Video menunjukkan prosesi pemakaman petinggi Hizbullah, bukan pemimpin tertinggi Iran
- Diterbitkan pada hari 09/03/2026 pukul 07:11
- Waktu baca 3 menit
- Oleh: AFP Indonesia
- Terjemahan dan adaptasi AFP Indonesia
Sejumlah pelayat berkumpul di Tehran setelah stasiun televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada akhir Februari 2026. Namun, sebuah video di media sosial yang menunjukkan kerumunan orang mengiringi peti jenazah yang diselimuti kain kuning bukan rekaman pemakaman Khamenei. Klip lawas tersebut diambil saat pemakaman jenazah pemimpin Hizbullah di Lebanon pada 2025.
"rakyat Iran berduka setelah kehilangan sosok ayatollah Ali khamenei pimpinan tertinggi di Iran dalam serangan Israel pada tanggal 1 Maret 2026 semalam," tulis keterangan video TikTok yang dibagikan pada 2 Maret 2026.
Video tersebut, yang telah dilihat lebih dari 325.000 kali, menunjukkan kerumunan pelayat yang membawa kereta jenazah beratapkan kaca dengan dua peti jenazah berselimut kain kuning.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi militer negara tersebut tewas dalam rangkaian serangan yang dilancarkan oleh AS-Israel terhadap republik Islam tersebut (tautan arsip).
Konflik telah menyebar ke seantero Timur Tengah di mana pasukan Iran melakukan aksi balasan dengan menyerang Israel dan beberapa negara Teluk, yang menjadi tempat sejumlah fasilitas penting AS berada. Sementara itu, pasukan Israel telah menargetkan sejumlah titik Hizbullah di Lebanon menyusul serangan roket yang dilancarkan oleh kelompok militan yang didukung Tehran tersebut. Hizbullah melancarkan aksinya sebagai balasan atas kematian Khamenei.
Klip dengan narasi serupa juga beredar di Instagram.
Menyusul laporan kematian Khamenei, sejumlah warga Iran tampak bersorak dari beberapa gedung apartemen di Tehran sementara yang lainnya tampak membunyikan klakson dan memutar musik di jalanan (tautan arsip).
Setelah televisi pemerintah mengkonfirmasi laporan tersebut, para pelayat Iran yang mengenakan pakaian hitam turun ke jalan di Lapangan Enghelab, pusat kota Tehran. Sebagian marah, sementara yang lain menangis.
Setelah stasiun televisi pemerintah mengonfirmasi kematian Khamenei, warga Iran yang berkabung turun ke jalan menuju Alun-Alun Enghelab, pusa Kota Tehran, dengan mengenakan pakaian hitam. Di antara mereka ada yang marah dan ada yang menangis.
Namun, video yang beredar tidak menunjukkan pemakaman pemimpin tertinggi Iran.
Jika video diamati lebih dekat, tampak bendera merah putih dengan simbol pohon, yang merupakan bendera nasional Lebanon, terpasang pada kaca dari kereta jenazah tersebut (tautan arsip). Kerumunan pelayat dalam video juga tampak membawa bendera kuning dengan tulisan dan simbol berwarna hijau, yang merupakan bendera kelompok Hizbullah (tautan arsip).
Penelusuran gambar terbalik di Google menggunakan potongan gambar dari video yang beredar menemukan foto-foto dari prosesi pemakaman Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang tewas dalam sebuah serangan Israel pada September 2024 (tautan arsip).
Nasrallah telah memimpin Hizbullah selama lebih dari tiga dekade dan pemakamannya di Beirut dihadiri oleh puluhan ribu pelayat yang mengenakan pakaian hitam.
AFP juga mengambil gambar kereta yang membawa dua peti jenazah berselimut kain kuning tersebut. Selain peti jenazah Nasrallah, kereta itu juga membawa peti jenazah suksesor Nasrallah, Hashem Safieddine, yang juga tewas dalam serangan Israel di waktu yang berbeda.
Iran mengumumkan pada 4 Maret 2026 bahwa prosesi pemakaman kenegaraan untuk Khamenei yang akan digelar di Tehran -- yang awalnya akan dilakasanakan pada malam hari itu -- ditunda "sebagai antisipasi membludaknya jumlah pelayat yang hadir," menurut laporan stasiun televisi pemerintah (tautan arsip).
AFP telah menyanggah misinformasi lain terkait perang di Timur Tengah yang bisa dilihat di sini.
Hak Cipta © AFP 2017-2026. Segala jenis penggunaan konten secara komersial harus melalui langganan. Klik di sini untuk lebih lanjut.
Adakah konten yang Anda ingin AFP periksa faktanya?
Hubungi kami