Video warga Iran menyalakan cahaya ponsel ini hasil AI

Di tengah aksi protes besar-besaran di Iran yang diwarnai pemutusan akses internet oleh pemerintah setempat, sebuah video beredar di media sosial dengan klaim salah bahwa rekaman memperlihatkan massa pawai menerangi jalanan dengan gawai mereka. Faktanya, klip tersebut dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), seperti diakui pembuatnya kepada AFP.

"Di tengah gelombang protes besar di Iran, otoritas dilaporkan memutus akses internet dan jaringan telepon serta mematikan lampu di beberapa jalan untuk membatasi penyebaran informasi dan mengaburkan skala unjuk rasa," tulis keterangan video yang diunggah di TikTok pada tanggal 12 Januari 2026.

"Meski demikian, warga tetap terlihat berjaga di luar ruangan dengan cahaya gawai yang menyala," lanjut keterangan postingan.

Tayangan video seolah-olah memperlihatkan kerumunan massa yang bergerak menyusuri jalanan dengan cahaya lampu gawai mereka diarahkan ke atas. 

Video itu juga beredar dengan klaim yang mirip di Instagram, Facebook, dan TikTok, serta menyebar dalam bahasa Arab, Persia, Spanyol serta Portugis

Image
Tangkapan layar postingan salah, diambil pada 22 Januari 2026, dengan tanda X merah ditambahkan oleh AFP

Demo yang bermula pada Desember 2025 untuk mengkritisi kenaikan biaya hidup, aksi besar-besaran tersebut dengan cepat berubah menjadi gerakan untuk menggulingkan rezim teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi 1979. Untuk menjawab demonstrasi ini, otoritas Iran melakukan pemutusan siaran televisi dan jaringan internet.

Rincian mengenai dampak tindakan keras pemerintah terhadap protes tersebut tidak bisa dilaporkan secara utuh karena pemadaman internet, tetapi Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia menyebut terdapat 4.029 korban meninggal yang telah dikonfirmasi.    

Lembaga HAM Iran yang berpusat di Norwegia mengatakan bahwa verifikasi angka kematian masih sangat terhambat karena pembatasan komunikasi. Namun, pada 19 Januari 2026, mereka menyampaikan bahwa informasi yang tersedia "menunjukkan bahwa jumlah pengunjuk rasa yang tewas mungkin melebihi perkiraan tertinggi dari media," yang mencapai 20.000 orang (tautan arsip).

Sebelumnya, AFP telah membantah sebuah misinformasi lain terkait demonstrasi di Iran.

Video kerumunan massa dengan lampu gawai yang beredar tersebut merupakan salah satu konten misinformasi.

Javier Huertas-Tato, profesor dari Universitas Politeknik Madrid dan anggota kelompok Natural Language Processing and Deep Learning di institusi tersebut, mengatakan kepada AFP melalui email tertanggal 12 Januari bahwa banyak kejanggalan visual pada video tersebut yang mengindikasikan konten AI (tautan arsip).

Ia memberikan contoh adanya bayangan dan tangan yang muncul secara tiba-tiba serta visibilitas cahaya yang buruk yang terpantul di jendela.

Analisis menggunakan InVID-WeVerify, alat yang dikembangkan bersama oleh AFP, juga mendeteksi bukti bahwa video tersebut dibuat menggunakan AI. 

Image
Tangkapan layar hasil analisis InVID-WeVerify, diambil pada 19 Januari 2026

Beberapa postingan yang membagikan video misinformasi tersebut menyertakan tanda air akun Instagram @elnaz555. Akun tersebut dimiliki oleh Elnaz Mansouri, seorang seniman multidisiplin yang rutin menggunakan berbagai alat AI (tautan arsip).

Mansouri mengonfirmasi kepada AFP pada tanggal 13 Januari bahwa ia membuat video itu menggunakan AI. Pada postingan videonya di Instagram dan X, Mansouri menjelaskan bahwa rekaman itu ia buat menggunakan AI sebagai "refleksi" atas realitas yang terjadi setelah pemutusan akses internet di Iran (tautan arsip di sini dan sini).

Teks yang ditempelkan pada video -- "All Eyes on Iran" -- menggemakan slogan kampanye advokasi tahun 2024 yang saat itu dipakai untuk melawan serangan Israel di Rafah di kawasan Jalur Gaza, yang juga diilustrasikan menggunakan gambar-gambar AI.

AFP telah membantah berbagai misinformasi yang melibatkan konten buatan AI di sini

Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?

Hubungi kami