Video aksi protes diklaim salah sebagai 'perayaan berakhirnya kewajiban berhijab di Iran'
- Diterbitkan pada hari 26/01/2026 pukul 05:24
- Waktu baca 2 menit
- Oleh: AFP Indonesia
Di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran, beredar video seorang wanita menari lalu melemparkan jilbabnya ke api unggun dan diklaim sebagai rekaman perayaan berakhirnya kewajiban menggunakan hijab di negara tersebut. Meski para analis dan aktivis mengatakan telah terjadi kelonggaran terhadap penegakan hukum kewajiban berhijab beberapa tahun terakhir, namun hingga kini Iran belum mencabut aturan tersebut. Dan faktanya, video itu diambil tahun 2022 saat terjadi protes atas kematian seorang perempuan setelah ditahan polisi karena tidak mengenakan hijab dengan benar.
"Ya Allah lepas aja tidak apa-apa tapi jangan dibakar - semoga kalian yang memakai hijab masih bisa menjaga," tulis keterangan video yang diunggah di Instagram pada tanggal 11 Januari 2026.
"Iran telah mengakhiri kewajiban hukum untuk mengenakan hijab! Para wanita merayakannya di jalanan, membakar hijab sebagai bentuk kegembiraan," lanjut keterangan postingan.
Video yang telah ditonton lebih dari 1.000 kali itu memperlihatkan seorang wanita berbaju putih menari berputar di dekat api unggun lalu melemparkan sehelai kain ke dalam api. Beberapa wanita lain juga ikut melemparkan kain yang tampak seperti hijab ke api unggun yang dikelilingi kerumunan penonton yang bertepuk tangan.
Teks berbahasa Inggris pada video artinya: "Berita besar: Iran telah mengakhiri kewajiban hukum mengenakan hijab! Para perempuan merayakannya di jalan, membakar hijab dengan sukacita."
Rekaman yang sama juga beredar di Instagram, Facebook dan TikTok.
Postingan-postingan ini beredar di tengah demonstrasi besar-besaran di Iran yang terjadi sejak akhir Desember (tautan arsip). Protes yang semula dilakukan untuk mengkritisi kenaikan biaya hidup tersebut dengan cepat berubah menjadi gerakan untuk menggulingkan rezim teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.
Pada 21 Januari, pihak berwenang Iran mengatakan bahwa 3.117 orang tewas selama aksi protes; para aktivis mengatakan jumlah korban bisa jauh lebih tinggi karena terjadi tindakan kekerasan aparat yang dilakukan terhadap para demonstran.
Mahmood Amiry-Moghaddam, direktur Iran Human Rights, sebuah lembaga HAM yang berbasis di Norwegia, memperingatkan bahwa "jumlah korban tewas yang sesungguhnya bisa mencapai 25.000 orang" jika pola-pola seperti pencatatan yang tidak lengkap diperhitungkan.
Namun, video yang beredar di media sosial tersebut tidak menunjukkan orang-orang merayakan berakhirnya kewajiban berhijab di Iran.
Sebelum gelombang protes terjadi, para analis dan aktivis mengatakan otoritas Iran tampakya telah melonggarkan penerapan kewajiban berhijab dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak berarti pilar ideologis republik Islam tersebut sudah dihapuskan (tautan arsip). Mereka juga memperingatkan bahwa penegakan kembali aturan ini bisa terjadi kapan saja.
Tapi tidak ada laporan resmi bahwa aturan ini telah dihapus.
Pencarian gambar terbalik di Google menggunakan potongan video yang beredar menemukan bahwa video tersebut pernah diunggah dalam laporan Voice of America (VoA) pada tanggal 23 September 2022 (tautan arsip).
"Seorang wanita melempar jilbabnya ke dalam api di sebuah jalan di Sari, Iran. Aksi protes meningkat menyusul kematian seorang wanita muda yang ditangkap oleh polisi moral yang bertugas menegakkan aturan berpakaian bagi wanita," tulis deskripsi video tersebut.
Deskripsi pada video tersebut merujuk pada demonstrasi yang terjadi di Iran setelah kematian Mahsa Amini, seorang wanita Kurdi-Iran berusia 22 tahun yang meninggal dalam tahanan polisi Iran setelah ia ditangkap karena tidak mengenakan hijab dengan benar (tautan arsip).
Kredit pada video VoA tersebut diberikan kepada "Anonim/AFP".
AFP memang pernah memverifikasi dan mengautentikasi video tersebut serta mengunggahnya di internet pada 20 September 2022.
AFP sebelumnya telah menyanggah beberapa misinformasi lain terkait protes di Iran.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami