Foto istri Nicolás Maduro di pengadilan AS ini hasil buatan AI
- Diterbitkan pada hari 26/01/2026 pukul 10:29
- Waktu baca 4 menit
- Oleh: Paula CABESCU, AFP Rumania, AFP Nigeria
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Setelah ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat (AS), pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke New York untuk menjalani persidangan atas sejumlah tuduhan termasuk perdagangan narkoba. Bersamaan dengan itu, beredar foto hasil kecerdasan buatan (AI) yang diklaim memperlihatkan Flores dengan wajah lebam dan dibalut perban. Faktanya, meskipun Flores memang tampil di pengadilan dengan perban di wajah, namun sketsa, foto dan video media menunjukkan ia mengenakan pakaian dan memiliki warna rambut yang berbeda.
"Wanita dalam foto ini adalah Cilia Flores, istri Presiden Venezuela, yang dibawa ke pengadilan dengan cara ini oleh pihak berwenang AS dan pembela hak asasi manusia. Mereka yang meminta AS untuk melindungi hak-hak perempuan harus mengingat gambar ini. Jika hal yang sama terjadi pada istri Donald Trump, aktivis hak asasi manusia akan bereaksi kuat di seluruh dunia..," tulis keterangan foto yang diunggah di Facebook pada tanggal 8 Januari 2026.
Foto tersebut menunjukkan seorang wanita yang duduk di belakang sebuah mikrofon. Ia terlihat mengenakan kacamata, jaket gelap di atas baju atasan berwarna merah. Terdapat perban putih di dahinya dan memar di pipi kirinya.
Teks di atas foto tersebut berbunyi: "Cilia Flores. Tampak Istri Presiden Venezuela yang dibawa ke pengadilan dengan tanda bercak merah di mata."
Postingan serupa juga menyebar dalam bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Bulgaria, Yunani, Thailand dan Hindi.
Postingan ini dibagikan beberapa hari setelah pasukan AS menangkap Maduro beserta Flores di ibu kota Venezuela, Caracas, pada tanggal 3 Januari 2026 (tautan arsip). Mereka berdua diterbangkan ke New York untuk menghadapi persidangan atas tuduhan perdagangan narkoba serta dakwaan lainnya. Presiden AS Donald Trump kemudian mengklaim bahwa Washington kini memegang kendali atas Venezuela (tautan arsip).
Maduro dan Flores pertama kali hadir di persidangan pada 5 Januari, dan mereka berdua menyatakan tidak bersalah atas semua dakwaan yang ditujukan kepada mereka (tautan arsip di sini dan sini). Keduanya masih ditahan sambil menunggu persidangan berikutnya yang dijadwalkan pada 17 Maret 2026.
Namun, gambar yang beredar di internet itu tidak mirip dengan foto-foto Flores yang sudah diverifikasi oleh AFP. Perlu dicatat juga bahwa pemotretan tidak diizinkan di ruang sidang selama persidangan pada 5 Januari.
Hanya sketsa
Akses media dalam ruang sidang dibatasi, dan hanya beberapa sketsa kedua pasangan saat berada di ruang sidang yang dibagikan dan didistribusikan kepada kantor-kantor berita, termasuk AFP (tautan arsip).
Di dalam sketsa tersebut, Maduro dan Flores tampak mengenakan seragam penjara berwarna biru dan oranye. Keduanya juga digambarkan memakai perangkat audio untuk penerjemahan selama persidangan. Detail ini tidak tampak pada foto yang viral itu.
Hal penting lainnya adalah Flores tampak berambut pirang, bukan rambut cokelat tua panjang seperti yang terlihat dalam foto yang viral. Laporan AFP juga menggambarkan Flores dengan "rambut pirang yang diikat" saat persidangan berlangsung. Ia juga tidak mengenakan kacamata, seperti yang tampak pada foto di postingan salah.
Beberapa media melaporkan bahwa Flores menggunakan perban di dahi dan area dekat matanya karena luka yang terjadi saat penangkapannya (tautan arsip di sini dan sini).
Sketsa lebih dekat juga menunjukkan beberapa perban yang tampak di wajah Flores, serupa dengan sebuah sketsa lain dari seniman berbeda yang dirilis oleh kantor berita Associated Press (AP) (tautan arsip).
Walaupun belum ada foto resmi dari dalam ruang sidang, namun beberapa media telah mengunggah beberapa foto saat Maduro dan Flores dibawa ke pengadilan, di antaranya beberapa foto dari Getty Images (tautan arsip di sini dan sini).
Foto-foto tersebut menunjukkan Flores dengan rambut pirang yang diikat ke belakang dengan beberapa tanda memar di dahinya.
Selain itu, arsip foto Flores di jaringan AFP juga menunjukkan ia berambut pirang dan wajahnya tidak sama dengan foto wanita di postingan yang viral. Berikut contoh foto AFP yang menunjukkan pasangan tersebut pada Januari 2025.
Bukti lain bahwa gambar tersebut tidak asli adalah tidak ada media kredibel yang mempublikasikannya. Mengingat pentingnya peristiwa ini, juga sorotan media internasional yang intens, foto ruang sidang yang autentik pasti akan dimuat oleh organisasi berita besar.
Tanda-tanda AI
Pencarian gambar terbalik di Google menemukan bahwa foto tersebut pertama kali muncul setelah dibagikan oleh postingan Facebook berbahasa Turki pada 6 Januari, sehari setelah persidangan pertama dilaksanakan.
Tidak ada sumber yang dicantumkan di dalam keterangan foto tersebut. Ini adalah bukti lain bahwa foto tersebut tidak berasal dari persidangan. AFP menghubungi pemilik akun yang mengunggah foto itu, tetapi hingga kini belum mendapat jawaban.
Gambar tersebut juga mengandung beberapa kejanggalan visual. Misalnya, wanita pada foto tampak mengenakan anting yang tidak serasi, dan perban di dahinya ditempatkan secara tidak realistis, yakni menutupi bagian rambutnya dan bukan berada di atas luka.
AFP juga menganalisa gambar itu menggunakan beberapa alat pendeteksi gambar AI dan mendapatkan hasil yang beragam. Penting untuk dicatat bahwa alat-alat tersebut tidak selalu menghasilkan temuan yang pasti.
Analisa gambar dari InVID-WeVerify, sebuah alat pendeteksi yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan AFP, menemukan hasil yang tidak konklusif.
Sementara itu, alat pendeteksi AI, Hive Moderation, menemukan bahwa 99,7% foto itu kemungkinan "mengandung konten hasil AI atau deepfake".
Organisasi-organisasi pemeriksa fakta lainnya; misalnya bisa dilihat di sini, sini, dan sini, juga menyimpulkan bahwa foto wanita berambut coklat gelap itu tidak asli dan dibuat dengan menggunakan AI.
Sebelumnya, AFP telah menyanggah sejumlah misinformasi lain terkait peristiwa di Venezuela di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami