingan tangkapan layar video di unggahan sesat (kiri) dan video CNN (kanan):

Gedung-gedung lain yang terlihat di video ITN, CNN, dan OdaTV cocok dengan yang ada di video sesat. Pada detik ke-30 di video ITN, ledakan besar terjadi di sebuah bangunan tinggi dengan jam di puncaknya. Bangunan ini bisa dilihat di detik ke-56 di video sesat.
Itu adalah bangunan khas di ibu kota Irak, yakni Jam Baghdad, dan bisa ditemukan dengan mudah di Google Maps (tautan arsip).
Berikut perbandingan tangkapan layar yang menampilkan jam tersebut di video sesat (kiri) dan foto di Google Maps (kanan):

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami